Pandemi Mengancam Ibu Hamil dan Anak-anak, Pemerintah Diminta Optimalkan Posyandu

Kompas.com - 05/10/2020, 19:35 WIB
Ilustrasi virus corona ShutterstockIlustrasi virus corona

KOMPAS.com - Pandemi Covid-19 entah kapan berakhir. Sementara, kelompok rentan yaitu ibu hamil dan anak-anak semakin terancam.

Kasus anak di Indonesia yang terinfeksi Covid-19 per 10 Agustus 2020 sudah mencapai 3.928 anak dan meninggal dunia sebanyak 59 anak. Angka ini merupakan kasus tertinggi di Asia.

Belum lagi, kejadian infeksi Covid-19 pada ibu hamil, dapat berdampak terhadap pelayanan pemantauan kehamilan dan memicu kenaikan angka kehamilan dengan komplikasi.

Baca juga: CDC: Tak Hanya Anak-anak, Sindrom Peradangan Covid-19 juga Serang Orang Dewasa

Dalam upaya mengantisipasi kejadian buruk yang bisa terjadi, Gerakan Kesehatan Ibu dan Anak (GKIA) mendorong pemerintah, terutama kementerian kesehatan untuk mengupayakan optimalisasi program posyandu di tengah pandemi ini.

Gerakan Kesehatan Ibu dan Anak (GKIA) merupakan koalisi masyarakat sipil yang memiliki kesamaan tujuan dalam memperjuangkan peningkatan status kesehatan ibu, anak, dan remaja di Indonesia.

Ketua Presidium GKIA, Irawaty Manullang SKM MARS menekankan agar pos pelayanan terpadu (posyandu) yang memiliki prinsip dari, untuk, dan oleh masyarakat tidak 'tenggelam' karena pandemi Covid-19.

" Posyandu harus dan siap menjadi bagian dari solusi yang terintegrasi dalam penanganan pandemi di Indonesia," kata Ira diskusi daring bertajuk Dampak Pandedi Covid-19: Cakupan Imunisasi dan Kualitas Pangan Balita Rendah, Selamatkan 25 Juta Anak Indonesia, Kamis (1/10/2020).

GKIA menyoroti tiga aspek yang harus segera dilakukan untuk meningkatkan peran posyandu di tengah pandemi Covdi-19. Di antaranya sebagai berikut:

1. Meningkatkan kemampuan kader posyandu

Ira menuturkan, aspek penting pertama yang harus ditingkatkan adalah meningkatkan kemampuan dan pengetahuan kader-kader posyandu terkait Covid-19.

Peningkatan kemampuan ini. bisa dilakukan dengan melatih keterampilan dalam mengelola bahan pangan lokal menjadi sumber makanan bergizi tinggi, murah dan terjangkau, serta memiliki keterampilan mengelola pola makan tepat (PMT) balita dengan benar dan bervariasi.

"Jangan masak asal masak, tetapi juga harus diajari bagaimana mengelola (makanan bergizi) tetap sehat dan juga bervariasi, karena estetika itu menjadi pintu awal ketertarikan makanan oleh anak," ujarnya.

Selain itu juga, kata dia, posyandu bisa menjadi pusat bantuan posko pangan yang sehat dan aman bagi kelompok ibu dan balita.

Sejauh ini, menurut Ira penyaluran bantuan pangan terhadap ibu dan anak sedikit terabaikan. Padahal harusnya, posyandu bisa dioptimalkan untuk mencegah meningkatnya kasus kematian ibu dan anak di Indonesia, terutama di tengah pandemi ini.

Baca juga: Mengapa Perlu Uji Klinis Vaksin Corona pada Anak, Ini Penjelasan Dokter Pediatrik

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X