50 Planet Baru Ditemukan, Ilmuwan Gunakan AI untuk Gali Data NASA

Kompas.com - 31/08/2020, 19:02 WIB
Ilustrasi artificial intelligence (AI), kecerdasan buatan digunakan ilmuwan untuk mempelajari data lama NASA. Algoritme AI telah mengkonfirmasi 50 planet baru. SHUTTERSTOCK/Phonlamai PhotoIlustrasi artificial intelligence (AI), kecerdasan buatan digunakan ilmuwan untuk mempelajari data lama NASA. Algoritme AI telah mengkonfirmasi 50 planet baru.


KOMPAS.com - Memanfaatkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence ( AI), ilmuwan mendapatkan data puluhan planet baru.

Mesin yang mempelajari algoritma baru saja mengkonfirmasi keberadaan 50 planet baru dengan menggali data lama milik badan antariksa Amerika Serikat ( NASA).

Tim dari Universitas Warwick yang memberikan kumpulan data besar yang berasal dari misi Kepler NASA yang saat ini telah dihentikan dan Satelit Survei Planet Luar Angkasa Transit (TESS), serta teleskop luar angkasa yang diluncurkan pada 2018.

Dilansir dari Futurism, Senin (31/8/2020), ilmuwan mengharapkan bahwa penelitian mereka dapat membuka cara baru untuk teknik validasi planet masa depan.

Baca juga: AI Disebut Revolusi dalam Kajian Luar Angkasa, Kok Bisa?

 

Untuk pertama kalinya dalam sejarah astronomi, tim mengatakan bahwa algoritme AI dapat mengkonfonfirmasi adanya 50 planet baru.

"Algoritme yang dikembangkan memungkinkan kami mendapatkan 50 kandidat planet yang melewati ambang batas dari validasi planet, meningkatkannya menjadi planet nyata," kata David Armstrong, dari departemen fisika, University of Warwick.

Kecerdasan buatan atau AI memberikan kemampuan yang canggih bagi astronom untuk memvalidasi dunia yang jauh.

Menurut Armstrong seperti dilansir dari Cnet, memvalidasi planet dapat membantu ilmuwan mengarahkan sumber dayanya ke tempat-tempat menarik di luar angkasa tanpa membuang-buang waktu di planet "palsu".

 

Ilustrasi planet di dalam Tata Surya.SHUTTERSTOCK/Vadim Sadovski Ilustrasi planet di dalam Tata Surya.

Armstrong yang juga merupakan penulis utama makalah yang diterbitkan dalam jurnal Monthly Notices of Royal Astronomical Society ini menyebut planet-planet ini memiliki berbagai ukuran.

Beberapa di antaranya bahkan berukuran sebesar Neptunus, dan yang lainnya ada yang lebih kecil dari Bumi.

"Daripada mengatakan calon planet mana yang lebih mungkin menjadi planet, sekarang kami dapat mengatakan potensi statistik yang tepat. Di mana terdapat kurang dari 1 persen kemungkinan kandidat menjadi palsu, itu dianggap sebagai planet yang tervalidasi," kata Armstrong.

Ini tidak hanya sangat efektif, algoritme bekerja dengan sangat cepat dengan sendirinya.

Baca juga: Di Masa Depan Teknologi AI Ruang Angkasa Bermanfaat untuk Kemanusiaan, Kok Bisa?

 

“Kami masih harus menghabiskan waktu untuk melatih algoritme, tetapi setelah itu selesai, akan jauh lebih mudah untuk menerapkannya ke kandidat yang akan datang,” tutur Armstrong.

Kemampuan untuk mengkonfirmasi planet menggunakan metode  artificial intelligence atau kecerdasan buatan ini adalah satu langkah maju. Ilmuwan telah menggunakan pembelajaran mesin untuk menentukan peringkat calon planet.

Teknik saat ini untuk mengenali dan memastikan keberadaan planet lain mudah terpengaruh oleh suara, interferensi objek di latar belakang, atau bahkan kesalahan pada kamera.

