6 Bulan Pandemi Covid-19, Indonesia Hadapi Ancaman Orang Tanpa Gejala

Kompas.com - 02/09/2020, 08:05 WIB
Ilustrasi Covid-19 KOMPAS.COM/HANDOUTIlustrasi Covid-19

KOMPAS.com - Pandemi Covid-19 telah memasuki bulan keenam, sejak diumumkan kasus pertama di Indonesia pada awal Maret lalu.

Namun, sampai saat ini jumlah kasus terinfeksi masih terus meningkat. Bahkan, dari data terbaru pemerintah, pasien terinfeksi Covid-19 hingga 1 September 2020 mencapai 177.571 orang dan sebanyak 7.505 meninggal dunia.

Menurut epidemiolog Griffith University Dicky Budiman, tingginya angka tersebut belum merupakan puncak kasus Covid-19 di Indonesia. Kemungkinan, Indonesia masih akan menghadapi Covid-19 hingga akhir tahun depan.

Baca juga: 3.003 Kasus Baru Covid-19 dalam Sehari di Indonesia, Apa Sudah Puncak?

Dominasi Orang Tanpa Gejala

Selama enam bulan ini, tampaknya Indonesia masih mengahadapi kondisi outbreak asymptomatic, di mana wabah didominasi orang tanpa gejala, karena bonus demografi, yang mayoritas penduduknya adalah usia dewasa muda.

“Saat ini besar kemungkinan, orang-orang usia dewasa muda inilah yang terinfeksi. Karena mereka memiliki daya tahan tubuh yang lebih baik dibanding kelompok lain, sehingga ketika terinfeksi, tidak tampak gejala,” jelas Dicky pada Kompas.com (1/9/2020).

Namun, yang penting diingat adalah, tidak bergejala bukan berarti tidak sakit.

Bukti ilmiah menunjukkan, 50% dari orang tidak bergejala setelah diperiksa dengan CT Scan ternyata memiliki gangguan di paru dan 80% dari orang tanpa gejala mengalami gangguan menetap di jantung.

Bukan hanya mengalami penurunan kualitas kesehatan, melainkan juga berpotensi menurunkan kualitas sumber daya manusia bangsa Indonesia.

“Tentu ini akan merugikan Negara, karena orang-orang yang tadinya diharapkan produktif justru berpotensi jadi pesakitan. Efek penyakit Covid-19 memang tidak bisa dianggap enteng. Karena itu, lebih baik mencegah daripada terinfeksi Covid-19.”

Baca juga: WHO Prediksi, Pandemi Covid-19 Bisa Berakhir dalam 2 Tahun

Kolaborasi Belum Optimal

Dicky melanjutkan, masalah lain yang menyebabkan jumlah terinfeksi Covid-19 terus naik adalah belum adanya kolaborasi yang optimal antar sektor di pemerintahan, termasuk antar daerah dalam pelaksanaan strategi pencegahan.

“Meskipun cakupan testing dan tracig di wilayah Jakarta lebih baik dari wilayah lain, tapi Jakarta tidak menetapkan pengetatan di perbatasan. Sehingga wilayah lain di sekitarnya, yang testing dan tracingnya masih rendah, tetap bebas keluar masuk Jakarta, dengan kemungkinan membawa virus,” papar Dicky.

“Ini sesuai dengan hukum global health community, tidak ada satu wilayah pun yang bisa aman selama wilayah di sekitarnya belum aman,” imbuhnya.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Teknologi Lidar Bantu Arkeolog Ungkap Misteri Percandian Muarajambi

Teknologi Lidar Bantu Arkeolog Ungkap Misteri Percandian Muarajambi

Fenomena
Seri Budidaya Nusantara: Syarat dan Cara Pengembangan Lobster

Seri Budidaya Nusantara: Syarat dan Cara Pengembangan Lobster

Oh Begitu
Berkat Internet, Misteri Monolit Logam di Gurun Utah Mulai Terpecahkan

Berkat Internet, Misteri Monolit Logam di Gurun Utah Mulai Terpecahkan

Oh Begitu
Ilmuwan Berencana Pelajari Bebatuan Mars di Siprus, Ini Alasannya

Ilmuwan Berencana Pelajari Bebatuan Mars di Siprus, Ini Alasannya

Fenomena
Waspada Cuaca Ekstrem Akhir Pekan di Indonesia, Ini 2 Penyebabnya

Waspada Cuaca Ekstrem Akhir Pekan di Indonesia, Ini 2 Penyebabnya

Fenomena
Berusia 800 Tahun, Selimut Kuno Ini Terbuat dari 11.500 Bulu Kalkun

Berusia 800 Tahun, Selimut Kuno Ini Terbuat dari 11.500 Bulu Kalkun

Fenomena
9 Bulan Pandemi Covid-19, Pentingnya Mencari Makna Hidup di Tengah Penderitaan

9 Bulan Pandemi Covid-19, Pentingnya Mencari Makna Hidup di Tengah Penderitaan

Kita
Studi Terbesar Ungkap Risiko Kesehatan Terbesar di Ruang Angkasa

Studi Terbesar Ungkap Risiko Kesehatan Terbesar di Ruang Angkasa

Oh Begitu
Vaksin AstraZeneca-Oxford Alami Kekeliruan Dosis, Apa Maksudnya?

Vaksin AstraZeneca-Oxford Alami Kekeliruan Dosis, Apa Maksudnya?

Oh Begitu
Luar Angkasa Banyak Sampah, ESA Lakukan Misi Bersih-Bersih

Luar Angkasa Banyak Sampah, ESA Lakukan Misi Bersih-Bersih

Fenomena
Dicap Predator Buas, Hiu Raksasa Megalodon Rawat Anak Hingga Mandiri

Dicap Predator Buas, Hiu Raksasa Megalodon Rawat Anak Hingga Mandiri

Fenomena
Hati-hati, Memasak dengan Kayu Bakar bisa Sebabkan Kerusakan Paru-paru

Hati-hati, Memasak dengan Kayu Bakar bisa Sebabkan Kerusakan Paru-paru

Oh Begitu
Meninggalnya Bupati Situbondo, Benarkah Ada Jenis Virus Corona Ganas?

Meninggalnya Bupati Situbondo, Benarkah Ada Jenis Virus Corona Ganas?

Oh Begitu
Setelah Sinovac, Mungkinkah Vaksin Covid-19 AstraZeneca dan Pfizer Digunakan Juga di Indonesia?

Setelah Sinovac, Mungkinkah Vaksin Covid-19 AstraZeneca dan Pfizer Digunakan Juga di Indonesia?

Oh Begitu
Remaja Wajib Tahu, Kehamilan Usia Dini Berisiko Biologis hingga Psikologis

Remaja Wajib Tahu, Kehamilan Usia Dini Berisiko Biologis hingga Psikologis

Kita
komentar
Close Ads X