Plasma Konvalesen untuk Pengobatan Covid-19, Begini Syarat Jadi Donor

Kompas.com - 24/08/2020, 18:32 WIB
Petugas medis memeriksa kantong berisi plasma konvalesen dari pasien sembuh COVID-19 di Unit Tranfusi Darah (UTD) Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto Jakarta, Selasa (18/8/2020). Pengambilan plasma konvalesen pasien sembuh COVID-19  yang menggunakan alat apheresis bertujuan untuk membantu penyembuhan pasien terkonfirmasi COVID-19. ANTARA FOTO/NOVA WAHYUDIPetugas medis memeriksa kantong berisi plasma konvalesen dari pasien sembuh COVID-19 di Unit Tranfusi Darah (UTD) Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto Jakarta, Selasa (18/8/2020). Pengambilan plasma konvalesen pasien sembuh COVID-19 yang menggunakan alat apheresis bertujuan untuk membantu penyembuhan pasien terkonfirmasi COVID-19.


KOMPAS.com- Plasma konvalesen atau plasma darah dari pasien yang sembuh dari infeksi virus corona dianggap berpotensi menjadi terapi yang aman untuk pasien Covid-19.

Bahkan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) Amerika Serikat (AS) mengizinkan penggunaan plasma darah untuk pengobatan penyakit Covid-19.

Plasma konvalesen adalah plasma darah yang diambil dari pasien Covid-19 yang telah sembuh, dan kemudian diproses agar dapat diberikan kepada pasien yang sedang terinfeksi virus SARS-Cov-2 penyebab Covid-19 yang dalam penanganan saat ini.

Seperti diberitakan Kompas.com, Senin (18/5/2020) lalu, Direktur Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman Amin Soebandrio mengatakan pengambilan dan pemberian plasma konvalesen ini tidak bisa sembarangan.

Baca juga: Plasma Konvalesen untuk Pengobatan Covid-19 Diizinkan FDA AS, Begini Cara Kerjanya

 

Sebab, pengambilan sampel plasma darah dari pasien sembuh (penyintas) Covid-19 sebagai donor, dan pasien penerima terapi plasma konvalesen itu juga akan dipilah sesuai dengan kategori dan persyaratan yang telah ditentukan.

Adapun, pengujian atau penelitian terhadap plasma ini dilakukan karena diharapkan dapat menangani pasien dengan Covid-19 yang cukup berat reaksi tubuhnya, seperti terapi bagi pasien tersebut.

"Ini (plasma konvalesen) bisa jadi imunisasi pasif. Sedangkan vaksin adalah imunisai aktif," kata Amin dalam diskusi daring bertajuk Riset dalam Menemukan Vaksin dan Obat Anti Covid-19, Jumat (15/5/2020).

Syarat donor plasma konvalesen Covid-19

Donor penyintas Covid-19 ini adalah mereka yang sudah pernah terinfeksi virus corona SARS-CoV-2, dan sembuh dari infeksi tersebut lebih dari 14 hari.

Baca juga: Antibodi dari Plasma Darah Pasien Corona Efektif Deteksi Covid-19, Ini Penjelasannya

 

Donor penyintas ini nantinya akan diambil plasma darah di dalam tubuhnya dan teliti, hingga hasilnya akan diberikan kepada pasien Covid-19 yang sedang terinfeksi dengan gejala berat. Berikut syarat untuk donor plasma darah untuk plasma konvalesen Covid-19.

  1. Diutamakan laki-laki
  2. Jika perempuan, yang belum pernah hamil
  3. Sehat dan dibuktikan dengan hasil laboratorium
  4. Bebas dari infeksi virus corona, atau telah sembuh minimal selama 14 hari
  5. Bebas dari virus, parasit atau patogen lain berpotensi bisa ditransmisikan melalui darah
  6. Memiliki titer antibodi yang cukup tinggi berdasarkan hasil uji netralisasi

Kriteria penggunaan plasma konvalesen

Kategori fokus yang dilakukan oleh para peneliti terkait plasma konvalesen untuk pandemi Covid-19 saat ini, yakni sebagai berikut.

Petugas medis menyusun kantong berisi plasma konvalesen dari pasien sembuh COVID-19 di Unit Tranfusi Darah (UTD) Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto Jakarta, Selasa (18/8/2020). Pengambilan plasma konvalesen pasien sembuh COVID-19  yang menggunakan alat apheresis bertujuan untuk membantu penyembuhan pasien terkonfirmasi COVID-19.ANTARA FOTO/NOVA WAHYUDI Petugas medis menyusun kantong berisi plasma konvalesen dari pasien sembuh COVID-19 di Unit Tranfusi Darah (UTD) Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto Jakarta, Selasa (18/8/2020). Pengambilan plasma konvalesen pasien sembuh COVID-19 yang menggunakan alat apheresis bertujuan untuk membantu penyembuhan pasien terkonfirmasi COVID-19.

1. Sampel plasma memenuhi syarat

Tidak semua sampel plasma yang diambil dari pasien Covid-19 yang sembuh akan langsung diteliti dan diuji oleh peneliti. Akan tetapi, plasma aferesis di Unit Transfusi Darah yang akan diteruskan dalam pengujian dan penelitian adalah yang memenuhi persyaratan peneliti.

