Kompas.com - 12/10/2020, 11:05 WIB
Ilustrasi makanan kaleng shutterstockIlustrasi makanan kaleng

 

KOMPAS.com - Para peneliti menegaskan, produksi pangan global yang tidak berkelanjutan akan menambah ancaman perubahan iklim dunia.

Dalam beberapa dekade mendatang, diperkirakan bahwa emisi Nitrogen Oksida (N2O) akan terus meningkat sebagai akibat dari meningkatnya permintaan pangan, pakan, serat dan energi, serta peningkatan sumber dari timbunan limbah dan proses industri.

Berdasarkan sebuah penelitian tentang perubahan iklim yang diterbitkan oleh Natures telah menemukan, bahwa meningkatnya emisi N2O ini dianggap dapat membahayakan target Perjanjian Paris tentang perubahan iklim.

Baca juga: Hadapi Perubahan Iklim, Bunga di Seluruh Dunia Alami Perubahan Warna

Penelitian itu dilakukan bersama-sama dengan konsorsium ilmuwan internasional dari 48 negara penelitian di 14 negara ,di bawah payung Proyek Karbon Global dan Inisiatif Nitrogen Internasional, di mana pemimpin penelitian tersebut adalah peneliti dari Universitas Auburn, Profesor Hanqin Tian.

Studi yang berjudul A Comprehensive Quantification of Global Nitrous Oxide Sources and Sinks (sebuah perhitungan komprehensif bersumber dan penyerapan N2O global) bertujuan menghasilkan perhitungan paling komprehensif hingga saat ini, dari semua sumber dan penyerap gas rumah kaca yang potensial.

"Ada konflik antara cara kita memberi makan dan menstabilkan iklim," kata Tian.

Sektor pangan meningkatkan N2O

Dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Tian mengatakan bahwa meningkatnya penggunaan pupuk nitrogen dalam produksi makanan di seluruh dunia, dapat meningkatkan konsentrasi N2O di atmosfer- gas rumah kaca 300 kali lebih kuat daripada Karbon Dioksida (CO2) yang berada di atmosfer lebih lama daripada umur manusia.

Untuk diketahui, penggunaan pupuk organik di Indonesia masih sangat rendah di tahun 2019 yaitu sekitar 700 ribu ton, dibandingkan dengan penggunaan pupuk nitrogen sintesis yaitu 10 juta ton.

Emisi N2O telah meniingkat 20 persen dari tingkat pra-industri dan pertumbuhannya telah dipercepat selama beberapa dekade terakhir, karena emisi dari berbagai aktivitas manusia.

Pertanian adalah penyebab utama peningkatan ini, yang mana menyumbang hampir 70 persen emisi antara tahun 2007-2016.

Setiap tahun lebih dari 100 juta ton nitrogen disebarkan di lahan pertanian di seluruh dunia sebagai pupuk sintesis, dan 100 juta lainnya jatuh ke padang rumput dalam kotoran ternak.

Baca juga: Lemming, Tikus Lucu Penghuni Arktik yang Jadi Bukti Perubahan Iklim

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kebijakan Lepas Masker, Bagaimana Risiko Penularan Covid-19 di Luar Ruangan?

Kebijakan Lepas Masker, Bagaimana Risiko Penularan Covid-19 di Luar Ruangan?

Kita
Sampel Dugaan Hepatitis Akut Misterius Akan Diperiksa dengan WGS, Ini Kata Kemenkes

Sampel Dugaan Hepatitis Akut Misterius Akan Diperiksa dengan WGS, Ini Kata Kemenkes

Kita
Mengenal Preeklamsia, Hipertensi di Masa Kehamilan

Mengenal Preeklamsia, Hipertensi di Masa Kehamilan

Oh Begitu
Tak Bisa Sembuh, Kenali Gejala Penyakit Lupus dan Hal yang Harus Dihindari

Tak Bisa Sembuh, Kenali Gejala Penyakit Lupus dan Hal yang Harus Dihindari

Oh Begitu
Dugaan Hepatitis Akut Misterius di Indonesia Jadi 14 Kasus, Ini Laporan Kemenkes

Dugaan Hepatitis Akut Misterius di Indonesia Jadi 14 Kasus, Ini Laporan Kemenkes

Kita
4 Kebiasaan Bikin Miss V Berbau Tidak Sedap, Salah Satunya Jarang Mandi

4 Kebiasaan Bikin Miss V Berbau Tidak Sedap, Salah Satunya Jarang Mandi

Oh Begitu
Cara Mencegah Hipertensi Sejak Dini Menurut Dokter

Cara Mencegah Hipertensi Sejak Dini Menurut Dokter

Kita
Anak Asma Berhak Mendapatkan Pengobatan yang Adekuat

Anak Asma Berhak Mendapatkan Pengobatan yang Adekuat

Oh Begitu
6 Penyebab Beruntusan Susah Hilang

6 Penyebab Beruntusan Susah Hilang

Kita
Cara Mencegah Terjadinya Komplikasi pada Pasien Hipertensi

Cara Mencegah Terjadinya Komplikasi pada Pasien Hipertensi

Oh Begitu
Jumlah Spesies Burung Terancam Punah di Indonesia Terbanyak di Dunia

Jumlah Spesies Burung Terancam Punah di Indonesia Terbanyak di Dunia

Fenomena
Wisatawan Tewas Tersambar Petir di Bogor, Bagaimana Manusia Bisa Tersambar Petir?

Wisatawan Tewas Tersambar Petir di Bogor, Bagaimana Manusia Bisa Tersambar Petir?

Oh Begitu
Bagaimana Hipertensi Dapat Menyebabkan Kerusakan Organ?

Bagaimana Hipertensi Dapat Menyebabkan Kerusakan Organ?

Oh Begitu
Jokowi Bolehkan Lepas Masker di Luar Ruangan, Epidemiolog: Sebaiknya Jangan Terburu-buru

Jokowi Bolehkan Lepas Masker di Luar Ruangan, Epidemiolog: Sebaiknya Jangan Terburu-buru

Kita
[POPULER SAINS] Pantau Suhu Maksimum Cuaca Panas di Indonesia | Letusan Gunung Tonga Ledakan Terbesar | Makan Nanas Bikin Mulut Gatal

[POPULER SAINS] Pantau Suhu Maksimum Cuaca Panas di Indonesia | Letusan Gunung Tonga Ledakan Terbesar | Makan Nanas Bikin Mulut Gatal

Oh Begitu
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.