Kompas.com - 05/08/2020, 19:01 WIB
Ilustrasi artificial intelligence (AI) kecerdasan buatan, ghost work SHUTTERSTOCKIlustrasi artificial intelligence (AI) kecerdasan buatan, ghost work


KOMPAS.com- Istilah ghost work (pekerjaan hantu) muncul seiring dengan berkembangnya teknologi kecerdasan buatan atau intelijen artifisial (Artifitial Intelligent atau AI).

Tanpa disadari saat ini manusia dalam menjalani kehidupan sehari-hari sangat berdekatan dengan ghost work tersebut, dan itu mengancam pekerja manusia.

Hal ini disampaikan oleh peneliti utama senior di Riset Microsoft dan Indiana University, Mary L Gray dalam acara EmTech Asia 2020, yang diselenggarakan oleh Koelnmesse Pte Ltd dan MIT Technology Review, Selasa (4/8/2020).

Apa itu ghost work ?

Baca juga: Ahli: Perkembangan AI Jadi Peluang Baru, tapi Perlu Ada Batas Wajarnya

Mary menuturkan, ghost work atau pekerjaan hantu yang dimaksudkan bukan mendeskripsikan pekerjaan itu sendiri, melainkan kondisi pekerjaan tersebut.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dengan kata lain, ghost work ini lebih berfokus pada pekerjaan yang berbasis tugas dan pembuat konten yang dapat disalurkan melalui internet, atau melalui program aplikasi saja.

Jenis pekerjaan yang dimaksud Mary mengenai ghost work ini mencakup memberi label, mengedit, memfasilitasi atau fasilitator, mengolah atau memilah informasi, serta menyebar luaskan informasi atau konten.

Ilustrasi artificial intelligence (kecerdasan buatan) atau AI memudahkan pekerjaan manusia.SHUTTERSTOCK Ilustrasi artificial intelligence (kecerdasan buatan) atau AI memudahkan pekerjaan manusia.

Baca juga: FKUI Pelajari Penggunaan AI untuk Diagnosis Pasien Corona, Mengapa?

Namun, pada mekanismenya pekerjaan itu dilakukan oleh algoritma yang ada di sistem AI. Bukanlah pekerja manusia.

Diakui Mary bahwa di satu sisi pekerjaan hantu atau ghost work oleh AI ini memberikan banyak manfaat bagi manusia, terutama industri.

Di antaranya seperti memungkinkan pekerjaan dapat dilakukan dengan waktu yang lebih fleksibel, dan dapat dilakukan di mana saja meskipun jaraknya jauh sesuai dengan tugasnya.

Tetapi, cara kerjanya umumnya berdasarkan kontrak dan dengan akses yang harus terpenuhi yaitu internet. Hal inilah yang banyak dikerjakan oleh masyarakat saat ini, serta sangat terasa dan dapat disadari bahwa ghost work ini berlangsung di tengah pandemi Covid-19 ini.

Mary menegaskan bahwa inilah yang sebenarnya tenaga kerja tapi tidak terlihat, dan pekerja manusia semakin berkurang karena digeser oleh ghost work AI ini.

Ilustrasi AI, Artificial Intelligent (kecerdasan buatan)SHUTTERSTOCK Ilustrasi AI, Artificial Intelligent (kecerdasan buatan)

Dampak dari ghost work oleh AI

Seperti diketahui, saat ini kemajuan dan perkembangan teknologi kecerdasan buatan AI telah mampu menggantikan berbagai kemampuan dari manusia.

Pasalnya, AI adalah kecerdasan buatan yang diciptakan di dalam mesin, di mana pengembangan mesin itu diberikan kecerdasan dalam pembelajaran, berpola pikir dan merespon sesuatu layaknya yang dilakukan oleh manusia.

Bahkan dalam beberapa perkembangannya, AI juga seringkali melewati batas wajar kemampuan manusia itu sendiri. Kemampuan inilah yang dianggap sangat bermanfaat dan memiliki peluang yang sangat bagus bagi taraf kehidupan manusia, serta alat revolusioner untuk umat manusia.

Pada beberapa kondisi, kata Mary, kecanggihan dari AI ini oleh eksekutif teknologi di seluruh dunia menunjuk AI sebagai obat mujarab yang akan menemukan dan menghentikan persoalan seperti berita palsu, pidato kebencian dan bahkan terorisme.

Baca juga: AI Google Kalahkan Ahli Radiologi dalam Deteksi Kanker Payudara, Ini Artinya

Di mana hal itu, belum tentu bisa dikerjakan oleh manusia secara efektif.

"Namun, di sisi lainnya kita harus melihat betapa banyaknya jenis pekerjaan yang hilang karena AI ini," kata Mary.

Dalam pemaparannya Mary mencontohkan pekerjaan di bidang marketing yang banyak tergantikan oleh AI dengan berbagai akses dan komunikasi melalui platform daring.

Pekerja manusia yang biasanya berperan sebagai sales atau komunikan penawar barang atau jasa, penjaga market, kasir dan lain sebagainya yang berkaitan, bisa digantikan dengan ghost work.

Seperti market online, dalam sistem ghost work oleh AI bisa mengambil peran sebagai sales yang menawarkan produk, algoritma di dalamnya juga bekerja langsung ketika ada transaksi pembelian dan pemesanan barang.

Baca juga: Sistem Data Berbasis AI Berpeluang Jawab Tantangan Kesehatan Indonesia

Contoh lainnya dari ghost work ini adalah ketika setiap kali Anda melihat rekomendasi tayangan video berikutnya saat menonton Youtube. Sebenarnya, yang terjadi adalah algoritma Youtube atau AI inilah yang bekerja, atas program yang telah dilakukan oleh seseorang programer di belakangnya.

"Yang harus dipikirkan adalah bagaimana menyeimbangkan inovasi AI dengan kehidupan manusia. Market online sekalipun itu tidak cuma butuh AI, tetapi kita manusia butuh sosial," ujarnya.

Pasalnya, AI atau kecerdasan buatan tidak hanya menggantikan posisi atau pekerjaan pekerja manusia saja, tetapi juga cenderung menghilangkan identitas manusia sebagai mahluk sosial yang seharusnya terus bersosialisasi secara tatap muka.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.