Membaca Pola Karhutla

Kompas.com - 25/09/2020, 18:30 WIB
Foto dirilis Jumat (11/10/2019), memperlihatkan relawan berupaya memadamkan kebakaran lahan gambut di Kecamatan Bati-Bati, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan. Dampak karhutla Indonesia menjadi sorotan di dalam hingga luar negeri, terkait kabut asap yang tak hanya melumpuhkan aktivitas warga dan mengganggu kesehatan, namun juga memakan korban jiwa, termasuk hewan-hewan yang menghuni hutan. ANTARA FOTO/BAYU PRATAMA SFoto dirilis Jumat (11/10/2019), memperlihatkan relawan berupaya memadamkan kebakaran lahan gambut di Kecamatan Bati-Bati, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan. Dampak karhutla Indonesia menjadi sorotan di dalam hingga luar negeri, terkait kabut asap yang tak hanya melumpuhkan aktivitas warga dan mengganggu kesehatan, namun juga memakan korban jiwa, termasuk hewan-hewan yang menghuni hutan.

Oleh: Sugeng Budiharta

KEBAKARAN hutan dan lahan (harhutla) di Indonesia telah menjadi bencana rutin tiap tahun. Kebijakan dan upaya di lapangan terus dilakukan oleh berbagai lembaga dari pusat hingga daerah. Presiden Jokowi tidak bosan-bosan menekankan kewaspadaan dalam mitigasi dan penanggulangan karhutla.

Selain kewaspadaan, diperlukan kecermatan dalam membaca pola karhutla untuk efektifitas mitigasi dan efisiensi sumber daya.

Saat ini dan beberapa bulan ke depan, sebagian besar wilayah Indonesia memasuki musim kemarau. Meskipun di beberapa daerah hujan masih terjadi, bahkan mengakibatkan banjir, potensi resiko kekeringan dan karhutla masih mengintai di bulan-bulan mendatang.

Tak kurang, Presiden, Ketua MPR dan Menko Polhukam mengingatkan perlunya antisipasi permasalahan karhutla meski negara tengah berjuang melawan pandemi Covid-19 (Media Indonesia, 24 Juni 2020).

Di tengah keterbatasan sumber daya, baik anggaran, waktu dan sumber daya manusia, karena sebagian besar dialokasikan untuk penanganan Covid-19, diperlukan strategi mitigasi yang tepat untuk menangani karhutla sehingga sumber daya tersebut tidak mubadzir.

Pemahaman mengenai kapan, di mana dan siapa di balik karhutla diperlukan untuk menentukan strategi mitigasi yang efektif.

Pola karhutla

Hasil penelitian kami yang baru diterbitkan di jurnal ilmiah Global Environmental Change menunjukkan bahwa sebaran dan intensitas karhutla mempunyai pola tertentu bergantung pada kondisi iklim tahunan, lokasi dan sektor penggunaan lahan.

Memang secara umum, karhutla terjadi setiap tahun. Namun kajian kami menemukan bahwa karhutla dengan sebaran yang sangat luas dan intensitas sangat tinggi terjadi pada saat kondisi iklim sedang mengalami musim kemarau panjang dengan curah hujan sangat rendah, atau sering disebut El-Nino.

Pada tahun-tahun kering tersebut, misalnya tahun 2002, 2006 dan 2015, kejadian karhutla meningkat secara eksponensial, bahkan hingga delapan kali lipat dibandingkan tahun-tahun biasa.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X