Akan Mendarat di Bulan pada 2024, Ini Misi yang Harus Diselesaikan NASA

Kompas.com - 24/09/2020, 09:03 WIB
Ilustrasi astronot NASA dalam misi Artemis yang akan kembali ke Bulan pada tahun 2024 mendatang. Akibat wabah virus corona, pembuatan roket atau wahana antariksa, Orion harus ditunda. NASAIlustrasi astronot NASA dalam misi Artemis yang akan kembali ke Bulan pada tahun 2024 mendatang. Akibat wabah virus corona, pembuatan roket atau wahana antariksa, Orion harus ditunda.

KOMPAS.com - Sejak tahun 1972, NASA sudah merilis rencana lengkap pertamanya. Misi Artemis bertujuan untuk menempatkan wanita pertama di bulan dan manusia pertama.

Dilansir dari Science Alert, (23/9/2020), NASA berencana melakukan pendaratan di bulan pada tahun 2024.

Tetapi sebelumnya, NASA berniat untuk meluncurkan dua misi lain ke bulan. Hal ini bertujuan untuk menguji pesawat ruang angkasa Orion barunya.

"Rencana kami untuk mendaratkan wanita pertama dan pria berikutnya di bulan pada tahun 2024 sudah sesuai rencana!" demikian cuitan Kathy Lueders, kepala Direktorat Misi Eksplorasi dan Operasi Manusia NASA, di Twitter pada hari Senin.

Baca juga: Karena Virus Corona, NASA Tunda Peluncuran Misi Baru Artemis ke Bulan

Meski rencana itu tampak ambisius, nyatanya Administrator NASA Jim Bridenstine juga meyakini hal tersebut dapat terwujud.

"Tahun 2024 adalah garis waktu yang agresif, Apakah mungkin? Ya. Apakah semuanya harus berjalan dengan baik? Ya." tutur Jim.

Sejauh ini agensi bahkan tidak yakin akan mendapatkan cukup uang untuk melaksanakan rencananya, apalagi NASA meminta dana hampir 28 miliar dollar AS (sekitar Rp 416 miliar).

Jika NASA berhasil mendapatkan dana untuk mendaratkan astronot di bulan dalam waktu empat tahun, NASA akan memiliki target yang lebih menantang untuk ke depannya.

NASA berharap, bisa menempatkan orang di permukaan bulan, setidaknya setahun sekali mulai tahun 2024 dan membangun pos terdepan secara permanen di bulan, pada awal tahun 2030an.

Kemudian muncul harapan untuk membangun dan memasang gateway, stasiun luar angkasa yang akan mengorbit bulan dan mendukung perjalanan yang sering ke permukaan.

Pada akhirnya, infrastruktur itu pada gilirannya memungkinkan perjalanan ke Mars setelah 2030.

Misi Artemis yang direncanakan, memiliki target yang harus berhasil sebelum orang dapat berjalan di bulan.

Misi pertama dalam program Artemis disebut dengan Artemis 1, yang menyerukan peluncuran kapsul ruang angkasa Orion di atas mega-roket NASA yang akan datang.

Pesawat ruang angkasa tidak akan membawa penumpang, tetapi akan tetap berada di orbit bulan selama tiga hari sebagai ujian kemampuannya untuk terbang ke bulan dan kembali. Misi tersebut akan diluncurkan pada November 2021.

Baca juga: NASA Siapkan Misi untuk Pelajari Dampak Cuaca Luar Angkasa di Bumi

 

NASAReuters NASA

Setelah itu misi Artemis 2 akan menjadi uji awak pertama Orion dan roket SLS. Dalam lunar flyby, kapsul Orion akan membawa empat astronot mengelilingi sisi jauh bulan, yang jaraknya hampir seperempat juta mil dari Bumi.

Kru itu akan pergi lebih jauh ke luar angkasa daripada manusia mana pun sebelum mereka.