Syaratnya, sampel plasma darah bebas dari infeksi virus, baik itu virus corona, parasit ataupun patogen lainnya yang memungkinkan dapat ditransmisikan melalui darah, serta memiliki titer antibodi yang cukup tinggi.

2. Penyimpanan pada suhu tertentu

Tahapan yang penting setelah plasma darah yang memenuhi syarat berhasil diteliti dan siap ditransfusikan kepada pasien adalah penyimpanan plasma tersebut.

Baca juga: Ilmuwan Deteksi Antibodi Plasma Darah untuk Lawan Corona SARS-CoV-2

 

Amin mengatakan, penyimpanan untuk plasma darah siap transfusi ini tidak bisa sembarangan, terutama harus disimpan dengan suhu tertentu.

3. Distribusi plasma konvalesen 

Diakui Amin, pengiriman merupakan kendala besar yang sedang dipikirkan oleh peneliti agar bisa menjangkau seluruh wilayah di Indonesia dengan plasma dalam kondisi baik.

Pasalnya, penyimpanan plasma membutuhkan suhu khusus dan jarak antar-wilayah di Indonesia ini banyak yang jauh-jauh, dan kendala lainnya diperjalanan tanpa disangka.

Syarat penerima plasma konvalesen

Amin berkata, untuk kategori pasien penerima plasma konvalesen ini tidak mungkin diberikan kepada semua pasien terkonfirmasi positif Covid-19. Melainkan harus memiliki kualifikasi dan diperlakukan seperti berikut.

Baca juga: ITB Punya Alat Pemurni Antibodi Plasma Darah Pasien Covid-19, tapi...

 

1. Memiliki gejala Covid-19 berat

Kualifikasi pertama pasien yang akan diberikan terapi plasma konvalesen ini adalah pasien yang memiliki indikasi gejala berat saja, tidak untuk semua pasien yang terinfeksi Covid-19.

"Pasiennya sendiri, diberikan kepada mereka yang indikasinya (keluhannya) berat. Ini (terapi plasma konvalesen) bukan untuk pencegahan. Beda dengan vaksin," tegasnya.

Dengan kata lain, terapi plasma konvalesen ini tidak bisa diberikan kepada pasien Covid-19 yang memiliki gejala ringan dan orang yang sehat.

Ilustrasi pasien Covid-19 yang sembuh dari infeksi virus corona SARS-CoV-2 mendonorkan plasma darahnya untuk terapi plasma konvalense (plasma sembuh). Ilustrasi pasien Covid-19 yang sembuh dari infeksi virus corona SARS-CoV-2 mendonorkan plasma darahnya untuk terapi plasma konvalense (plasma sembuh).

2. Dosis plasma tergantung kadar antibodi

Terapi plasma konvalesen ini disebut sebagai terapi tambahan untuk pasien Covid-19, sehingga dosis yang diberikan pun tidak akan sama antar-pasien.

Dosis akan ditentukan tergantung dengan kadar antibodi plasma yang diperoleh dari donor.

Untuk diketahui, setiap kadar antibodi plasma pasien yang sembuh dari Covid-19 sebagai donor, akan berbeda-beda. Pasien yang diberikan terapi plasma konvalesen ini nantinya disesuaikan dengan kadar dari plasma masing-masing itu.

Baca juga: Pengobatan Corona: Plasma Darah Pasien Covid-19 Perlu Dimurnikan, Kenapa?

 

3. Pasien Covid-19 akan terus dipantau

Pemantauan dan evaluasi akan terus dilakukan kepada pasien Covid-19 yang menerima terapi plasma konvalesen ini.

Hal ini perlu dilakukan, karena belum ada negara yang membuat plasma konvalesen ini menjadi pengobatan standar meskipun sudah banyak dilakukan oleh banyak negara hingga saat ini untuk berbagai penyakit lainnya.

Sementara, hanya FDA AS yang baru mengklaim bahwa terapi plasma konvalesen dari plasma darah pasien sembuh Covid-19 efektif untuk penyembuhan, bahkan dalam masa perawatan tiga hari.

Baca juga: Terapi Plasma Darah Efektif Sembuhkan Covid-19, Benarkah?

 

4. Pelaporan

Mengenai kategori pelaporan ini, kata Amin, tindakan terapi konvalesen ini sudah disepakati antar lembaga atau instansi pemerintah, pendidikan atau perguruan tinggi, dan industri untuk dapat membuat protokol terkait etik.

Dalam penelitian ini, kerjasama yang dilakukan memiliki target pelaksanaan masing-masing. Kementerian Kesehatan berkewenangan dalam pelayanan di rumah sakit. Badan POM Indonesia dalam hal investigasi new drug.

Palang Merah Indonesia (PMI) berperan dalam blood product atau produk plasma darah sesuai kategori. LBM Eijkman berperan untuk melakukan uji netralisasi (BSL3) agar plasma konvalesen ini dapat diberikan sebagai imunisasi pasif bagi pasien Covid-19.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X