Kualitas Laut Parah, Ada Polutan Beracun di Tubuh Paus dan Lumba-Lumba

Kompas.com - 11/08/2020, 20:07 WIB
Seekor paus terdampar di Florida. Annie Page-KarjianSeekor paus terdampar di Florida.

KOMPAS.com - Kualitas laut dunia makin dipertanyakan. Hal ini terbukti dari kandungan polusi beracun yang ditemukan pada lemak lumba-lumba dan paus yang terdampar di seluruh pantai Amerika Serikat.

Peneliti berhasil mengungkap fakta memprihatinkan tersebut usai melakukan analisis terhadap 83 lumba-lumba dan paus dalam rentang waktu antara 2012 hingga 2018.

Seperti dikutip dari IFL Science, Selasa (11/8/2020), para peneliti menemukan bahwa polutan dari herbisida, kemasan makanan, pasta gigi, sabun deterjen serta mainan telah masuk ke dalam jaringan cetacea yang mati itu.

Baca juga: Seperti Manusia, Paus Beluga Membentuk Hubungan Sosial yang Luas

Studi ini pun menjadi penelitian pertama yang melaporkan mengenai konsentrasi polutan dalam lemak lumba-lumba dan paus.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Marine Science ini menganalisis sampel lemak untuk mengukur konsentrasi lima racun organik, termasuk di antaranya atrazin, DEP, NPE, bisphenol-A, dietil ftalat, dan triclosan.

Data ini juga dilengkapi dengan analisis sampel hati untuk mengukur keberadaan unsur dan senyawa industri beracun.

Dari studi, ditemukan jika beberapa faktor turut memengaruhi konsentrasi racun dalam lemak cetacea, antara lain spesies, jenis kelamin, umur, dan lokasi.

Baca juga: Serba-serbi Hewan: Hiu Paus Punya Ribuan Gigi Kecil di Sekitar Mata

Sebagai contoh, lumba-lumba hidung botol memiliki konsentrasi timbal, mangan, merkuri, selenium, talium, dan seng yang jauh lebih tinggi di hati mereka dibandingkan dengan paus kerdil dan sperma.

Kedua paus tersebut justru memiliki kadar NPE, arsen, kadmium, kobalt, dan zat besi yang lebih tinggi. Perbedaan kandungan ini menunjukkan pentingnya geografi bagi kesehatan mahluk air.

Studi ini tentu saja menunjukkan bagaimana perubahan lingkungan laut dapat memengaruhi kesehatan hewan.

Baca juga: Studi Sebut Lumba-lumba Muda Pemilih dalam Berteman

Para peneliti menulis bahwa polutan beracun tersebut masuk ke lingkungan laut dalam berbagai bentuk, seperti bahan bakar fosil dan plastik sekali pakai yang digunakan manusia.

Selain itu ada pula polutan yang asalnya dari kemasan makanan, deterjen, dan bahkan mainan anak-anak.

"Kita harus melakukan bagian kita untuk mengurangi jumlah racun yang masuk ke lingkungan laut. Sebab, hal ini memiliki implikasi penting bagi kesehatan dan lingkungan, tak hanya laut tapi juga manusia," papar Annie Page-Karjian, salah seorang peneliti studi.

Ingat, bahan kimia masuk ke dalam tubuh hewan melalui rantai makanan. Ketika lumba-lumba dan paus memakan ikan dengan konsentrasi kimia, maka unsur-unsur beracun memasuki tubuh mereka.


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Belajar Bertani Tanpa Bakar Lahan Gambut dari Masyarakat Sumatera Selatan

Belajar Bertani Tanpa Bakar Lahan Gambut dari Masyarakat Sumatera Selatan

Kita
Studi Ungkap Semua Penguin Berasal dari Benua ke-8 yang Telah Hilang

Studi Ungkap Semua Penguin Berasal dari Benua ke-8 yang Telah Hilang

Oh Begitu
Kamasutra Satwa: Paus Jantan Bernyanyi untuk Ajak Betina Kawin

Kamasutra Satwa: Paus Jantan Bernyanyi untuk Ajak Betina Kawin

Oh Begitu
4 Alasan Merokok Tingkatkan Risiko Kematian akibat Covid-19

4 Alasan Merokok Tingkatkan Risiko Kematian akibat Covid-19

Oh Begitu
Asal-usul Lubang Misterius Siberia, Ilmuwan Menduga Terbentuk oleh Ledakan Gas

Asal-usul Lubang Misterius Siberia, Ilmuwan Menduga Terbentuk oleh Ledakan Gas

Fenomena
Ahli Desak Pemerintah Perbesar Gambar Peringatan di Bungkus Rokok

Ahli Desak Pemerintah Perbesar Gambar Peringatan di Bungkus Rokok

Kita
Suntikan Testosteron, Terapi Potensial untuk Atasi Obesitas pada Pria

Suntikan Testosteron, Terapi Potensial untuk Atasi Obesitas pada Pria

Fenomena
Mulai Malam Ini, Saksikan Tripel Konjungsi Bulan-Jupiter-Saturnus di Langit Indonesia

Mulai Malam Ini, Saksikan Tripel Konjungsi Bulan-Jupiter-Saturnus di Langit Indonesia

Fenomena
Kehamilan Tak Direncanakan Naik di Tengah Pandemi, Ini 6 Imbauan BKKBN

Kehamilan Tak Direncanakan Naik di Tengah Pandemi, Ini 6 Imbauan BKKBN

Kita
Bukan Pengisap Darah, Tupai Vampir Kalimantan Makan Biji-Bijian

Bukan Pengisap Darah, Tupai Vampir Kalimantan Makan Biji-Bijian

Oh Begitu
Viral soal Hasil Rapid Test Covid-19 Palsu, Begini Penjelasan IDI Makassar

Viral soal Hasil Rapid Test Covid-19 Palsu, Begini Penjelasan IDI Makassar

Oh Begitu
3 Alasan Mengapa Perlu Menjaga Populasi Badak Sumatera Asli Indonesia

3 Alasan Mengapa Perlu Menjaga Populasi Badak Sumatera Asli Indonesia

Oh Begitu
Seorang Pria Alami Gejala Parkinson Setelah Terinfeksi Covid-19

Seorang Pria Alami Gejala Parkinson Setelah Terinfeksi Covid-19

Kita
Mengapa Perlu Uji Klinis Vaksin Corona pada Anak, Ini Penjelasan Dokter Pediatrik

Mengapa Perlu Uji Klinis Vaksin Corona pada Anak, Ini Penjelasan Dokter Pediatrik

Fenomena
Akan Mendarat di Bulan pada 2024, Ini Misi yang Harus Diselesaikan NASA

Akan Mendarat di Bulan pada 2024, Ini Misi yang Harus Diselesaikan NASA

Oh Begitu
komentar
Close Ads X