Riset Kelautan di Indonesia, Maju Tapi Tertinggal

Kompas.com - 29/08/2020, 17:34 WIB
Ilustrasi lautan, mahluk laut, virus di lautan Keiki/ShutterstockIlustrasi lautan, mahluk laut, virus di lautan

Oleh: Dr. Augy Syahailatua

TAHUN ini, kita memperingati 25 tahun Kebangkitan Teknologi Nasional dan 75 tahun Kemerdekaan Indonesia. Ironisnya selama lebih dari tujuh dekade, riset kelautan tampak semakin maju, namun dalam banyak hal sebenarnya sangat tertinggal. Akibatnya capaian dari riset kelautan belum dapat memberikan nilai tambah yang signifikan bagi kemajuan bangsa.

Indonesia merupakan negara kepulauan dengan luas wilayah laut 5,8 juta kilometer persegi. Tidak dapat disangkal bahwa negara ini memiliki sumber daya laut yang melimpah.

Tercatat, riset kelautan Indonesia sudah dimulai sejak tahun 1872, ketika ekspedisi “Challenger” dari Inggris melewati kawasan Indonesia. Pada ekspedisi ini dilakukan pengukuran suhu dan salinitas di Laut Banda pada kedalaman 5000 meter.

Sedangkan lembaga penelitian laut sudah ada sejak tahun 1905 dengan nama “Visscherij Laboratorium te Batavia” yang saat itu, berlokasi di Sunda Kelapa, Jakarta. Lembaga ini kemudian bermetamorfasa dan dikenal sebagai Pusat Penelitian Oseanografi LIPI.

Jadi, sebenarnya kegiatan riset kelautan di Indonesia sudah dimulai lebih dari 115 tahun lampau.

Berbagai kemajuan telah dicapai dalam riset kelautan selama beberapa dekade terakhir, dan banyak hasil nyata telah diperoleh.

Kita telah mengetahui keanekaragaman hayati laut, dengan mencatat lebih dari 10.000 jenis biota laut. Jumlah jenis karang tercatat mencapai 569 spesies, yang berarti 70 persen dari jumlah jenis karang di dunia berada di perairan Indonesia. Sehingga sangat wajar bila Indonesia dikenal sebagai pusat biodiversitas laut dunia. Namun demikian, masih banyak jenis biota laut yang belum tereksplorasi, terutama yang habitatnya di wilayah laut-dalam.

Hasil lain yang signifikan lewat ekspedisi Baruna di tahun 1964, dapat mengungkapkan sumber daya udang yang melimpah di Laut Arafura. Di samping itu, kita juga sudah mampu memijahkan ikan tuna sirip kuning (madidihang), dan berhasil membudidayakannya; walaupun budi daya lobster masih terus dikembangkan. Jadi, riset kelautan sebenarnya memiliki banyak hasil yang signifikan dalam perspektif ilmu pengetahuan.

Dukungan dari SDM peneliti juga semakin kuat, dan hampir tersebar di seluruh wilayah Nusantara. Ada lebih dari 1.000 dosen di 108 Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, dan lebih dari 500 peneliti kelautan dengan berbagai disiplin ilmu di berbagai lembaga riset kelautan.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X