WHO Izinkan Obat Herbal Afrika untuk Pengobatan Potensial Infeksi Virus Corona

Kompas.com - 21/09/2020, 16:31 WIB
Sampel Covid Organics atau CVO, dipajang di Antananarivo pada 20 April 2020. Covid Organics atau CVO diproduksi oleh Malagasy Institute of Applied Research (IMRA) yang dibuat dari Artemisia dan diduga membantu mencegah infeksi yang disebabkan oleh virus corona. AFP/RIJASOLOSampel Covid Organics atau CVO, dipajang di Antananarivo pada 20 April 2020. Covid Organics atau CVO diproduksi oleh Malagasy Institute of Applied Research (IMRA) yang dibuat dari Artemisia dan diduga membantu mencegah infeksi yang disebabkan oleh virus corona.


KOMPAS.com - Organisasi Kesehatan Dunia ( WHO) mendukung pengujian obat-obat potensial, salah satunya obat herbal potensial untuk mengobati infeksi virus corona.

Bukan hanya pengobatan modern dan vaksin yang diupayakan sebagai senjata untuk melawan pandemi Covid-19.

Saat ini, berbagai pengobatan tradisional mulai diteliti secara ilmiah yang dapat dipergunakan untuk menangangi pandemi ini.

Seperti dikutip dari Science Alert, Senin (21/9/2020), WHO mengesahkan protokol untuk menguji obat-obatan herbal Afrika sebagai pengobatan potensial untuk virus corona dan epidemi lainnya.

Pandemi Covid-19 yang telah berlangsung sejak akhir 2019, telah turut mendorong potensi penggunaan obat-obatan tradisional untuk memerangi penyakit kontemporer.

Baca juga: WHO Rekomendasikan Obat Steroid untuk Pengobatan Pasien Covid-19 Kritis

 

Salah satunya obat herbal Afrika, yang ditawarkan oleh presiden Madagaskar. Minuman berbasis artemisia, tanaman dengan khasiat yang terbukti mengobati penyakit malaria sempat disambut dengan cemooh.

Namun, pada Sabtu lalu, para ahli di WHO dan tim ilmiah lainnya telah mengesahkan protokol uji klinis pengobatan herbal fase III untuk obat Covid-19 Madagaskar.

Para ahli menilai uji klinis tahap III sangat penting dalam menilai keamanan dan kemanjuran produk medis baru.

"Jika suatu produk obat tradisional ditemukan aman, berkhasiat dan terjamin kualitasnya, WHO akan merekomendasikan untuk manufaktur lokal skala besar yang dapat dilacak dengan cepat," kata Prosper Tumusiime, direktur regional WHO.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X