Perjalanan Luar Angkasa Sebabkan Perubahan pada Otak Kosmonot, Ini Penjelasannya

Kompas.com - 06/09/2020, 19:31 WIB
Ilustrasi kosmonaut melakukan penjelajahan dalam misi luar angkasa. SHUTTERSTOCK/Vadim SadovskiIlustrasi kosmonaut melakukan penjelajahan dalam misi luar angkasa.


KOMPAS.com- Manusia tengah bersiap melakukan lompatan besar untuk melakukan penjelajahan ke luar angkasa.

Akan tetapi, apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh ketika meninggalkan Bumi?

Pemindaian otak yang dilakukan terhadap kosmonot setidaknya memberikan gambaran tentang dampak perjalanan ke luar angkasa terhadap organ tersebut.

Seperti dikutip dari Science Alert, Minggu (6/9/2020) peneliti melakukan studi otak pada delapan kosmonot laki-laki Rusia, kira-kira tujuh bulan setelah mereka kembali dari misi panjang di Stasiun Luar Angkasa Internasional ( ISS).

Para peneliti menggunakan sejenis MRI untuk menghasilkan gambar 3D dari otak kosmonot. Dari analisis ternyata peneliti mencatat beberapa perubahan kecil pada kosmonot.

Baca juga: Misi SpaceX, 2 Astronot NASA Sampai ISS dan Disambut Kosmonot Rusia

 

Pemindaian menunjukkan peningkatan jumlah jaringan di otak kecil, otak yang bertanggung jawab atas kesimbangan koordinasi, dan postur tubuh. Hal ini menyebabkan para kosmonot menjadi lebih cekatan.

" Kosmonot benar-benar memperoleh semacam keterampilan motorik baru," ungkap Steven Jillings, penulis utama studi ini.

Selain itu, pemindaian juga menunjukkan bahwa orang yang tinggal di luar angkasa dapat mengalami kesulitan melihat dari jarak dekat.

Dalam studinya, Jillings menemukan bukti bahwa cairan mungkin menumpuk di belakang mata yang menyebabkan pembengkakan.

 

Ilustrasi astronot saat berada di luar angkasa. Astronot NASA paling berpengalaman soal isolasi dan karantina mandiri selama berada di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Ilustrasi astronot saat berada di luar angkasa. Astronot NASA paling berpengalaman soal isolasi dan karantina mandiri selama berada di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).

Hal ini dapat mengganggu penglihatan jarak dekat pada astronot, yang disebut dengan neurookuler.

Masih banyak yang harus dipelajari mengenai fenomena ini. Sebab, tak semua astronot maupun kosmonot yang kembali ke bumi setelah melakukan perjalanan luar angkasa memiliki gangguan penglihatan.

Bahkan, beberapa dari mereka penglihatannya segera pulih setelah kembali ke Bumi.

Meski begitu, peneliti menyebut jika kedua perubahan itu berpotensi bertahan lama. Hanya saja peneliti masih mencoba untuk menentukan seberapa jauh gangguan tersebut bisa terjadi.

Baca juga: Untuk Pertama Kalinya, Tulang Manusia Direkayasa di Luar Angkasa

 

Perubahan otak kosmonot ini menurut peneliti sebenarnya merupakan beberapa efek umum yang terjadi pada semua orang yang menghabiskan waktu berbulan-bulan di luar angkasa.

Sebab, otak manusia dapat beradaptasi dengan lingkungan dan pengalaman baru.

Lebih lanjut, secara keseluruhan Jillings dalam penelitian yang telah dipublikasikan di jurnal Science Advances, menambahkan jika studinya tidak menemukan efek kesehatan yang serius terkait dengan perjalanan luar angkasa.

"Kami tidak menemukan bukti perubahan yang merugikan pada otak (kosmonot). Ini sebenarnya lebih merupakan adaptasi. Sehingga ketika mereka pergi ke misi berikutnya mereka dapat beradaptasi dengan cepat," tambah Jillings.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Rahasia Alam Semesta: Apa Itu Awan Cumulonimbus dan Apa Dampaknya?

Rahasia Alam Semesta: Apa Itu Awan Cumulonimbus dan Apa Dampaknya?

Fenomena
Kenapa Air Mata Rasanya Asin?

Kenapa Air Mata Rasanya Asin?

Kita
4 Cara Penularan Virus Corona, dari Transmisi Pernapasan hingga Tinja

4 Cara Penularan Virus Corona, dari Transmisi Pernapasan hingga Tinja

Kita
Waterspout Waduk Gajah Mungkur, Kenali Tanda dan Waktu Datangnya Puting Beliung

Waterspout Waduk Gajah Mungkur, Kenali Tanda dan Waktu Datangnya Puting Beliung

Fenomena
Cegah Covid-19, Apa Beda Masker Kain, Medis, FFP2, N95, dan KN95?

Cegah Covid-19, Apa Beda Masker Kain, Medis, FFP2, N95, dan KN95?

Kita
Pertama Kali, Ahli Hitung Populasi Gajah Afrika dari Luar Angkasa

Pertama Kali, Ahli Hitung Populasi Gajah Afrika dari Luar Angkasa

Oh Begitu
Waterspout Waduk Gajah Mungkur Wonogiri, Ini 5 Tanda Kemunculannya

Waterspout Waduk Gajah Mungkur Wonogiri, Ini 5 Tanda Kemunculannya

Oh Begitu
Satelit Seukuran Kotak Sereal akan Diluncurkan Australia Selatan ke Luar Angkasa

Satelit Seukuran Kotak Sereal akan Diluncurkan Australia Selatan ke Luar Angkasa

Fenomena
7 Cara Menjaga Kesehatan Paru-paru

7 Cara Menjaga Kesehatan Paru-paru

Oh Begitu
Fosil Dinosaurus di Argentina Jadi Mahluk Terbesar di Bumi yang Pernah Ditemukan

Fosil Dinosaurus di Argentina Jadi Mahluk Terbesar di Bumi yang Pernah Ditemukan

Oh Begitu
BMKG: 4 Fakta Peningkatan Aktivitas Gempa Januari 2021 Dibandingkan 2020

BMKG: 4 Fakta Peningkatan Aktivitas Gempa Januari 2021 Dibandingkan 2020

Fenomena
[POPULER SAINS] BMKG Sebut Puting Beliung di Wonogiri Waterspout | Pemanasan Global Bikin Ikan Sulit Bernapas | 3 Gejala Covid-19 di Mata

[POPULER SAINS] BMKG Sebut Puting Beliung di Wonogiri Waterspout | Pemanasan Global Bikin Ikan Sulit Bernapas | 3 Gejala Covid-19 di Mata

Oh Begitu
Deretan Bencana Alam di Awal 2021, Walhi Desak Pemerintah Serius Pulihkan Lingkungan

Deretan Bencana Alam di Awal 2021, Walhi Desak Pemerintah Serius Pulihkan Lingkungan

Oh Begitu
Puting Beliung di Waduk Gajah Mungkur Wonogiri, BMKG Sebut Itu Waterspout

Puting Beliung di Waduk Gajah Mungkur Wonogiri, BMKG Sebut Itu Waterspout

Fenomena
Halo Prof! Hidung Mudah Mimisan, Bagaimana Solusinya?

Halo Prof! Hidung Mudah Mimisan, Bagaimana Solusinya?

Halo Prof!
komentar
Close Ads X