Ancaman Karhutla 4 Provinsi di Indonesia Berpotensi Terbakar Luas, Ini Pencegahannya

Kompas.com - 15/08/2020, 13:02 WIB
Petugas gabungan memadamkan titik api karhutla yang terjadi di perbatasan Desa Merbau, Kecamatan Bunut dengan Desa Pangkalan Terap, Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan, Riau, Minggu (28/6/2020). Dok. BPBD Pelalawan.Petugas gabungan memadamkan titik api karhutla yang terjadi di perbatasan Desa Merbau, Kecamatan Bunut dengan Desa Pangkalan Terap, Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan, Riau, Minggu (28/6/2020).


KOMPAS.com- Kebakaran hutan dan lahan ( karhutla), serta pandemi Covid-19 dianggap sebagai ancaman ganda untuk negara Indonesia di tahun 2020.

Sembari berupaya mengatasi persoalan pandemi Covid-19, mitigasi karhutla menjadi fokus penanganan yang tidak bisa diabaikan.

Sepert diketahui, di Indonesia, karhutla sudah menjadi bencana yang terus berulang setiap tahunnya, bahkan sudah berlangsung selama lebih dari tiga dekade.

Umumnya, bencana kebakaran hutan dan lahan seringkali terjadi dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan yaitu pada musim kemarau.

Baca juga: Karhutla dan Corona Ancaman Ganda Indonesia, Begini Analisis Dampaknya

Sementara, saat ini Indonesia sedang berada di musim kemarau yang diperkirakan masih akan berlanjut hingga Oktober mendatang.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P3ML) Wiendra Waworuntu mengatakan mitigasi dan respon penanggulangan pada wilayah yang mengalami kebakaran hutan dan lahan menjadi penting.

Serta, pada situasi karhutla tahun ini diperlukan protokol tersendiri untuk mencegah penularan serta penyebaran ISPA dan Covid-19.

"Dampaknya kalau masa kebakaran hutan, ada beberapa jurnal yang mengatakan terjadi peningkatan juga kasus Covid-19 di udara panas, yang akan berdampak pada peningkatan kasus," kata Wiendra dalam Katadata Forum Virtual Series bertajuk Ancaman Karhutla dan Covid-19 di Masa Pandemi, Kamis (13/8/2020).

Baca juga: Antipasi Karhutla, BPPT Siap Turunkan Hujan Buatan di Riau dan Jambi

Senada dengan Wiendra, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Doni Monardo mengatakan pemerintah sudah menyadari potensi bencana dari ancaman ganda karhutla dan Covid-19 di tahun ini.

Oleh sebab itu, Doni menegaskan perlu ada upaya yang lebih seirus dan lebih optimal lagi untuk menyampaikan ke seluruh lapisan masyarakat agar mencegah terjadinya karhutla.

"Jangan ada yang membiarkan terjadinya kebakaran," tegasnya.

Untuk memperkuat komitmen BNPB dalam langkah mitigasi karhutla ini, Yayasan Madani Berkelanjutan mengambil inisiatif melakukan analisis mengenai pemetaan Area Rawan Terbakar (ART) dan Area Potensi Terbakar (APT).

Halaman:

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X