Hoaks Covid-19 dan Infodemik, Tantangan Ilmuwan Indonesia Sikapi Konstruksi Anti-Sains

Kompas.com - 06/08/2020, 08:01 WIB
Ilustrasi hoaks pandemi virus corona, Covid-19 SHUTTERSTOCK/MARTA DMIlustrasi hoaks pandemi virus corona, Covid-19


KOMPAS.com - Hoaks dan informasi simpang-siur terkait Covid-19 atau infodemik, belakangan kian ramai mewarnai media publik di Indonesia.

Tak heran jika di tengah pandemi virus corona yang kian serius dihadapi negara ini, kepercayaan masyarakat turut mengikis akibat terimbas oleh keberadaan informasi yang ada.

Padahal, seperti disampaikan Badan Pembina Yayasan Kemitraan Indonesia Sehat (YKIS), Prof. Dr. dr Zubairi Djoerban, Sp.PD, KHOM, saat ini di Indonesia sudah lebih dari 110.000 orang yang terinfeksi virus corona baru ini.

"Pada waktu sekarang ini, rumah sakit di Jakarta sudah makin penuh, tadinya sudah makin berkurang (pasien). Sekarang beberapa rumah sakit kembali penuh," kata Prof Zubairi, dalam webinar dengan tema Covid-19, Hoax & Fakta Vs Teori Konspirasi & Teori Ilmiah, Rabu (5/8/2020).

Baca juga: Bagaimana Peran Ilmuwan Indonesia Menangkal Hoaks tentang Covid-19, Ahli Jelaskan

Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) ini juga menyampaikan, saat ini Indonesia sedang menghadapi kurva yang tidak melandai, tetapi semakin serius.

Sementara dalam kondisi ini, diharapkan semua tenaga dan upaya dapat terkonsentrasi untuk mengatasi pandemi Covid-19.

"Sayangnya timbul berita-berita bohong ( hoaks) dan tidak benar yang amat merugikan dalam penatalaksanaan penyakit ini. Masyarakat jadi bingung dan makin tidak percaya dengan upaya yang sedang dilakukan," jelas Prof Zubairi.

Tangkapan layar YouTube Anji bersama Hadi PranotoScreenshot Tangkapan layar YouTube Anji bersama Hadi Pranoto

Baca juga: Penjelasan Hadi Pranoto soal Herbal Antibodi Covid-19 dan Tanggapan Ahli

Menanggapi munculnya informasi-informasi tidak benar itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutnya dengan infodemik, yakni informasi tidak benar terkait pandemi virus corona yang dihadapi saat ini.

Menyikapi konstruksi anti- sains yang beredar

Informasi tidak benar yang baru saja viral yakni terkait obat Covid-19 herbal yang diungkapkan Hadi Pranoto. Sementara, komunitas ilmiah Indonesia sangat meragukan riset yang diungkapkan Hadi saat tampil di channel Youtube milik musisi Anji.

Wakil Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Bidang Penelitian Fundamental, Prof. dr. Herawati Sudoyo, MS, Ph.D mengatakan bahwa dalam menghadapi setiap pandemi, tidak terkecuali Covid-19, selalu ada sikap-sikap non-ilmiah yang beredar di masyarakat.

"Itu sebenarnya sebagai konstruksi berpikir untuk memahami pandemi tersebut. Tetapi karena itu non-ilmiah, sikap-sikap itu tidak berkorelasi langsung terhadap eksistensi pandemi," jelas Prof Herawati.

Tak heran, jika seringkali masalah tersebut semakin memperburuk persebaran pandemi yang dimaksud, dalam hal ini terkait Covid-19.

Halaman:

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

NASA akan Kirim Astronot Perempuan Pertama ke Bulan pada 2024

NASA akan Kirim Astronot Perempuan Pertama ke Bulan pada 2024

Oh Begitu
Ahli Ciptakan Peti Mati Ramah Lingkungan, Seperti Apa?

Ahli Ciptakan Peti Mati Ramah Lingkungan, Seperti Apa?

Oh Begitu
Ahli Sarankan Deteksi Pembawa 2 Mutasi Genetik Virus Corona, Kenapa?

Ahli Sarankan Deteksi Pembawa 2 Mutasi Genetik Virus Corona, Kenapa?

Oh Begitu
BMKG: Warga Harus Akhiri Kepanikan Potensi Tsunami dan Gempa Megathrust

BMKG: Warga Harus Akhiri Kepanikan Potensi Tsunami dan Gempa Megathrust

Fenomena
BMKG: Waspada Cuaca Ekstrem 3 Hari ke Depan, Ini Daftar Wilayahnya

BMKG: Waspada Cuaca Ekstrem 3 Hari ke Depan, Ini Daftar Wilayahnya

Oh Begitu
Zona Sepi Gempa dan Potensi Tsunami 20 Meter di Selatan Jawa, Begini Kata Ahli

Zona Sepi Gempa dan Potensi Tsunami 20 Meter di Selatan Jawa, Begini Kata Ahli

Oh Begitu
BMKG: Skema Mitigasi 20-20-20 Masih Relevan untuk Mitigasi Tsunami Selatan Jawa

BMKG: Skema Mitigasi 20-20-20 Masih Relevan untuk Mitigasi Tsunami Selatan Jawa

Fenomena
Makan Terlalu Banyak, Ini Penjelasan dari Alasan Makan Berlebihan hingga Akibatnya

Makan Terlalu Banyak, Ini Penjelasan dari Alasan Makan Berlebihan hingga Akibatnya

Kita
3 Faktor Pemicu Meningkatnya Kasus Covid-19 di Klaster Perkantoran

3 Faktor Pemicu Meningkatnya Kasus Covid-19 di Klaster Perkantoran

Kita
Mirip Paus Pembunuh, Dinosaurus Ini Ternyata Predator Laut Zaman Jurassic

Mirip Paus Pembunuh, Dinosaurus Ini Ternyata Predator Laut Zaman Jurassic

Fenomena
IOWave20 Latihan Mitigasi Tsunami, BMKG Target Sesuaikan SOP dan Kondisi Pandemi

IOWave20 Latihan Mitigasi Tsunami, BMKG Target Sesuaikan SOP dan Kondisi Pandemi

Oh Begitu
Hackathon Diluncurkan di Indonesia, Kesempatan Berinovasi Energi Terbarukan

Hackathon Diluncurkan di Indonesia, Kesempatan Berinovasi Energi Terbarukan

Kita
10 Cara Alami Menurunkan Darah Tinggi Tanpa Obat

10 Cara Alami Menurunkan Darah Tinggi Tanpa Obat

Kita
Termasuk Mamalia, Paus Berparuh Bisa Tahan Napas Lebih dari 3 Jam

Termasuk Mamalia, Paus Berparuh Bisa Tahan Napas Lebih dari 3 Jam

Oh Begitu
Logam Berusia 1.000 Tahun untuk Baja Tahan Karat Ditemukan di Iran

Logam Berusia 1.000 Tahun untuk Baja Tahan Karat Ditemukan di Iran

Oh Begitu
komentar
Close Ads X