Ledakan Angka Kelahiran, Keluarga Gorila Uganda Sambut Bayi Baru

Kompas.com - 06/09/2020, 13:20 WIB
Gorila Ruterana baru melahirkan, anaknya tercatat sebagai bayi kelima dalam enam pekan di keluarga besarnya di Taman Nasional Bwindi, Uganda. BBC INDONESIA/UGANDA WILDLIFE AUTHORITYGorila Ruterana baru melahirkan, anaknya tercatat sebagai bayi kelima dalam enam pekan di keluarga besarnya di Taman Nasional Bwindi, Uganda.


KOMPAS.com - Ugandan Wildlife Service (UWS) melaporkan lima anak gorila dilahirkan dalam tempo enam minggu di satu keluarga gorila gunung.

Seperti dikutip dari BBC Indonesia, Minggu (6/9/2020), UWS sebagai pengelola Margasatwa Uganda kemudian menyebutnya sebagai ledakan angka kelahiran.

" Ledakan kelahiran bayi gorila di Bwindi (bayi kelima lahir hanya dalam enam pekan). Keluarga gorila Rushegura menyambut satu lagi bayi gorila lucu dan sehat," kata pernyataan dari UWS pada Selasa (1/9/2020) lalu.

Saat ini, keluarga gorila ini memiliki 18 anggota dan menempati Taman Nasional Bwindi Impenetrable National Park yang berada di Uganda barat daya.

Baca juga: Gorila Langka di Dunia Tertangkap Kamera, Gendong Anak di Punggungnya

 

Sebelum melahirkan bayi kelimanya, Ruterana, induk gorila ini dilaporkan sudah melahirkan dua kali.

Ruterana, menurut UWS, dilahirkan pada 1 Januari 2002 dan saat ini berusia 18 tahun.

Spesies gorila gunung, adalah salah satu primata yang terancam punah, jumlahnya bahkan hanya tersisa sekitar 1.000 individu saja.

Baca juga: Mengenaskan, Empat Gorila Langka di Uganda Mati Tersambar Petir

 

Pengelola Margasatwa Uganda mengatakan kepada BBC, jumlah kelahiran bayi gorila tahun ini disebut tidak terjadi pada tahun sebelumnya.

Total ada tujuh bayi gorila yang lahir sejak Januari 2020, sedangkan pada tahun sebelumnya hanya ada tiga kelahiran selama tahun 2019.

Kendati demikian, tidak jelas apa yang menyebabkan peningkatan kelahiran bayi gorila tersebut.

 

Ilustrasi gorila hutan. Ilustrasi gorila hutan.

Dilaporkan bahwa ledakan kelahiran ini terjadi saat taman nasional tersebut sedang melakukan uji coba kunjungan ke lokasi-lokasi primata, yang sebelumnya harus terhenti akibat pandemi virus corona.

Sejak pandemi terjadi, pada Maret lalu, sebagian tempat wisata di Uganda ditutup, dan industri perlahan dibuka.

Akan tetapi, keselamatan primata-primata ini tetap menjadi kekhawatiran tersendiri, karena DNA mereka yang mirip dengan manusia.

Baca juga: Ilmuwan Temukan Kesamaan Persahabatan Gorila dan Manusia dalam Bersosialisasi

 

Saat ini, kunjungan ke taman nasional hanya dibatasi dalam jumlah kecil. Untuk memasuki kawasan-kawasan yang dilindungi juga diterapkan protokol keamanan baru, seperti mengenakan masker dan menjaga jarak.

Selain itu, ancaman lain terhadap gorila yakni perburuan yang menjadi kekhawatiran besar bagi pihak berwenang, khususnya selama masa karantina wilayah.

Saat ini, ada sekitar 400 gorila yang hidup di Bwindi, dan terdiri dari 10 kelompok keluarga.

Baca juga: Kisah Dua Gorila yang Berpose di Hadapan Kamera bersama Penjaga

 

Spesies gorila gunung yang kian langka, hanya ditemukan di kawasan dilindungi di Republik Demokratik Kongo, Rwanda dan Uganda.

Selain di taman nasional Bwindi, gorila juga dapat ditemukan di sejumlah kawasan pegunungan Virunga Massif yang mencakup perbatakan ketiga negara.

Setelah upaya-upaya konservasi dilakukan di antaranya menghentikan perburuan, tahun 2018, gorila gunung dicabut dari daftar spesies sangat terancam punah oleh International Union for Conservation of Nature.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X