Studi: Tokoh Publik Paling Sering Sebarkan Klaim Palsu Corona

Kompas.com - 03/08/2020, 10:42 WIB
Ilustrasi hoaks corona SHUTTERSTOCK/MARTA DMIlustrasi hoaks corona

KOMPAS.com - Peneliti Reuters Institute di Oxford University pernah melakukan riset terkait siapa sebenarnya yang berperan besar menyebarkan berita hoaks atau klaim palsu terkait virus corona penyebab Covid-19.

Studi mereka menemukan, kelompok influencer seperti selebriti dan politisi dengan jumlah pengikut yang besar di media sosial terbukti berperan besar dalam menyebarkan klaim palsu virus corona.

Dalam laporan yang terbit bulan April, peneliti untuk studi jurnalisme menemukan bahwa 20 persen selebriti, politisi, dan tokoh publik lainnya bertanggung jawab atas penyebaran klaim palsu virus corona. Sementara itu, 69 persen klaim mereka beredar di sosial media.

Ada kekhawatiran bahwa klaim palsu atau disinformasi yang beredar di internet akan berdampak pada kesehatan masyarakat di dunia nyata.

Baca juga: Klaim Obat Covid-19 Hadi Pranoto, Pakar Angkat Bicara

Disinformasi yang dilakukan tokoh publik dengan jutaan pengikut di Twitter, Instagram, atau YouTube, akan berdampak pada pemahaman kita tentang virus corona.

Sering kali, disinformasi menjangkau lebih banyak orang dibanding media berita umum.

"Kelompok ini (politisi, selebriti, dan tokoh publik) punya jangkauan luas untuk konten yang mereka sebarkan," kata Scott Brennen, peneliti di Reuters Institute dilansir The Guardian, (8/4/2020).

"Ada banyak klaim palsu tentang kebijakan dan tindakan otoritas publik terkait virus corona. Namun, kami melihat juga banyak informasi yang salah dari sisi medis," imbuhnya.

Peneliti di Reuters Institute mengimbau masyarakat agar tidak meremehkan pengaruh klaim palsu yang disebarkan sekelompok orang di sosial media.

Pasalnya, orang-orang yang menyebarkan klaim palsu tampaknya memiliki banyak alasan untuk berbagi informasi yang salah di manapun.

Baca juga: [Hoaks] Indonesia Dijadikan Kelinci Percobaan Vaksin Corona, Ini Penjelasannya

Sementara itu, penelitian yang dilakukan Dr Daniel Allington, dosen senior dalam kecerdasan buatan sosial dan budaya di King's College London mengatakan, ada hubungan erat antara orang yang meyakini klaim palsu dengan orang yang abai dan tidak memedulikan pedoman pencegahan Covid-19 seperti menjaga jarak, cuci tangan, dan pakai masker.

Temuan Allington berdasarkan studi eksperimental bekerja sama dengan Center for Countering Digital Hate.


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X