Telur Palsu Bantu Lacak Rantai Perdagangan Penyu, Kok Bisa?

Kompas.com - 09/10/2020, 07:05 WIB
Ilustrasi penyu menetas. Ilustrasi penyu menetas.

KOMPAS.com - Perjuangan bayi-bayi penyu yang baru saja menetas sungguh luar biasa.

Bagaimana tidak, setelah keluar dari pasir yang menutupinya, mereka akan melakukan perjalanan berbahaya ke air dengan predator yang menunggu dan siap menerkam setiap saat.

Tak hanya menghadapi tantangan tersebut saja, di Amerika Tengah, kehidupan mereka pun telah direnggut bahkan sebelum menetas.

Seperti dikutip dari Science Alert, Kamis (8/10/2020) lebih dari 90 persen telur penyu di Amerika Tengah tidak pernah menetas. Sangat disayangkan, mengingat keberadaan mereka makin menyusut di alam liar.

Baca juga: Serba-serbi Hewan: Tempurung Penyu jadi Rumah 100.000 Hewan Kecil

Rupanya, telur-telur ini diambil oleh pemburu dan diperdagangkan ke kota. Telur-telur ini akan menjadi santapan lezat bagi salah satu predator paling berbahaya di Bumi, manusia.

Untungnya peneliti punya cara untuk menghentikan praktik yang merugikan spesies rentan ini.

Peneliti menyembunyikan perangkat GPS dalam telur penyu palsu yang digunakan untuk melacak perjalanan para pemburu telur penyu.

"Penelitian kami menunjukkan, bahwa menempatkan telur palsu ke dalam sarang penyu tidak merusak embrio lain dan umpan tetap berfungsi," kata Helen Pheasey, ahli biologi dari Universitas Kent Inggris.

Telur palsu yang bernama InvestEGGator ini merupakan tanggapan dari United States Agency for International Development (USAID) Wildlife Crime Tech Challenge untuk mendeteksi rute perdagangan satwa liar.

Baca juga: Bukti Baru, Penyu Makan Plastik karena Baunya Mirip Makanan

Penelitian telah dipublikasikan di Current Biology, menggunakan metode umpan palsu yang sebenarnya sudah dilakukan dalam berbagai kesempatan. Misalnya saja robot berbentuk penguin di Antartika, bagi gorila palsu di Afrika.

Teknik ini memungkinkan para peneliti untuk mempelajari perilaku hewan di habitat alami mereka. Termasuk juga melakukan pengawasan terhadap penyelundup satwa liar.

Untuk menguji teknologi tersebut, tim kemudian menempatkan 101 telur palsu di sarang penyu yang tersebar di empat pantai Costa Rica.

Dari jumlah keseluruhan, ada sekitar 25 persen telur yang diambil oleh pemburu. Peneliti pun dapat melacak lima sarang yang diperdagangkan.

Tujuan peletakan telur ini bukan untuk menemukan para pemburu melainkan untuk mengikuti rantai pasokan yang akan digunakan untuk mencari tahu di mana telur-telur berakhir dan bagaimana caranya.

ilustrasi penyu bermigrasi ilustrasi penyu bermigrasi

Dari percobaan pertama, peneliti berhasil mengidentifikasi rantai perdagangan terjauh yang mencakup 137 kilometer. Sementara rute terpendek yang terlacak sekitar 2 km dari pantai ke bar lokal.

Manusia memang telah memakan telur penyu sejak lama. Masalah terjadi ketika jumlah manusia makin bertambah, sementara jumlah penyu lebih sedikit.

Penggunaan InvestEGGator ini pun menjadi harapan untuk perubahan baik untuk penegakan hukum serta membantu memerangi perburuan telur penyu.

Baca juga: Serba-Serbi Hewan: Penyu Buat Sarang Palsu, Sembunyikan Telur dari Predator



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X