Dengan AI, ilmuwan harus menyaring banyak data NASA untuk mencari tahu apa itu planet  yang nyata dan palsu. Selanjutnya, mereka memisahkan dataset yang belum divalidasi untuk calon planet baru.



Sumber CNET,Futurism
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Studi: Materi Gelap Ini Ganggu Pergerakan Galaksi Bima Sakti, Apa Itu?

Studi: Materi Gelap Ini Ganggu Pergerakan Galaksi Bima Sakti, Apa Itu?

Oh Begitu
Kali Pertama, Virus Corona Kerabat SARS-CoV-2 Ditemukan di Jepang dan Kamboja

Kali Pertama, Virus Corona Kerabat SARS-CoV-2 Ditemukan di Jepang dan Kamboja

Fenomena
Vaksin Oxford 70 Persen Efektif dan Mudah Disimpan, Epidemiolog: Cocok untuk Indonesia

Vaksin Oxford 70 Persen Efektif dan Mudah Disimpan, Epidemiolog: Cocok untuk Indonesia

Oh Begitu
Misi Bersejarah, China Luncurkan Chang'e 5 untuk Ambil dan Kembalikan Sampel Bulan

Misi Bersejarah, China Luncurkan Chang'e 5 untuk Ambil dan Kembalikan Sampel Bulan

Fenomena
BPOM Targetkan Januari Beri Izin Vaksin Sinovac, Ini Kata Epidemiolog

BPOM Targetkan Januari Beri Izin Vaksin Sinovac, Ini Kata Epidemiolog

Oh Begitu
WHO: Vaksin Covid-19 yang Berhasil Harus Didistribusikan dengan Adil

WHO: Vaksin Covid-19 yang Berhasil Harus Didistribusikan dengan Adil

Oh Begitu
Studi Baru Tunjukkan Kapan Virus Corona Covid-19 Paling Menular

Studi Baru Tunjukkan Kapan Virus Corona Covid-19 Paling Menular

Kita
Selain Membersihkan Tubuh, Mandi Bermanfaat untuk Kesehatan Fisik dan Mental

Selain Membersihkan Tubuh, Mandi Bermanfaat untuk Kesehatan Fisik dan Mental

Oh Begitu
Jarang Terjadi, Monyet Ini Tertangkap Melakukan Tindakan Kanibalisme

Jarang Terjadi, Monyet Ini Tertangkap Melakukan Tindakan Kanibalisme

Oh Begitu
Misteri Tubuh Manusia: Bagaimana Kita Bedakan Wajah Pria dan Wanita?

Misteri Tubuh Manusia: Bagaimana Kita Bedakan Wajah Pria dan Wanita?

Kita
Keanekaragaman Indonesia Peringkat Pertama Pusat Biodiversitas Dunia

Keanekaragaman Indonesia Peringkat Pertama Pusat Biodiversitas Dunia

Oh Begitu
Ilmuwan Ciptakan Ulang Aroma Eropa Abad Ke-16, Seperti Apa?

Ilmuwan Ciptakan Ulang Aroma Eropa Abad Ke-16, Seperti Apa?

Fenomena
Usai Perjalanan 5,24 Miliar Kilometer, Hayabusa2 Kembali ke Bumi

Usai Perjalanan 5,24 Miliar Kilometer, Hayabusa2 Kembali ke Bumi

Oh Begitu
Kenakalan Bocah Kleptomania Pencandu Narkoba, Bisakah Sembuh dari Kecanduan?

Kenakalan Bocah Kleptomania Pencandu Narkoba, Bisakah Sembuh dari Kecanduan?

Oh Begitu
Bocah 8 Tahun Suka Mencuri Diduga Kleptomania, Apa Itu?

Bocah 8 Tahun Suka Mencuri Diduga Kleptomania, Apa Itu?

Oh Begitu
komentar
Close Ads X