Kompas.com - 17/09/2020, 10:01 WIB
Ilustrasi mata air panas. SHUTTERSTOCKIlustrasi mata air panas.

KOMPAS.com - Sejak zaman dahulu kala, memasak sudah menjadi aktivitas para manusia. Bahkan, seringkali disebut, memasak makanan menjadikan kita manusia.

Memanggang protein hewani di atas api membuat kita manusia mendapatkan lebih banyak nutrisi dan energi, bahkan memberi kita asupan yang dibutuhkan untuk mengisi otak.

Namun, sebuah studi baru menunjukkan, bahwa rupanya manusia tak selalu harus memanfaatkan api untuk mendapatkan nutrisi yang sangat dibutuhkan tubuh.

Seperti yang dilakukan nenek moyang kuno kita, mereka telah memanfaatkan sumber air panas atau mata air panas alami untuk merebus daging yang akan dikonsumsi.

Penemuan arkeologi baru-baru ini, menemukan bukti mata air panas di dekat situs tempat hominid purba menetap, sekitar 1,8 juta tahun yang lalu - jauh sebelum mereka belajar mengendalikan api - di Ngarai Olduvai, lembah retakan yang terletak di Tanzania utara.

Baca juga: Mampu Serang Dinosaurus, Nenek Moyang Buaya Punya Gigi Sebesar Pisang

Melansir iflscience, Kamis (17/9/2020), arkeolog dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) dan University of Alcala di Spanyol berpendapat bahwa bukan kebetulan manusia menetap di sana.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Penemuan mereka yang telah dilaporkan di Proceedings of the National Academy of Sciences menunjukkan, bahwa daerah itu dulunya kaya akan ventilasi hidrotermal yang mampu mendidihkan air pada suhu lebih dari 80° C (176° F).

Tampaknya, ventilasi itu juga terletak sangat dekat dengan situs pemukiman manusia purba yang ditemukan menampilkan perkakas batu dan tulang hewan.

Mengingat waktu yang unik dari kehadiran awal ini, hal ini memunculkan kemungkinan yang menarik bahwa mata air panas tersebut dapat digunakan oleh hominin awal untuk memasak makanan.

“Jika ada rusa kutub yang jatuh ke dalam air dan dimasak, mengapa kamu tidak memakannya?” kata penulis utama Ainara Sistiaga, seorang rekan Marie Sk?odowska-Curie yang berbasis di MIT dan Universitas Kopenhagen.

Ide tersebut pertama kali muncul pada tahun 2016 selama ekspedisi arkeologi di Ngarai Olduvai yang melihat para peneliti mengumpulkan sedimen dari lapisan batuan terbuka sepanjang 3 kilometer, yang diendapkan sekitar 1,7 juta tahun yang lalu.

Anehnya, lapisan geologi berpasir ini sangat berbeda dengan lapisan tanah liat gelap yang berada tepat di bawahnya, yang mengendap 1,8 juta tahun lalu.

Baca juga: Seafood jadi Makanan Nenek Moyang Manusia saat Tinggalkan Afrika

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X