Dua Kandidat Vaksin Covid-19 Masuki Fase 3 Uji Klinis

Kompas.com - 04/08/2020, 18:05 WIB
Ilustrasi vaksin corona ShutterstockIlustrasi vaksin corona


KOMPAS.com - Pandemi virus corona terus menginfeksi jutaan orang di dunia, dan pengembangan vaksin sangat dinantikan untuk menghentikan wabah ini.

Dua calon vaksin virus corona, seperti dikutip dari VOA Indonesia, Selasa (4/8/2020) telah memasuki tahap akhir pengujian pada minggu lalu.

Kini, seluruhnya ada lima vaksin yang sedang dalam tahap pengujian.

Diharapkan paling lambat pada akhir tahun ini para ilmuwan sudah dapat mengetahui apakah di antara vaksin-vaksin ini aman dan manjur untuk menghentikan Covid-19.

Tes vaksin telah dilakukan minggu lalu di 120 lokasi di seluruh dunia. Adapun vaksin yang dikembangkan di antaranya oleh perusahaan obat BioNTech, Pfizer dan Fosun Pharma China.

Baca juga: Uji Klinis Vaksin Covid-19 Sinovac Disetujui, Apa Syarat Jadi Relawan?

Sementara itu, di Amerika Serikat, 89 tempat mengadakan tes untuk vaksin buatan Moderna.

Tes-tes tersebut adalah uji klinis terakhir sebelum akhirnya vaksin dapat disetujui.

"Setelah kita melewati percobaan ini, vaksinnya dapat kita berikan ke masyarakat umum dan memproduksinya secara massal," kata Frank Eder yang memimpin penelitian di situs Moderna di New York.

Ilustrasi vaksin Covid-19, vaksin virus coronaShutterstock Ilustrasi vaksin Covid-19, vaksin virus corona

Baca juga: Tak Hanya di Indonesia, Vaksin Corona Sinovac Juga Diuji Klinis di Bangladesh dan Brasil

Kendati demikian, sebelum itu dilakukan, uji coba ini juga akan mengukur seberapa baik vaksin Covid-19 bekerja dan seberapa aman vaksin diberikan kepada manusia.

Meski teknik-teknik baru membantu menyiapkan ampul-ampul vaksin dalam waktu singkat, para pejabat mengatakan semua pemeriksaan keamanan normal harus dilakukan.

Dokter ahli penyakit menular Universitas Vanderbilt, William Schaffner mengatakan tes yang baru dimulai adalah bagian penting dari proses itu.

"Ini adalah vaksin dengan teknologi baru untuk virus baru pada manusia. Kita harus sangat berhati-hari dengan hal itu dan meneliti keamanan vaksin dengan sangat baik," ujar Schaffner.

Halaman:

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

NASA akan Kirim Astronot Perempuan Pertama ke Bulan pada 2024

NASA akan Kirim Astronot Perempuan Pertama ke Bulan pada 2024

Oh Begitu
Ahli Ciptakan Peti Mati Ramah Lingkungan, Seperti Apa?

Ahli Ciptakan Peti Mati Ramah Lingkungan, Seperti Apa?

Oh Begitu
Ahli Sarankan Deteksi Pembawa 2 Mutasi Genetik Virus Corona, Kenapa?

Ahli Sarankan Deteksi Pembawa 2 Mutasi Genetik Virus Corona, Kenapa?

Oh Begitu
BMKG: Warga Harus Akhiri Kepanikan Potensi Tsunami dan Gempa Megathrust

BMKG: Warga Harus Akhiri Kepanikan Potensi Tsunami dan Gempa Megathrust

Fenomena
BMKG: Waspada Cuaca Ekstrem 3 Hari ke Depan, Ini Daftar Wilayahnya

BMKG: Waspada Cuaca Ekstrem 3 Hari ke Depan, Ini Daftar Wilayahnya

Oh Begitu
Zona Sepi Gempa dan Potensi Tsunami 20 Meter di Selatan Jawa, Begini Kata Ahli

Zona Sepi Gempa dan Potensi Tsunami 20 Meter di Selatan Jawa, Begini Kata Ahli

Oh Begitu
BMKG: Skema Mitigasi 20-20-20 Masih Relevan untuk Mitigasi Tsunami Selatan Jawa

BMKG: Skema Mitigasi 20-20-20 Masih Relevan untuk Mitigasi Tsunami Selatan Jawa

Fenomena
Makan Terlalu Banyak, Ini Penjelasan dari Alasan Makan Berlebihan hingga Akibatnya

Makan Terlalu Banyak, Ini Penjelasan dari Alasan Makan Berlebihan hingga Akibatnya

Kita
3 Faktor Pemicu Meningkatnya Kasus Covid-19 di Klaster Perkantoran

3 Faktor Pemicu Meningkatnya Kasus Covid-19 di Klaster Perkantoran

Kita
Mirip Paus Pembunuh, Dinosaurus Ini Ternyata Predator Laut Zaman Jurassic

Mirip Paus Pembunuh, Dinosaurus Ini Ternyata Predator Laut Zaman Jurassic

Fenomena
IOWave20 Latihan Mitigasi Tsunami, BMKG Target Sesuaikan SOP dan Kondisi Pandemi

IOWave20 Latihan Mitigasi Tsunami, BMKG Target Sesuaikan SOP dan Kondisi Pandemi

Oh Begitu
Hackathon Diluncurkan di Indonesia, Kesempatan Berinovasi Energi Terbarukan

Hackathon Diluncurkan di Indonesia, Kesempatan Berinovasi Energi Terbarukan

Kita
10 Cara Alami Menurunkan Darah Tinggi Tanpa Obat

10 Cara Alami Menurunkan Darah Tinggi Tanpa Obat

Kita
Termasuk Mamalia, Paus Berparuh Bisa Tahan Napas Lebih dari 3 Jam

Termasuk Mamalia, Paus Berparuh Bisa Tahan Napas Lebih dari 3 Jam

Oh Begitu
Logam Berusia 1.000 Tahun untuk Baja Tahan Karat Ditemukan di Iran

Logam Berusia 1.000 Tahun untuk Baja Tahan Karat Ditemukan di Iran

Oh Begitu
komentar
Close Ads X