CDC: Siapa Pun yang Pernah Kontak dengan Pasien Covid-19 Wajib Dites

Kompas.com - 19/09/2020, 20:30 WIB
Ilustrasi tes Covid-19, deteksi Covid-19, pengujian virus corona. ShutterstockIlustrasi tes Covid-19, deteksi Covid-19, pengujian virus corona.

KOMPAS.com - Dalam perubahan terbarunya, Pusat Pengendalian dan pencegahan Penyakit ( CDC) telah membatalkan pedoman pengujian Covid-19 yang kontroversial.

Perubahan tersebut dilaporkan karena keberatan dari para ilmuwannya sendiri.

Sebelumnya, pada 24 Agustus, CDC memperbarui pedoman pengujiannya, yang mengatakan bahwa bagi mereka yang berisiko rendah atau tidak menunjukkan gejala apa pun tidak perlu melakukan tes, setelah terpapar orang yang terinfeksi Covid-19.

Namun kini, CDC kembali pada pedoman sebelumnya, bahwa siapa saja yang pernah melakukan kontak dekat dengan orang yang terinfeksi SARS-CoV-2 harus dites.

"Karena banyak kasus didorong oleh orang yang tidak menunjukkan gejala, maka orang tanpa gejala yang telah melakukan kontak dekat dengan orang positif SARS-CoV-2 perlu dites," jelas klarifikasi.

Dilansir dari Live Science, Sabtu (19/9/2020), CDC mengatakan perubahan terbaru tersebut dilakukan sebagai bentuk klarifikasi.

Baca juga: CDC: Selain Kontak Orang Terinfeksi, Corona Tak Menyebar dengan Mudah

Hal ini dikarenakan orang dapat menularkan virus, tanpa pernah menunjukkan gejala apa pun sebelumnya.

Jika seseorang telah melakukan kontak dekat dengan orang yang terinfeksi, misalnya dalam jarak 6 kaki (1,8 meter) selama setidaknya 15 menit dan tidak memiliki gejala, maka Anda tetap perlu melakukan tes. Demikian panduan CDC terbaru.

Terlepas dari perubahan-perubahan ini, ilmu pengetahuan tentang penularan tanpa gejala atau dengan gejala tidak ada perubahan, bahwa orang yang tidak menunjukkan gejala dapat menularkan virus.

Inilah mengapa perubahan tiba-tiba dalam pedoman CDC bulan lalu, mendapat kritik keras dari ahli kesehatan masyarakat.

Belum lagi, Presiden Donald Trump sebelumnya juga menyatakan, lebih sedikit pengujian akan menyebabkan lebih sedikit kasus.

Ahli kesehatan masyarakat khawatir pedoman ini diubah karena alasan politik, bukan berdasarkan tinjauan ilmiah.

"Tidak masuk akal bahwa rekomendasi, yang seharusnya hanya mengikuti ilmu pengetahuan, sedang dimodifikasi untuk memungkinkan (bahkan mungkin memastikan) tidak dilaporkannya kasus Covid-19 pada saat kritis ini," jelas Krys Johnson, asisten profesor instruksi di Departemen Epidemiologi dan Biostatistik di Temple University, Pennsylvania kepada Live Science melalui email.

Baca juga: CDC Memperkirakan, 40 Persen Pasien Covid-19 Tidak Menunjukkan Gejala

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X