Begitu Orion sampai sejauh itu, gravitasi dari bulan dan bumi akan menghempaskan pesawat ruang angkasa itu kembali ke rumah.

Misi yang akan dijalankan diperkirakan memakan waktu sekitar 10 hari, berfungsi sebagai uji kemampuan Orion untuk mengangkut manusia dengan aman ke bulan dan dari bulan. Misi ini dijadwalkan untuk diluncurkan pada Agustus 2023.

Baca juga: NASA Tawarkan Ratusan Juta Rupiah untuk Menambang Bulan, Berminat?

Misi Artemis 3 akan mendaratkan astronot di Kutub Selatan bulan. Tahun 2024, NASA akan meluncurkan pesawat ruang angkasa Orion, menerbangkannya ke orbit bulan, mendaratkan astronot di permukaan bulan, lalu mengembalikan semua orang ke Bumi dengan aman.

Misi tersebut diharapkan dapat mengirim orang ke Kutub Selatan bulan. Mendarat di Kutub Selatan secara teknis lebih sulit daripada mendarat di tempat lain, karena belum ada misi manusia atau robot yang pernah berhasil.

Untuk mencapai tujuan ini, NASA membutuhkan sistem pendaratan manusia, pesawat ruang angkasa untuk membawa astronot dari orbit ke permukaan bulan.

Rencana Artemis meminta sistem untuk memberikan dukungan hidup selama sekitar seminggu setelah astronot mendarat, kemudian mengembalikan mereka ke orbit bulan.

Badan ini telah bekerja sama dengan tiga perusahaan ruang komersial Blue Origin, Dynetics, dan SpaceX untuk mengembangkan prototipe sistem ini.

Pakaian antariksa baru juga sedang dalam pengerjaan. Meskipun mereka terlihat cukup mirip dengan yang dikenakan astronot Apollo (dan masih dengan popok).

Pakaian tersebut terlihat lebih fleksibel, yang memang sudah seharusnya memudahkan astronot untuk melakukan tugas-tugas kompleks di luar angkasa.

Desainnya mencakup sistem komunikasi helm yang lebih baik dan peningkatan teknologi lainnya.

Baca juga: 2026, NASA Berencana Luncurkan Misi ke Venus

 

Wahana antariksa, Orion Spacecraft untuk misi Artemis ke Bulan di NASA Plum Brook Station.
Wahana antariksa, Orion Spacecraft untuk misi Artemis ke Bulan di NASA Plum Brook Station.

NASA bertaruh bahwa Kutub Selatan bulan akan menawarkan nilai terbaik bagi para pelancong manusia, karena kemungkinan besar mengandung banyak air beku yang tersembunyi di dasar kawah yang tidak pernah tersentuh sinar matahari.

Astronot (atau robot) dapat berpura-pura menambang es itu, mencairkannya, menyimpannya, dan menggunakan listrik untuk memisahkan air menjadi oksigen cair dan hidrogen, masing-masing sebagai pengoksidasi utama dan bahan bakar, untuk berbagai jenis roket.

Ilmuwan NASA berharap, bahan bakar yang ditambang dan diproduksi di bulan kemudian dapat digunakan untuk perjalanan pulang atau lebih dalam ke luar angkasa.

Memanen sumber daya seperti itu di bulan, kata Bridenstine, akan memungkinkan penjelajah ruang angkasa untuk mulai "hidup dari daratan".

Permasalahan saat ini adalah anggaran yang belum dikeluarkan, NASA mengatakan membutuhkan dana 3,2 miliar dollar AS(sekitar Rp 47 miliar) untuk mengembangkan sistem pendaratan manusia.

Sejauh ini, badan tersebut telah menghabiskan sekitar 1 miliar dollar AS (sekitar Rp 14 miliar) untuk upaya tersebut.

Namun, sisa dana masih jauh dari kata pasti. NASA menaruh harapannya pada RUU alokasi omnibus pada akhir tahun, tetapi DPR sejauh ini hanya menyetujui sekitar US $ 630 juta dana tambahan.

