Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 25/08/2020, 08:02 WIB

KOMPAS.com - Ahli menyebut, tingkat kepatuhan terhadap protokol kesehatan serta perilaku hidup bersih dan sehat menjadi salah satu faktor penyebab banyak pria terinfeksi Covid-19.

Hal ini disampaikan oleh Ahli Psikologi Politik Universitas Indonesia, Prof Hamdi Muluk dalam streaming akun youtube BNPB bertajuk Benarkah Perempuan Lebih Sukses Mengubah Perilaku? yang diadakan Senin (24/8/2020).

"Dengan kondisi secara psikologis, laki-laki itu sebenarnya lebih teledor dibandingkan perempuan, apalagi dalam mematuhi protokol kesehatan. Dan dia (pria) didorong untuk ke luar rumah (mencari nafkah) itu juga persoalan yang menambah kerentanan (terinfeksi Covid-19)," jelasnya.

Berdasarkan data yang masuk hingga pukul 12.00 WIB,Senin (20/8/2020) diumumkan oleh Satuan Tugas Penanganan Covid-19, jumlah kasus total sudah ada 155.412 kasus Covid-19 di Indonesia, tehitung sejak kasus pertama yang diumumkan pada 2 Maret 2020.

Baca juga: Pedoman Baru WHO soal Covid-19, Anak Usia 12 Tahun Wajib Pakai Masker

Hamdi menjelaskan, dari berbagai referensi kajian atau studi-studi terkait pandemi Covid-19 di seluruh negara dan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) serta Psi-corona projek miliknya, ada temuan yang konsisten terkait penularan Covid-19 dari sisi perilaku sosial dalam kehidupan sehari-hari.

Hamdi menyebutkan setidaknya ada tiga aspek untuk melihat seberapa jauh perilaku seseorang dalam kondisi pandemi Covid-19 saat ini yaitu aspek kognisi, aspek emosi, dan aspek motivasi atau perilaku.

Dijelaskan Hamdi, aspek kognisi adalah persoalan tentang apa yang dipikirkan, apa yang diketahui, dan termasuk seluk-beluk soal virus corona itu juga.

"Faktor kognisi itu faktor pengetahuan (tentang Covid-19)," ujarnya.

Secara kognisi ada yang disebut dengan persepsi risiko. Jadi ini adalah landasan seberapa jauh orang merasa bahwa hal yang ia lakukan memiliki resiko serius tertular virus corona.

Ironisnya lagi, kata dia, laki-laki memiliki persepsi risiko yang jauh lebih rendah daripada perempuan. Ini juga menjadi masalah.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Mengapa Ular Memiliki Dua Penis?

Mengapa Ular Memiliki Dua Penis?

Oh Begitu
Seperti Apa Wujud Ikan Misterius yang Ditemukan di Gua China?

Seperti Apa Wujud Ikan Misterius yang Ditemukan di Gua China?

Oh Begitu
Kenapa Kepiting Berjalan Menyamping?

Kenapa Kepiting Berjalan Menyamping?

Oh Begitu
Apa Perbedaan Gajah dan Mammoth?

Apa Perbedaan Gajah dan Mammoth?

Oh Begitu
Apakah Kunyit Bermanfaat untuk Menurunkan Berat Badan?

Apakah Kunyit Bermanfaat untuk Menurunkan Berat Badan?

Oh Begitu
Bagaimana Legenda Bigfoot Bermula?

Bagaimana Legenda Bigfoot Bermula?

Oh Begitu
Apakah Bigfoot Benar-benar Ada? Ini Penjelasan Ilmuwan

Apakah Bigfoot Benar-benar Ada? Ini Penjelasan Ilmuwan

Oh Begitu
Kenapa Februari Hanya Ada 28 Hari?

Kenapa Februari Hanya Ada 28 Hari?

Oh Begitu
Apa Fungsi Lutut?

Apa Fungsi Lutut?

Kita
5 Hewan yang Paling Banyak Membunuh Manusia

5 Hewan yang Paling Banyak Membunuh Manusia

Oh Begitu
Siapa Itu Nefertiti, Sosok Ratu Mesir Kuno yang Dikenal Karismatik?

Siapa Itu Nefertiti, Sosok Ratu Mesir Kuno yang Dikenal Karismatik?

Oh Begitu
Sejarah Penemuan Gergaji Mesin, Awalnya untuk Persalinan

Sejarah Penemuan Gergaji Mesin, Awalnya untuk Persalinan

Oh Begitu
Kenapa Banyak Orang yang Suka Cerita tentang Zombi?

Kenapa Banyak Orang yang Suka Cerita tentang Zombi?

Oh Begitu
Terlalu Banyak Makan Junk Food Tingkatkan Risiko Depresi

Terlalu Banyak Makan Junk Food Tingkatkan Risiko Depresi

Kita
Apa yang Terjadi pada Tubuh jika Berhenti Makan Karbohidrat?

Apa yang Terjadi pada Tubuh jika Berhenti Makan Karbohidrat?

Kita
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+