Indonesia Nomor Satu Publikasi Jurnal Akses Terbuka di Dunia, Apa Artinya?

Kompas.com - 18/09/2020, 13:05 WIB
Ilustrasi CakeioIlustrasi

Oleh: Dasapta Erwin Irawan, Bambang Priadi, Lusy Tunik Muharlisiani, Sandersan Onie dan Zulidyana Dwi Rusnalasari

INDONESIA ternyata menempati urutan pertama sebagai negara yang mempublikasikan jurnal penelitian dengan sistem akses terbuka atau yang disebut dengan open access (OA).

Open Access (OA) adalah modus publikasi makalah ilmiah yang memberikan akses kepada publik. Siapa pun dapat mengunduh makalah lengkap dan berbagai dokumen pendukungnya secara bebas dan gratis karena penulis atau lembaga penelitian sudah menanggung biaya penerbitan.

Data terakhir menunjukkan Indonesia menempati urutan pertama dengan menerbitkan 1.717 jurnal dengan akses terbuka, disusul oleh Inggris (1.655) dan Brasil (1.544).

Pencapaian ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki posisi penting dalam dunia publikasi akademik di dunia. Artikel ini berusaha menjelaskan apa makna pencapaian ini bagi ekosistem riset di Indonesia.

Ekosistem riset yang terbuka

Banyaknya jurnal OA di Indonesia menunjukkan bagaimana ekosistem riset di negara ini sudah mulai membuka diri terhadap publik.

Akses terbuka adalah awal dari perkembangan ilmu. Inilah cita-cita awal dari gerakan akses terbuka. Ilmu tidak akan berkembang maksimum bila akses dibatasi (paywalled).

Hasil riset terutama yang didanai oleh negara, sudah selayaknya dibuka seluas-luasnya untuk publik. Publik di sini bukan hanya berarti masyarakat peneliti, tapi juga khalayak umum. Mereka sudah sepatutnya juga diberi akses terhadap hasil riset.

Dengan jumlah jurnal OA paling banyak di seluruh dunia, ilmu pengetahuan dari para peneliti Indonesia semestinya dapat dengan leluasa sampai ke tangan publik.

Pemerintah sudah mulai menyadari hal ini.

Hal ini terbukti dengan Undang-Undang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (UU Sisnas Iptek) yang terbaru juga mulai mewajibkan penerapan sistem akses terbuka ini untuk publikasi riset untuk memastikan bahwa hasil riset dapat dinikmati oleh publik.

Melalui kewajiban tersebut, pemerintah berharap dapat mendorong tidak hanya transparansi proses riset, tapi juga inovasi dan temuan baru yang bermanfaat bagi masyarakat.

Posisi riset Indonesia di dunia

Dunia seharusnya iri kepada peneliti Indonesia ketika mereka tahu bahwa banyak jurnal Indonesia adalah jurnal OA dan mayoritas peneliti akan menerbitkan artikel mereka tanpa dipungut biaya.

Menurut catatan kami, sistem publikasi riset di Indonesia sejak 1970-an sudah menerapkan prinsip nirlaba. Ketika itu publikasi riset dijual dengan biaya langganan yang biasanya hanya dihitung dari biaya pencetakan saja. Sistem ini berbeda dengan yang ditemukan di negara maju yang didominasi oleh perusahaan penerbitan komersial.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X