Kasus Utang Ibu Kombes, Psikolog Sarankan 5 Strategi Sebelum Pinjamkan Uang

Kompas.com - 09/10/2020, 21:06 WIB
Febi Nur Amelia (gamis dan kerudung putih) bersama sahabatnya menunggu persidangannya di PN Medan, Rabu (7/10/2020) malam KOMPAS.COM/MEI LEANDHA ROSYANTIFebi Nur Amelia (gamis dan kerudung putih) bersama sahabatnya menunggu persidangannya di PN Medan, Rabu (7/10/2020) malam

KOMPAS.com - Demi menagih utang yang tak kunjung dibayarkan, Febi Nur Amelia (29) mengunggah status di Instagram Storynya yang ditujukan pada seseorang yang disebutnya " Ibu Kombes", Fitriani Manurung untuk segera membayar utang.

"SEKETIKA TERINGAT SAMA IBU KOMBES YG BELUM BAYAR HUTANG 70 JUTA TOLONG BGT DONK IBU DIBAYAR HUTANGNYA YG SUDAH BERTAHUN-TAHUN @FITRI_BAKHTIAR ."

"AKU SIH Y ORANGNYA GK RIBET KLO LAH MMNG PUNYA HUTANG INI ORANG SUSAH BGT PASTINYA AKU IKHLASKAN TAPI BERHUBUNG BELIAU INI KAYA RAYA JADI HARUS DIMINTA DONK BERDOSA JUGA KLO HUTANG GK DIBAYAR KAN @FITRI_BAKHTIAR."

"Nah ini Yg punya Hutang 70 Juta Ini foto diambil sewaktu Dibandarjakarta Horor klo ingat yg beginian Mati nanti bakal ditanya lho soal hutang piutang."

Baca juga: Cerita Febi Tagih Utang Rp 70 Juta ke Ibu Kombes, Dilaporkan ke Polisi hingga Pingsan di Pengadilan

Tampaknya ini adalah puncak kekesalan Febi yang melihat Ibu Kombes tak memiliki itikad baik untk membayar utangnya.

Seperti yang telah diberitakan Kompas.com sebelumnya, warga Kompleks Menteng Indah, Medan, Sumatera Utara (Sumut) ini mengaku kesulitan menghubungi Ibu Kombes, sehingga ia memutuskan untuk menagih utang lewat media sosial.

Febi mengatakan, alasannya posting di media sosial, karena merasa aksesnya untuk menghubungi dan berkomunikasi dengan Ibu Kombes sudah tertutup, termasuk nomor WhatsApp-nya yang diblokir oleh Ibu Kombes, saat Febi menagih utang.

Ia hanya ingin Ibu Kombes membaca dan membayar utangnya. Sayangnya, Ibu Kombes justru melaporkan Febi dengan tuduhan pencemaran nama baik melalui media sosial.

Ia bahkan membantah dirinya mengenal dan memiliki utang pada Febi.

Padahal, jumlah utang Ibu Kombes sebanyak Rp 70 juta. Permintaan peminjaman uang dilakukan secara lisan dan uang ditransfer ke rekening suami Ibu Kombes pada Desember 2016.

Baca juga: Bersikukuh Tak Miliki Utang ke Febi, Ibu Kombes: Saya Rasakan Ini Tidak Adil

 

Ilustrasi uangKOMPAS.com/NURWAHIDAH Ilustrasi uang

Strategi meminjamkan uang

Dari kasus tersebut, Praktisi Psikologi, Hening Widyastuti menduga adanya ketidakmampuan kontrol diri dan manajemen diri yang baik dari pihak yang berutang.

Selain itu, kebiasaan gaya hidup mewah juga cenderung membuat orang melakukan apa saja, termasuk berutang.

“Kalau memang memiliki kemampuan manajemen diri yang baik, dia pasti mampu memisahkan antara emosi, rasa, dan logika. Mampu memilah apa yang menjadi prioritasnya. Jadi, enggak akan berutang puluhan juta segampang itu ke orang lain,” ujar Hening.

Untuk menghindari hal yang tak diinginkan, Hening menyarankan untuk melakukan tiga strategi sebelum memutuskan meminjamkan uang ke orang lain.

1. Tidak memaksakan diri

Hening menyarankan untuk memastikan kondisi keuangan pribadi lebih dulu. Apakah mungkin meminjamkan sejumlah uang yang diminta? Apakah jika meminjamkan uang akan mempengaruhi keuangan pribadi atau keluarga?

“Ketika ada seseorang yang meminjam uang pada kita, kan bukan berarti uang kita berlimpah. Jadi harus diukur juga kemampuan kita meminjamkan uang. Jangan sampai malah kita yang kekurangan,” jelas Hening.

2. Tanyakan alasannya

Menurut Hening, pemberi utang berhak mengetahui uang yang dipinjam untuk keperluan apa.

“Kalau alasannya untuk bayar sekolah anak atau untuk makan, sekali dua kali bolehlah kita pinjamkan. Dengan catatan tidak mengganggu keuangan kita ya.”

Baca juga: Kasus Tagih Utang ke Ibu Kombes Lewat Instagram, Psikolog Sebut Wajar

3. Kenali karakter peminjam

Kenali karakter orang yang mau berutang. Karena menurut Hening, ada beberapa orang yang punya kebiasaan berutang.

“Hati-hati ada orang yang suka berutang. Menyepelakan dan menganggap utang itu biasa.”

4. Buat perjanjian di atas hitam dan putih

Hening menekankan pentingnya membuat perjanjian tertulis hitam di atas putih, yang mencantumkan waktu pembayaran utang hingga cara pembayaran utang.

“Kita kan enggak tahu ke depannya bagaimana. Jadi lebih baik bersikap tegas di awal, buat kesepakatan berapa lama jangka waktu peminjaman, bagaimana mengembalikannya, apakah sekali lunas atau dengan cicilan,” pungkasnya.

5. Perjelas kapan pembayaran utang

Menurut Hening, ada baiknya membuat kesepakatan batas waktu pembayaran utang. Harapannya agar tidak ada yang dirugikan.

“Sebulan atau dua minggu menjelang tenggat waktu, pemberi utang bisa mengingatkan orang yang berutang untuk membayar utangnya. Sehingga, ada waktu bagi orang yang berutang untuk menyiapkan dananya,” sarannya.

Hening menambahkan, selama urusan utang belum selesai, sebaiknya komunikasi harus berjalan lancar dan terbuka.

“Kalau memang ada itikad baik pasti akan dikembalikan. Jadi, enggak mungkin memblokir jalur komunikasi. Kalau memang belum ada dananya sampaikan baik-baik pada pemberi utang dan minta tambahan waktu.”

“Tapi, kalau tidak mau diajak berkomunikasi, ya wajar kalau akhirnya pemberi utang menagih melalui media sosial. Itu sebagai bentuk kekesalan dia,” pungkasnya.

Dalam persidangan yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Medan, Sumut, yang diketuai majelis hakim Sri Wahyuni, Febi tidak terbukti melanggar Pasal 45 ayat 3 jo Pasal 27 ayat 3 Undang-undang Nomor 19 Tahun 2016 sebagaimana diubah UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Vonis ini juga menggugurkan tuntutan jaksa yang menuntut terdakwa pada persidangan 14 Juli 2020 dengan hukuman pidana dua tahun penjara.

Bahkan, berdasarkan fakta di persidangan, Fitriani Manurung memang memiliki utang sebesar Rp 70 juta kepada Febi.

Baca juga: Penemuan yang Mengubah Dunia: Utang, dari Benih Hingga Fintech

 



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X