Mengapa Plasma Darah untuk Terapi Covid-19 Perlu Uji Klinis? Ini Penjelasan Ahli

Kompas.com - 27/08/2020, 09:02 WIB
Ilustrasi pasien Covid-19 yang sembuh dari infeksi virus corona SARS-CoV-2 mendonorkan plasma darah untuk terapi plasma konvalense (plasma sembuh). Ilustrasi pasien Covid-19 yang sembuh dari infeksi virus corona SARS-CoV-2 mendonorkan plasma darah untuk terapi plasma konvalense (plasma sembuh).


KOMPAS.com- Saat ini plasma darah atau plasma konvalesen untuk pasien Covid-19 sedang dalam pengujian klinik di Indonesia.

Sebelum uji klinis terselesaikan dengan baik secara keseluruhan, maka pemberian atau transfusi plasma darah kepada pasien yang sedang terinfeksi Covid-19 belum bisa diberikan.

Disampaikan oleh Wakil Kepala Bidang Penelitian Translasional di Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman, Prof dr David H Muljono SpPD FINASIM FAASLD PhD, pemberian sebelum terselesaikan uji klinik, terapi terapi plasma konvalesen dapat berisiko gagal.

"Kalau tidak di uji klinik atau tidak selesai di uji netralisasinya itu bisa berbahaya, karena kita tidak tahu apakah isi plasma itu apa," kata David kepada Kompas.com melalui virtual daring, Selasa (25/8/2020).

Baca juga: Penemuan yang Mengubah Dunia: Sebelum Vaksinasi, Plasma Darah Senjata Melawan Pandemi sejak 1880-an

 

Seperti diketahui, plasma konvalesen adalah plasma darah yang diambil dari pasien Covid-19 yang telah sembuh, dan kemudian diproses agar dapat diberikan kepada pasien yang sedang terinfeksi virus corona, SARS-Cov-2 penyebab Covid-19.

Pemberian plasma darah pasien sembuh dari Covid-19 ini diharapkan dapat membantu pasien yang sedang terinfeksi untuk lebih kuat lagi melawan serangan virus tersebut.

Mengapa plasma konvalesen perlu uji klinis?

Plasma darah atau plasma konvalesen terbaik yang diberikan dalam terapi ini, haruslah mengandung antibodi spesifik terhadap virus SARS-CoV-2 dan juga memiliki titer (kadar) yang tidak rendah atau harus lebih dari 1/80.

Baca juga: Plasma Konvalesen untuk Pengobatan Covid-19, Begini Syarat Jadi Donor

 

"Kita itu belum tahu ya, makanya perlu dites atau diuji itu supaya kita tahu apakah plasma darahnya itu memang mengandung antibodi yang spesifik apa nggak, titernya cukup apa nggak," kata David.

Sebab, para peneliti belum mengetahui kedua inti dasar tersebut hanya dengan melihat sampel plasma darah yang diambil dari penyintas Covid-19 saja.

Selain itu juga, David berkata, pemberian plasma darah atau plasma konvalesen ini meski terbilang lebih sederhana daripada pembuatan vaksin tetapi tetap memiliki risiko berbahaya.

"Itu kalau kita beri (plasma darah penyintas) tapi antibodinya tidak spesifik atau spesifik (antibodi untuk SARS-CoV-2) tapi titernya (kadar) rendah itu bisa jadi risiko untuk pasien penerima, bisa ada reaksi tubuh yang parah," kata dia.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X