6 Fakta Kualitas Udara Buruk Jakarta dan 3 Rekomendasi bagi Kita

Kompas.com - 13/08/2020, 13:02 WIB
Suasana sepi di kawasan wisata Monumen Nasional, Jakarta, Senin (16/3/2020). Pemprov DKI Jakarta memutuskan menutup 24 tempat wisata di Jakarta mulai Sabtu (14/3/2020) hingga dua pekan ke depan sebagai upaya pencegahan menyebarnya virus corona (Covid-19). KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMOSuasana sepi di kawasan wisata Monumen Nasional, Jakarta, Senin (16/3/2020). Pemprov DKI Jakarta memutuskan menutup 24 tempat wisata di Jakarta mulai Sabtu (14/3/2020) hingga dua pekan ke depan sebagai upaya pencegahan menyebarnya virus corona (Covid-19).

KOMPAS.com - Polusi atau pencemaran udara dapat berakibat fatal karena bisa berdampak pada kesehatan manusia dan kesejahteraan ekonomi suatu kota atau negara yang kualitas udaranya tidak sehat.

Namun, pencemaran udara merupakan masalah yang bisa dikelola karena sumber utama kualitas udara tidak sehat adalah aktivitas dan operasi sistem mesin buatan manusia.

Baca juga: Sumber Utama Polusi Udara Jakarta Ternyata Bukan Transportasi, Kok Bisa?

Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) dalam laporan penelitiannya terkait kualitas udara menemukan beberapa fakta sebagai berikut:

  1. Kualitas udara yang tidak sehat di Jakarta sumber utamanya bukan berasal dari transportasi dalam kota. Melainkan emisi dari pembangkit tenaga listrik dan efek rumah kaca.
  2. Pencemar beracun udara di Jakarta yang terdata adalah emisi gas Sulfur Dioksida (SO2), gas rumah kaca (NOx), partikulat PM 2,5 dan merkuri (Hg).
  3. Kualitas udara yang dipenuhi gas beracun di Jakarta ternyata adalah sumbangsih gas beracun dari wilayah lain di perbatasan, di mana Banten dan Jawa Barat menjadi yang tertinggi penghasil gas beracun untuk Jakarta.
  4. Faktor meteorologi juga membawa gas beracun dari wilayah lain ke Jakarta. Diantaranya Banten, Jawa Barat, Sumatera Selatan, Lampung, dan Jawa Tegah.
  5. Kerumunan gas beracun di Jakarta ini jika tidak segera diatasi akan berdampak pada kesehatan manusia. Penyakit yang mengancam seperti penyakit-penyakit pernapasan, stroke, penyakit kardiovaskular, dan sistem kekebalan tubuh.
  6. Dampak gas beracun yang berakibat pada kesehatan manusia juga diperhitungkan akan mampu menghabiskan ekonomi kota sekitar Rp 5,1 triliun per tahun.

Rekomendasi

Berkaitan dengan fakta kualitas udara buruk di Jakarta tersebut, CREA memberikan 3 rekomendasi untuk membuat rencana energi nasional, yang harus didukung oleh reformasi sistem pengelolaan kualitas udara negara.

Berikut 3 rekomendasi CREA:

1. Merevisi baku mutu udara ambien nasional

CREA menyebutkan merevisi baku mutu udara ambien nasional ini perlu dilakukan dengan target memenuhi pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tentang kualitas udara yang sehat.

Oleh sebab itu, dibutuhkan target yang terikat wkatu untuk mengurangi pencemar seperti Sulfur Dioksida (SO2), gas rumah kaca (NOx), partikulat PM 2,5 di tingkat nasional dan provinsi.

Ilustrasi polusiShutterstock Ilustrasi polusi

Nah, dalam hal memastikan keakuratan infromasi tentang kualitas udara dan kepatuhan terhadap baku mutu lingkungan, pemerintah juga harus meningkatkan jaringan pemantauan baik di Jakarta maupun kota-kota besar lainnya.

Stasiun pemantauan ini haruslah bisa mengukur emisi dengan wkatu nyata, dan data dari stasiun ini harus siap tersedia untuk umum. Dengan kata lain, bisa diakses oleh publik atau masyarakat secara bebas.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X