Covid-19 di Indonesia Belum Terkendali, Ini yang Harus Kita Lakukan

Kompas.com - 29/09/2020, 07:00 WIB
Warga melintas di depan mural yang berisi pesan waspada penyebaran virus Corona di Petamburan, Jakarta, Rabu (16/9/2020). Mural tersebut dibuat untuk mengingatkan masyarakat agar menerapkan protokol kesehatan saat beraktivitas karena masih tingginya angka kasus COVID-19 secara nasional. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/aww. ANTARA FOTO/Aprillio AkbarWarga melintas di depan mural yang berisi pesan waspada penyebaran virus Corona di Petamburan, Jakarta, Rabu (16/9/2020). Mural tersebut dibuat untuk mengingatkan masyarakat agar menerapkan protokol kesehatan saat beraktivitas karena masih tingginya angka kasus COVID-19 secara nasional. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/aww.

KOMPAS.com - Hingga saat ini, pandemi Covid-19 belum dapat dikendalikan. Bukannya menekan, angka harian kasus Covid-19 justru meningkat terus.

Berkaitan dengan kondisi ini, para ahli dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) mengungkap kondisi Covid-19 yang terjadi di Indonesia.

dr. Iwan Ariawan, MSPH selaku dosen departemen Biostatistika dan Kependudukan FKM UI mengatakan, data terakhir pada kurva epidemi berdasarkan onset hingga 24 September 2020, situasi pandemi Covid-19 di Indonesia masih belum menunjukkan tanda-tanda penurunan.

Bahkan dia mengatakan, gelombang pertama masih terus berlangsung dan belum selesai.

Baca juga: WHO Prediksi 2 Juta Kematian Global Sebelum Vaksin Covid-19 Ditemukan

Kurva epidemi Covid-19 di Indonesia dalam paparan dr. Iwan Ariawan, MSPH selaku dosen departemen Biostatistika dan Kependudukan FKM UI.Tangkapan layar YouTube/IT FKMUI Kurva epidemi Covid-19 di Indonesia dalam paparan dr. Iwan Ariawan, MSPH selaku dosen departemen Biostatistika dan Kependudukan FKM UI.

"Cara paling tepat untuk mengendalikan kondisi saat ini adalah dengan melakukan PSBB yang lebih ketat," kata dr Iwan dalam seminar bertajuk Belum Terkendalinya Wabah Covid-19 dan Apa yang Harus Dilakukan? pada Jumat (25/9/2020) secara daring.

Iwan menuturkan, PSBB ketat mampu menurunkan risiko penularan Covid-19 hingga 50 persen.

Namun, pada saat Jakarta berada pada kondisi PSBB transisi, kasus Covid-19 kembali naik.

Hal ini disebabkan oleh perbedaan aktivitas penduduk yang dilakukan saat PSBB ketat dan PSBB transisi.

"Dengan PSBB ketat, tentu kita dapat mengendalikan kasus Covid-19 yang ada di Jakarta meski tetap menunjukkan kasus baru per harinya," ujar dr. Iwan dalam keterangan resmi yang diterima Kompas.com.

Namun dia mengingatkan, PSBB dapat berdampak dan bermanfaat hanya jika masyarakat menerapkan perilaku 3M, yakni mencuci tangan dengan sabun, memakai masker, dan menjaga jarak.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X