Uji Klinik Plasma Konvalesen Covid-19 Dimulai, Bagaimana Prosedurnya?

Kompas.com - 09/09/2020, 18:33 WIB
Petugas medis menyusun kantong berisi plasma konvalesen dari pasien sembuh COVID-19 di Unit Tranfusi Darah (UTD) Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto Jakarta, Selasa (18/8/2020). Pengambilan plasma konvalesen pasien sembuh COVID-19  yang menggunakan alat apheresis bertujuan untuk membantu penyembuhan pasien terkonfirmasi COVID-19. ANTARA FOTO/NOVA WAHYUDIPetugas medis menyusun kantong berisi plasma konvalesen dari pasien sembuh COVID-19 di Unit Tranfusi Darah (UTD) Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto Jakarta, Selasa (18/8/2020). Pengambilan plasma konvalesen pasien sembuh COVID-19 yang menggunakan alat apheresis bertujuan untuk membantu penyembuhan pasien terkonfirmasi COVID-19.

KOMPAS.com - Uji klinik fase 2-3 plasma konvalesen untuk pasien Covid-19 resmi dimulai pada Selasa (8/9/2020).

Dalam Kick-off Meeting Uji Klinik Pemberian Plasma Konvalesen sebagai Terapi Tambahan Covid-19 melalui kanal Youtube BalitbangkesTV, Selasa (8/9/2020); Wakil Kepala Bidang Penelitian Translasional di Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman, Prof dr David H Muljono SpPD FINSASIM FAASLD PhD, menjelaskan prosedur dari uji klinik ini.

Partisipan uji klinik

Peneliti utama plasma konvalesen dari LBM Eijkman ini berkata bahwa uji klinik dilakukan dengan melibatkan pasien terinfeksi Covid-19 dengan kategori gejala sedang hingga berat. Ini sedikit berbeda dengan pengujian plasma konvalesen di negara lain yang hanya melibatkan pasien dalam kategori kritis.

Pasalnya, pasien yang memang sudah dalam kondisi kritis mungkin tidak akan menunjukkan reaksi yang optimal dari transfusi plasma penyintas Covid-19, sehingga efikasi atau khasiat dari plasma konvalesen menjadi sangat sulit diidentifikasi.

Baca juga: Uji Klinik Terapi Plasma Konvalesen Indonesia Sudah Fase 2-3, Apa Targetnya?

David pun menegaskan bahwa terapi plasma konvalesen ini juga tidak diberikan kepada orang-orang yang sehat ataupun terinfeksi tapi bergejala ringan.

"Ini tidak diberikan dalam konteks untuk prevention (bagi) orang yang belum sakit atau orang yang diduga sakit ringan, karena ini terapi," kata David.

Sementara itu, ada beberapa kriteria ekslusi yang membuat pasien tidak bisa diikutsertakan dalam uji klinik ini, seperti adanya risiko cukup tinggi dari alergi, beban cairan dan penyakit penyerta kronis lainnya.

"Karena ini adalah suatu uji coba, uji klinik, di mana pasien dengan kelainan tersebut belum saatnya untuk kita berikan (terapi plasma konvalesen)," ujar David.

Metode uji klinik

 

Para pasien yang terlibat dalam uji klinik ini akan diberikan 200 mililiter plasma yang diambil secara aferisis dari donor yang sembuh infeksi Covid-19, sebanyak dua kali.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X