Ilmuwan Peringatkan Embusan Rokok Elektrik Mengandung Zat Berbahaya

Kompas.com - 19/09/2020, 18:03 WIB
Ilustrasi vape atau rokok elektrik 6okeanIlustrasi vape atau rokok elektrik

KOMPAS.com - Menurut para ilmuwan, banyak kabar menyesatkan terkait rokok elektrik. Embusan rokok elektrik sering disebut sebagai uap, sehingga tampak tidak berbahaya.

Meski embusan rokok elektrik bukan sepenuhnya asap, Ilmuwan memperingatkan bahwa hal tersebut tetap berbahaya untuk kesehatan.

Sementara itu, pakar kesehatan masyarakat berpendapat, kata ''aerosol'' adalah deskripsi yang lebih akurat untuk menyebut embusan rokok elektrik.

Hal itu karena, awan rokok elektrik telah terbukti mengandung bahan kimia berbahaya yang dapat bertahan di udara dan mengendap di permukaan terdekat.

Bukti baru juga menunjukkan, awan rokok elektrik masih dapat membuat pengamat terpapar nikotin, logam berat, partikulat ultra halus, senyawa organik yang mudah menguap, dan racun lainnya.

Penentuan perubahan sebutan tersebut sangat penting, karena berdampak pada kebijakan publik.

Baca juga: Vape dan Rokok Sama Bahayanya, Picu Kanker Paru hingga Corona

Saat ini, rokok elektrik adalah bentuk penggunaan tembakau yang paling umum di kalangan anak muda, sebagian besar karena rokok elektrik dipasarkan sebagai alternatif yang aman daripada rokok biasa.

Dilansir dari Science Alerte, Jumat (18/9/2020), setelah mulai membandingkan tiga istilah untuk emisi rokok elektrik di antara 791 mahasiswa, peneliti menemukan saat memakai kata "uap", mahasiswa merasa risikonya lebih rendah daripada rokok biasa.

Di sisi lain, siswa yang diberi pertanyaan menggunakan kata "bahan kimia" atau "aerosol" dua kali lebih mungkin untuk menggambarkan emisi sebagai zat berbahaya atau sangat berbahaya".

Mereka ini juga lebih cenderung mendukung kebijakan kampus bebas tembakau 100 persen.

"Lingkungan kampus bebas rokok dan bebas tembakau selalu menjadi ukuran kesehatan masyarakat yang masuk akal, dan terutama saat ini, mengingat hubungan yang kuat antara penggunaan tembakau dan penularan Covid-19 di antara anak muda," kata ilmuwan kesehatan masyarakat Matthew Rossheim dari Universitas George Mason.

Perguruan tinggi dan universitas didorong untuk segera mengadopsi kebijakan kampus bebas tembakau untuk membantu mencegah penyebaran virus corona.

Baca juga: Penyakit Paru Misterius pada Pengguna Vape, Ini yang Para Ahli Ketahui

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X