Covid-19 Belum Bisa Disebut sebagai Virus Musiman seperti Flu, Ini Penjelasan Ahli

Kompas.com - 05/08/2020, 16:02 WIB
Ilustrasi virus corona, Covid-19 ShutterstockIlustrasi virus corona, Covid-19


KOMPAS.com - Orang-orang di seluruh dunia terus terinfeksi Covid-19, bahkan angka kematian juga terus meningkat sejak pandemi ini muncul awal tahun 2020.

Banyak ahli yang meramalkan penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus corona baru ini akan menjadi flu atau virus musiman.

Kendati demikian, seperti dikutip dari Business Insider, Rabu (5/8/2020), ahli epidemiologi saat ini mulai menghindari gagasan tersebut.

"Tidak ada bukti akan ada penurunan dalam kasus (Covid-19). Itu (pandemi) hanya akan seperti kebakaran hutan yang terus mencari kayu (diibaratkan) manusia untuk dibakar," kata ahli epidemiologi Michael Osterholm.

Baca juga: Mungkinkah Beberapa Orang Punya Perlindungan terhadap Virus Corona?

Osterholm membantu menulis sebuah laporan pada April lalu yang menguraikan seperti apa gelombang kedua Covid-19 pada musim gugur nanti.

"Tetapi sekarang kita melihat tidak ada gelombang (yang terjadi)," kata dia.

Sebaliknya, menurut juru bicara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Margaret Haris mengatakan pandemi ini mungkin akan terjadi satu gelombang besar.

Ilustrasi flu, sakit flu Shutterstock Ilustrasi flu, sakit flu

Baca juga: Pasien Virus Corona Ungkap Rambut Rontok karena Covid-19, Apa Sebabnya?

Puncak gelombang berbeda di setiap wilayah

Osterholm yang merupakan direktur Centre for Infectious Disease Research and Policy (CIDRAP) di Minnesota menjelaskan skenario gelombang kedua yang digambarkan kelompok itu pada April yang didasarkan pada histori flu Spanyol 1918 dan pandemi flu H1N1 yang terjadi pada 2009 lalu.

Skenario lain yang dilaporkan Osterholm tersebut menunjukkan bahwa gelombang pertama infeksi Covid-19 dapat diikuti oleh siklus puncak dan lembah yang sedikit lebih rendah sepanjang musim panas dan seterusnya.

Sedangkan skenario ketiga melibatkan pembakaran lambat dari transmisi yang sedang berlangsung dan kasus-kasus baru mengikuti musim semi pada puncak infeksi.

Namun, kenyataannya kasus yang terjadi belum selaras dengan skenario tersebut.

"Pada April, kami masih melihat bagaimana gelombang pandemi yang sebenarnya, yang memiliki histori dengan pandemi influenza lainnya," kata Osterholm.

Halaman Selanjutnya
Halaman:

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X