"Tanpa dana penuh, NASA tidak akan sampai ke bulan pada tahun 2024, meskipun mungkin masih berusaha untuk sampai ke sana, pada kesempatan sedini mungkin," kata Bridenstine.

Baca juga: Video NASA Uji Mesin untuk Misi Ruang Angkasa ke Bulan



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kali Pertama, Virus Corona Kerabat SARS-CoV-2 Ditemukan di Jepang dan Kamboja

Kali Pertama, Virus Corona Kerabat SARS-CoV-2 Ditemukan di Jepang dan Kamboja

Fenomena
Vaksin Oxford 70 Persen Efektif dan Mudah Disimpan, Epidemiolog: Cocok untuk Indonesia

Vaksin Oxford 70 Persen Efektif dan Mudah Disimpan, Epidemiolog: Cocok untuk Indonesia

Oh Begitu
Misi Bersejarah, China Luncurkan Chang'e 5 untuk Ambil dan Kembalikan Sampel Bulan

Misi Bersejarah, China Luncurkan Chang'e 5 untuk Ambil dan Kembalikan Sampel Bulan

Fenomena
BPOM Targetkan Januari Beri Izin Vaksin Sinovac, Ini Kata Epidemiolog

BPOM Targetkan Januari Beri Izin Vaksin Sinovac, Ini Kata Epidemiolog

Oh Begitu
WHO: Vaksin Covid-19 yang Berhasil Harus Didistribusikan dengan Adil

WHO: Vaksin Covid-19 yang Berhasil Harus Didistribusikan dengan Adil

Oh Begitu
Studi Baru Tunjukkan Kapan Virus Corona Covid-19 Paling Menular

Studi Baru Tunjukkan Kapan Virus Corona Covid-19 Paling Menular

Kita
Selain Membersihkan Tubuh, Mandi Bermanfaat untuk Kesehatan Fisik dan Mental

Selain Membersihkan Tubuh, Mandi Bermanfaat untuk Kesehatan Fisik dan Mental

Oh Begitu
Jarang Terjadi, Monyet Ini Tertangkap Melakukan Tindakan Kanibalisme

Jarang Terjadi, Monyet Ini Tertangkap Melakukan Tindakan Kanibalisme

Oh Begitu
Misteri Tubuh Manusia: Bagaimana Kita Bedakan Wajah Pria dan Wanita?

Misteri Tubuh Manusia: Bagaimana Kita Bedakan Wajah Pria dan Wanita?

Kita
Keanekaragaman Indonesia Peringkat Pertama Pusat Biodiversitas Dunia

Keanekaragaman Indonesia Peringkat Pertama Pusat Biodiversitas Dunia

Oh Begitu
Ilmuwan Ciptakan Ulang Aroma Eropa Abad Ke-16, Seperti Apa?

Ilmuwan Ciptakan Ulang Aroma Eropa Abad Ke-16, Seperti Apa?

Fenomena
Usai Perjalanan 5,24 Miliar Kilometer, Hayabusa2 Kembali ke Bumi

Usai Perjalanan 5,24 Miliar Kilometer, Hayabusa2 Kembali ke Bumi

Oh Begitu
Kenakalan Bocah Kleptomania Pencandu Narkoba, Bisakah Sembuh dari Kecanduan?

Kenakalan Bocah Kleptomania Pencandu Narkoba, Bisakah Sembuh dari Kecanduan?

Oh Begitu
Bocah 8 Tahun Suka Mencuri Diduga Kleptomania, Apa Itu?

Bocah 8 Tahun Suka Mencuri Diduga Kleptomania, Apa Itu?

Oh Begitu
Gali Situs Pompeii, Ahli Temukan lagi Korban Letusan Gunung Vesuvius

Gali Situs Pompeii, Ahli Temukan lagi Korban Letusan Gunung Vesuvius

Fenomena
komentar
Close Ads X