Kualitas Udara di Jakarta Masih Buruk, Waspada 2 Dampaknya bagi Kita

Kompas.com - 13/08/2020, 10:09 WIB
Suasana kendaraan terjebak macet di Jl. Gatot Subroto dan Tol Cawang-Grogol di Jakarta Selatan, Senin (8/6/2020). Pada hari pertama  orang masuk kantoran dan penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi, lalu lintas di sejumlah jalan di DKI Jakarta terpantau padat hingga terjadi kemacetan. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGSuasana kendaraan terjebak macet di Jl. Gatot Subroto dan Tol Cawang-Grogol di Jakarta Selatan, Senin (8/6/2020). Pada hari pertama orang masuk kantoran dan penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi, lalu lintas di sejumlah jalan di DKI Jakarta terpantau padat hingga terjadi kemacetan.

KOMPAS.com - Pandemi Covid-19 tidak hanya berdampak pada kesehatan, tapi juga merambah ke berbagai sektor seperti ekonomi dan ketahanan nasional.

Selain pandemi Covid-19, masalah polusi udara dan kualitas udara juga telah lama mengancam kesehatan manusia dan berdampak pada perekonomian negara.

Di Indonesia, daerah yang terkenal memiliki kualitas udara buruk adalah Jakarta.

Selama pandmei Covid-19 dan diberlakukannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), nyatanya kualitas udara di ibu kota negara tetap buruk.

Baca juga: Terkenal Buruk, Begini Kualitas Udara Jakarta Selama Pandemi Covid-19

Dalam laporan penelitian Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) disebutkan, kualitas udara di Jakarta selama empat tahun terakhir (2017-2020) masuk dalam kategori mengkhawatirkan.

"Tahun 2017-2020 ini jadi puncak polusi udara di Jakarta," kata Isabella dalam diskusi daring bertajuk Polusi Lintas Batas: Darimana Asal Kerumunan Gas Beracun di Kota Jakarta?, Selasa (11/8/2020).

Pencemar utama udara Jakarta

Dalam penelitian CREA, ditemukan pencemar utama polusi udara di Jakarta bukanlah dari aktivitas emisi pembuangan transportasi darat yang lalu-lalang di jalanan.

Melainkan dari beberapa faktor lain seperti emisi beracun yang berasal dari operasi pembangkit listrik berbahan bakar fosil dan pabrik industri di area lintas batas administratif kota Jakarta.

Adapun, pencemar beracun udara di Jakarta yang terdata adalah emisi gas Sulfur Dioksida (SO2), gas rumah kaca (NOx), partikulat PM 2,5 dan merkuri (Hg).

Ironisnya, pencemar udara ini tidak hanya dihasilkan langsung dari sumbernya. Melainkan juga berinterkasi di atmosfer yang akhirnya menghasilkan pencemar baru.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X