Ilustrasi awan ShutterstockIlustrasi awan

Bagaimana Rasanya Menyentuh Awan?

25/07/2020, 19:04 WIB
Bagaimana rasanya menyentuh awan? - Violet V., 6 tahun, Somerville, Massachusetts, Amerika Serikat (AS)

Ilmuwan atmosfer seperti saya menyebut partikel-partikel kecil ini sebagai nuklei kondensasi awan atau disebut CCN. CCN ini hanyalah partikel debu atau partikel yang telah terangkat oleh angin dan melayang-layang di atmosfer.

Apakah itu berarti tempat-tempat dengan banyak debu dan polusi, seperti kota besar, memiliki lebih banyak tetes air daripada tempat yang bersih?

Para peneliti telah menemukan lebih banyak tetesan kecil dan lebih banyak awan di daerah-daerah memiliki banyak CCN, sementara di daerah-daerah tanpa CCN lebih sedikit awan yang dilihat, seperti di atas lautan atau Kutub Utara.

NASA, CC BY Air menguap dan naik ke langit, mengembun membentuk awan

Saat tetesan awan naik di atmosfer, suhu udara berkurang. Tetesan awan kecil mulai membeku ketika suhu turun di bawah 32 derajat Fahrenheit (0 derajat Celcius). Ini proses yang sama persis seperti membuat es batu dalam kulkas.

Tetesan beku menjadi kristal es dan terus membesar ukurannya ketika uap lain berubah menjadi es dan saling menempel. Para ilmuwan menyebut proses gas yang berubah menjadi benda padat sebagai “deposition”. Proses ini menciptakan kristal es bercabang yang indah, yang dapat kita temukan di salju.

Arus naik udara yang stabil menjaga tetesan air yang sangat ringan atau kristal es mengambang di awan. Jadi bagaimana uap berubah menjadi hujan dan salju jatuh ke tanah? Mudah, uap-uap menjadi satu.

Tetesan yang lebih besar mengumpulkan tetesan yang lebih kecil dalam perjalanan ke tanah sebagai tetesan hujan. Salju tumbuh dengan cara yang sama, dengan kristal saling menempel.

Lengan kecil pada butiran salju dapat saling mengunci untuk membentuk kepingan salju yang lebih besar. Ketika tetesan air bergabung dengan kristal es, hasilnya adalah hujan es.

Tetesan hujan semakin membesar dalam perjalanan menuju bumi, dan akhirnya menjadi tidak stabil dan pecah. Rintik hujan terbesar yang diketahui para peneliti ditemukan sekitar sepertiga inci (8,4 milimeter).

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X