Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Masalah Gizi di Indonesia Mengkhawatirkan, Bagaimana Kondisi Selama Pandemi Virus Corona?

Kompas.com - 30/08/2020, 18:05 WIB
Ellyvon Pranita,
Holy Kartika Nurwigati Sumartiningtyas

Tim Redaksi


KOMPAS.com- Pemenuhan gizi yang cukup dan seimbang di masa sebelum pandemi virus corona ada sudah menjadi masalah yang serius di Indonesia.

Ditambah adanya pandemi Covid-19 yang terus bertambah angka kasus infeksinya dan berdampak pada banyak sektor sampai perekonomian juga menjadikan masalah pemenuhan gizi bagi anak-anak turut membutuhkan perhatian lebih.

Hal ini disampaikan oleh ahli gizi dan Ketua Tim Ahli Pengembang Panduan Isi Piringku untuk anak usia 4-6 tahun, Prof Dr Ir Sri Anna Marliyati MSi.

Menurut Anna, permasalahan gizi di masa pandemi ini tidak jauh berbeda dengan kondisi sebelum adanya pandemi virus corona menjangkiti Indonesia. Untuk diketahui, permasalahan gizi di Indonesia sebelum terjadinya pandemi, di antaranya sebagai berikut.

Baca juga: Ahli Sebut Lagu Bantu Stimulasi Positif Anak untuk Pahami Gizi Seimbang

 

  1. Seputar gizi berlebihan (obesitas dan kegemukan),
  2. Kekurangan gizi (kurus),
  3. Stunting (pendek),
  4. Gizi buruk yang dapat terjadi malnutrisi akut dan berpotensi kematian,
  5. Defisiensi zat gizi mikro yang dibutuhkan tubuh dalam tumbuh kembang.

Perwakilan Dana Anak-anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) mengatakan, sebelum terjadi pandemi sudah ada sekitar 2 juta anak Indonesia yang menderita gizi buruk. Lebih dari 7 juta anak di bawah usia lima tahun mengalami stunting di Indonesia.

Bahkan, UNICEF memperkirakan jumlah anak yang mengalami kekurangan gizi akut di bawah lima tahun bisa meningkat 15 persen secara global pada tahun ini jika tidak ada tindakan.

Baca juga: Perhatikan Asupan Gizi Ibu Hamil di Tengah Pandemi Covid-19

 

"Tapi memang, ini akan mengalami peningkatan secara global jika tidak ada tindakan," kata Anna dalam acara bertajuk Upaya Penguatan Edukasi Perilaku Gizi Seimbang untuk Anak pada Masa Adaptasi Kebiasan Baru, Jumat (28/8/2020).

Hal itu disebabkan, kelompok yang rentan seperti balita dan ibu hamil di tengah pandemi ini semakin berisiko mengalami keterbatasan pangan dalam keluarga.

Padahal, beban malnutrisi pun sudah sering dialami dan terjadi pada balita dan ibu hamil di sejumlah presentasi masyarakat Indonesia meski tidak ada pandemi.

"Ditambah adanya pandemi ini, daya beli (asupan bergizi) juga menurun," ujarnya.

Ilustrasi pemenuhan gizi anak dengan mengenalkan makanan bernutrisi seimbang. Edukasi dengan lagu dapat menstimulus anak.SHUTTERSTOCK/Evgeny Atamanenko Ilustrasi pemenuhan gizi anak dengan mengenalkan makanan bernutrisi seimbang. Edukasi dengan lagu dapat menstimulus anak.

Oleh sebab itu, Anna mengingatkan agar semua pihak,haru memperhatikan kondisi buruk yang akan terjadi jika banyak anak Indonesia mengalami malnutrisi akibat kekurangan asupan gizi di tengah pandemi virus corona ini.

Bisa jadi, pascapandemi selesai tetapi masalah malnutrisi pada anak ini tidak dimitigasi sejak dini, maka akan menimbulkan angka kasus kekurangan gizi, gizi buruk, stunting, defisiensi zat gizi mikro bertambah meningkat lagi kasusnya.

Sehingga, membuat target Indonesia Emas pada tahun 2045 dan anak-anak terbebas dari stunting bisa ikut terhambat.

Baca juga: PBB: Hampir 7 Juta Anak Terancam Stunting Akibat Pandemi Covid-19

 

Pasalnya, data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menemukan bahwa tingkat stunting di Indonesia mencapai 30,81 persen.

Persentasi ini disebutkan sudah mengalami penurunan dibandingkan kasus stunting pada tahun 2013 yang mencapai 37,2 persen.

Hanya saja, angka ini masih jauh di bawah standar kasus stunting yang bisa ditoleransi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yaitu paling banyak setidaknya hanya 20 persen saja. Akan lebih baik jika kasus kejadian stunting bisa mencapai di bawah 20 persen.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com