Soal Vaksin Corona Rusia, WHO Akan Lakukan Pra-kualifikasi Vaksin

Kompas.com - 13/08/2020, 18:35 WIB
Ilustrasi vaksin corona ShutterstockIlustrasi vaksin corona

KOMPAS.com - Pada Selasa (11/8/2020), Rusia menjadi negara pertama yang mengumumkan bahwa temuan vaksin virus coronanya siap digunakan.

Terkait hal ini, muncul keraguan dari ilmuwan internasional. WHO pun bersikap hati-hati mengenai pernyataan Rusia tersebut.

Presiden Rusia Vladimir Putin menekankan vaksin tersebut sudah menjalani tes yang diperlukan dan terbukti efisien, menawarkan kekebalan yang tahan lama dari virus corona.

Baca juga: Vaksin Corona Rusia Siap Digunakan, Ilmuwan Ragukan Keamanannya

"Sejauh yang saya tahu, vaksin virus corona pertama di dunia sudah disetujui pagi ini. Saya tahu vaksin ini telah terbukti efisien dan membentuk kekebalan yang stabil, dan saya ulangi, vaksin ini sudah lolos semua tes yang diperlukan."

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pada hari Selasa (11/8/2020) menanggapi pengumuman Rusia tersebut dan mengatakan sedang mengadakan pembicaraan dengan Rusia mengenai vaksin COVID-19 yang baru disetujui itu.

Juru bicara WHO Tarik Jasarevic, menekankan pra-kualifikasi akan mencakup peninjauan dan penilaian yang cermat atas semua data keamanan dan kemanjuran yang disyaratkan.

"Kami berhubungan erat dengan otoritas kesehatan Rusia dan pembicaraan sedang berlangsung sehubungan dengan kemungkinan WHO melakukan pra-kualifikasi vaksin itu, namun sekali lagi pra-kualifikasi vaksin apa pun selalu melibatkan peninjauan dan penilaian yang ketat terhadap semua data keamanan dan kemanjuran yang disyaratkan," ujar Tarik.

Putin mengatakan salah satu putrinya telah diinokulasi dan terlibat dalam percobaan virus corona Rusia.

"Salah satu putri saya telah divaksinasi. Dalam hal ini ia ikut serta dalam percobaan. Setelah suntikan vaksin pertama, suhu tubuhnya 38 derajat Celcius pada hari berikutnya hanya sedikit di atas 37 derajat. Setelah suntikan kedua, suhu tubuhnya naik sedikit dan kemudian semuanya berakhir. Ia merasa sehat dan memiliki jumlah antibodi yang tinggi."

Baca juga: Kasus Corona Meningkat, Bisakah Pembuatan Vaksin Dipercepat?

Namun, para ilmuwan di dalam dan luar negeri memperingatkan penggunaan vaksin secara terburu-buru, sebelum uji coba Fase 3 - yang biasanya berlangsung berbulan-bulan dan melibatkan ribuan orang - bisa menjadi bumerang.

Uji klinis fase 3 akan dimulai Rabu, kata Kirill Dmitriev, kepala Dana Investasi Langsung Rusia yang mendanai upaya tersebut, kepada wartawan.

Ia menambahkan studi ini akan dilakukan di beberapa negara, termasuk Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Filipina, dan mungkin Brazil serta melibatkan ribuan sukarelawan.

Sementara itu, vaksin itu akan ditawarkan kepada puluhan ribu orang.

Menurut para pejabat Rusia, produksi vaksin dalam skala besar akan dimulai pada bulan September, dan vaksinasi massal bisa dimulai paling cepat Oktober.


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

NASA akan Kirim Astronot Perempuan Pertama ke Bulan pada 2024

NASA akan Kirim Astronot Perempuan Pertama ke Bulan pada 2024

Oh Begitu
Ahli Ciptakan Peti Mati Ramah Lingkungan, Seperti Apa?

Ahli Ciptakan Peti Mati Ramah Lingkungan, Seperti Apa?

Oh Begitu
Ahli Sarankan Deteksi Pembawa 2 Mutasi Genetik Virus Corona, Kenapa?

Ahli Sarankan Deteksi Pembawa 2 Mutasi Genetik Virus Corona, Kenapa?

Oh Begitu
BMKG: Warga Harus Akhiri Kepanikan Potensi Tsunami dan Gempa Megathrust

BMKG: Warga Harus Akhiri Kepanikan Potensi Tsunami dan Gempa Megathrust

Fenomena
BMKG: Waspada Cuaca Ekstrem 3 Hari ke Depan, Ini Daftar Wilayahnya

BMKG: Waspada Cuaca Ekstrem 3 Hari ke Depan, Ini Daftar Wilayahnya

Oh Begitu
Zona Sepi Gempa dan Potensi Tsunami 20 Meter di Selatan Jawa, Begini Kata Ahli

Zona Sepi Gempa dan Potensi Tsunami 20 Meter di Selatan Jawa, Begini Kata Ahli

Oh Begitu
BMKG: Skema Mitigasi 20-20-20 Masih Relevan untuk Mitigasi Tsunami Selatan Jawa

BMKG: Skema Mitigasi 20-20-20 Masih Relevan untuk Mitigasi Tsunami Selatan Jawa

Fenomena
Makan Terlalu Banyak, Ini Penjelasan dari Alasan Makan Berlebihan hingga Akibatnya

Makan Terlalu Banyak, Ini Penjelasan dari Alasan Makan Berlebihan hingga Akibatnya

Kita
3 Faktor Pemicu Meningkatnya Kasus Covid-19 di Klaster Perkantoran

3 Faktor Pemicu Meningkatnya Kasus Covid-19 di Klaster Perkantoran

Kita
Mirip Paus Pembunuh, Dinosaurus Ini Ternyata Predator Laut Zaman Jurassic

Mirip Paus Pembunuh, Dinosaurus Ini Ternyata Predator Laut Zaman Jurassic

Fenomena
IOWave20 Latihan Mitigasi Tsunami, BMKG Target Sesuaikan SOP dan Kondisi Pandemi

IOWave20 Latihan Mitigasi Tsunami, BMKG Target Sesuaikan SOP dan Kondisi Pandemi

Oh Begitu
Hackathon Diluncurkan di Indonesia, Kesempatan Berinovasi Energi Terbarukan

Hackathon Diluncurkan di Indonesia, Kesempatan Berinovasi Energi Terbarukan

Kita
10 Cara Alami Menurunkan Darah Tinggi Tanpa Obat

10 Cara Alami Menurunkan Darah Tinggi Tanpa Obat

Kita
Termasuk Mamalia, Paus Berparuh Bisa Tahan Napas Lebih dari 3 Jam

Termasuk Mamalia, Paus Berparuh Bisa Tahan Napas Lebih dari 3 Jam

Oh Begitu
Logam Berusia 1.000 Tahun untuk Baja Tahan Karat Ditemukan di Iran

Logam Berusia 1.000 Tahun untuk Baja Tahan Karat Ditemukan di Iran

Oh Begitu
komentar
Close Ads X