AI Disebut Revolusi dalam Kajian Luar Angkasa, Kok Bisa?

Kompas.com - 06/08/2020, 19:06 WIB
Ilustasi ktsimageIlustasi

KOMPAS.com - Kecanggihan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence ( AI) dianggap sangat menjanjikan dalam memenuhi rasa keingintahuan dan target pencapaian manusia.

AI merupakan kecerdasan buatan yang sengaja diciptakan selayaknya kemampuan manusia. Bahkan pada beberapa kondisi, AI bisa melampaui batas wajar kemampuan yang dimiliki manusia, termasuk yang menciptakan teknologi AI itu sendiri.

Salah satu bidang yang mendapatkan manfaat secara signifikan dari kemampuan AI ini adalah penelitian atau kajian-kajian sains mengenai kehidupan dalam tata surya dan ruang angkasa.

Kepala AI Group dan Ilmuwan Riset Senior di Laboratorium Populasi Jet Cal Inst Tech NASA, Steve Chien, berkata bahwa sebenarnya, AI dalam kajian ruang angkasa dan tata surya adalah sebuah revolusi penting.

Baca juga: Teknologi AI Semakin Canggih, Ghost Work Bisa Ancam Pekerja Manusia

"AI ini mendukung dan akan menjadi kesempatan bagi kita melakukan hal-hal yang tidak bisa dilakukan manusia terkait ruang angkasa," kata Steve dalam dalam acara EmTech Asia 2020 yang diselenggarakan oleh Koelnmesse Pte Ltd dan MIT Technology Review, Rabu (5/8/2020).

Steve menyebutkan, dahulu sebelum adanya kecerdasan buatan AI ini, untuk melakukan penelitian atau kajian langsung ke benda-benda dalam tata surya selain Bumi merupakan hal yang paling sulit untuk dilakukan.

Akan tetapi, dengan AI secara perlahan tantangan-tantangan kesulitan itu mulai dapat dilakukan oleh ilmuwan-ilmuwan saat ini.

Ia mencontohkan, dahulu mungkin untuk bisa pergi ke bintang atau planet-planet lain seperti Mars saja sangat susah. Manusia hanya bisa mengamatinya dari Bumi dan mengkajinya melalui data yang didapatkan dari hasil pengamatan tersebut.

Baca juga: Ahli: Perkembangan AI Jadi Peluang Baru, tapi Perlu Ada Batas Wajarnya

Namun, dengan adanya sistem AI, hal yang dulunya susah bisa jadi mungkin sekali untuk dilakukan sekarang. Tentunya dengan berdasarkan pertimbangan data-data yang tidak bias.

Steve mengatakan, AI juga penting untuk pencarian kehidupan di luar Bumi, serta memegang peranan kunci dalam konsep misi Eropa Submersible dan Insterstellar untuk berburu kehidupan di dalam tata surya kita dan sekitarnya.

Halaman:

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

NASA akan Kirim Astronot Perempuan Pertama ke Bulan pada 2024

NASA akan Kirim Astronot Perempuan Pertama ke Bulan pada 2024

Oh Begitu
Ahli Ciptakan Peti Mati Ramah Lingkungan, Seperti Apa?

Ahli Ciptakan Peti Mati Ramah Lingkungan, Seperti Apa?

Oh Begitu
Ahli Sarankan Deteksi Pembawa 2 Mutasi Genetik Virus Corona, Kenapa?

Ahli Sarankan Deteksi Pembawa 2 Mutasi Genetik Virus Corona, Kenapa?

Oh Begitu
BMKG: Warga Harus Akhiri Kepanikan Potensi Tsunami dan Gempa Megathrust

BMKG: Warga Harus Akhiri Kepanikan Potensi Tsunami dan Gempa Megathrust

Fenomena
BMKG: Waspada Cuaca Ekstrem 3 Hari ke Depan, Ini Daftar Wilayahnya

BMKG: Waspada Cuaca Ekstrem 3 Hari ke Depan, Ini Daftar Wilayahnya

Oh Begitu
Zona Sepi Gempa dan Potensi Tsunami 20 Meter di Selatan Jawa, Begini Kata Ahli

Zona Sepi Gempa dan Potensi Tsunami 20 Meter di Selatan Jawa, Begini Kata Ahli

Oh Begitu
BMKG: Skema Mitigasi 20-20-20 Masih Relevan untuk Mitigasi Tsunami Selatan Jawa

BMKG: Skema Mitigasi 20-20-20 Masih Relevan untuk Mitigasi Tsunami Selatan Jawa

Fenomena
Makan Terlalu Banyak, Ini Penjelasan dari Alasan Makan Berlebihan hingga Akibatnya

Makan Terlalu Banyak, Ini Penjelasan dari Alasan Makan Berlebihan hingga Akibatnya

Kita
3 Faktor Pemicu Meningkatnya Kasus Covid-19 di Klaster Perkantoran

3 Faktor Pemicu Meningkatnya Kasus Covid-19 di Klaster Perkantoran

Kita
Mirip Paus Pembunuh, Dinosaurus Ini Ternyata Predator Laut Zaman Jurassic

Mirip Paus Pembunuh, Dinosaurus Ini Ternyata Predator Laut Zaman Jurassic

Fenomena
IOWave20 Latihan Mitigasi Tsunami, BMKG Target Sesuaikan SOP dan Kondisi Pandemi

IOWave20 Latihan Mitigasi Tsunami, BMKG Target Sesuaikan SOP dan Kondisi Pandemi

Oh Begitu
Hackathon Diluncurkan di Indonesia, Kesempatan Berinovasi Energi Terbarukan

Hackathon Diluncurkan di Indonesia, Kesempatan Berinovasi Energi Terbarukan

Kita
10 Cara Alami Menurunkan Darah Tinggi Tanpa Obat

10 Cara Alami Menurunkan Darah Tinggi Tanpa Obat

Kita
Termasuk Mamalia, Paus Berparuh Bisa Tahan Napas Lebih dari 3 Jam

Termasuk Mamalia, Paus Berparuh Bisa Tahan Napas Lebih dari 3 Jam

Oh Begitu
Logam Berusia 1.000 Tahun untuk Baja Tahan Karat Ditemukan di Iran

Logam Berusia 1.000 Tahun untuk Baja Tahan Karat Ditemukan di Iran

Oh Begitu
komentar
Close Ads X