Kompas.com - 20/07/2020, 19:30 WIB
Ilustrasi bioskop di Inggris Krists Luhaers on UnsplashIlustrasi bioskop di Inggris

KOMPAS.com - Pandemi Covid-19 belum berakhir, sejumlah wilayah di Indonesia juga melakukan pelonggaran terhadap Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Bersamaan dengan itu, berbagai fasilitas publik dan sektor industri juga sudah mulai dibuka untuk masyarakat umum, termasuk sarana hiburan seperti bioskop.

Bahkan, Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta telah mengeluarkan Surat Keputusan dengan Nomor 140 tahun 2020. Ssalah satu isinya adalah mengatur izin operasional atau rencana dibukanya kembali gedung bioskop di Jakarta.

Namun pada akhirnya, rencana pembukaan bioskop di DKI Jakarta pada 29 Juli 2020 pun ditunda.

Baca juga: PSBB Transisi Jakarta Nomor Dua Penyumbang Polusi Udara Dunia, Kok Bisa?

Sejumlah pakar lintas bidang ilmu di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia melakukan diskusi dan meminta pemerintah DKI Jakarta agar dapat menunda pembukaan bioskop tersebut.

Ketua Satuan Tugas Covid-19 FKUI, dr Anis Karuniawati SpMK(K) PhD dalam keterangan tertulisnya menyebutkan, himbauan menunda membuka bioskop tersebut perlu dilakukan sampai dengan waktu yang belum dapat ditetapkan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Hal itu berdasarkan beberapa poin pertimbangan sebagai berikut.

1. Banyak orang abai akan protokol kesehatan

Anis mengungkapkan, tanggung jawab masyarakat untuk mematuhi protokol kesehatan seperti menggunakan masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan hingga saat ini dianggap masih kurang.

Hal ini dalam dilihat dari peningkatan jumlah kasus di DKI Jakarta yang masih melonjak tinggi meskipun sudah memasuki masa transisi PSBB.

"Selain karena adanya active case finding tetapi juga ada faktor masyarakat abai menerapkan protokol kesehatan," kata Anis.

2. Banyak mekanisme penularan Covid-19

Dalam perkembangannya, berdasarkan scientific brief yang diterbitkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) per tanggal 9 Juli 2020, dinyatakan bahwa penyebaran atau transmisi Covid-19 yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 ini banyak kemungkinannya.

Kemungkinan penularan atau transmisi Covid-19 tersebut diantaranya sebagai berikut.

- Melalui droplet

- Airborne

- Kontak langsung

- Kontak tidak langsung (fomite)

- Fecal oral

- Darah

- Ibu ke anak

- Hewan ke manusia

3. Waspada transmisi airborne

Faktor kemungkinan penularan atau transmisi Covid-19 sangat banyak, tetapi yang menjadi sorotan FKUI terhadap kasus perizinan pembukaan bisokop tersebut adalah penyebaran melalui airborne.

Untuk diketahui, transmisi secara airborne adalah penyebaran mikroba (SARS-CoV-2) melalui aerosol yang tetap bersifat infeksius meskipun terbawa angin dalam jarak jauh.

Penyebaran virus melalui airborne ini pada awalnya diketahui dapat terjadi ketika ada tindakan media yang mengakibatkan terbentuknya aerosol atau aerosol generating procedures.

Baca juga: Virus Corona Disebut Airborne, Ini Rekomendasi Perhimpunan Dokter Paru

Akan tetapi, dalam perkembangan hasil penelitian berikutnya, didapatkan bahwa aerosol yang mengandung virus SARS-CoV-2 tersebut dapat terbentuk dari droplet orang positif Covid-19.

Entah itu virus yang mengalami penguapan ataupun saat orang itu berbicara atau bernapas.

Sejauh ini, diketahui SARS-CoV-2 dapat bertahan dalam keadaan hidup pada aerosol selama 3 sampai 16 jam tergantung dengan suhu, kelembapan dan kepadatan orang.

Anis berkata, penemuan ini didukung dengan adanya laporan beberapa klaster Covid-19 yang berhubungan dengan berkumpulnya sekelompok orang di dalam ruangan tertutup, misalnya pada kegiatan paduan suara, restoran dan fitness.

"Ruangan tertutup tersebut juga merupakan ruangan dengan ventilasi yang tidak optimal dan kegiatan atau pertemuan dalam waktu yang relatif lama," ujarnya.

4. Potensi penularan dari OTG

Seperti diketahui, tidak semua orang yang terinfeksi Covid-19 memiliki keluhan atau gejala penyakit, jika pasien tersebut memiliki kondisi imunitas yang baik.

Bahkan, orang yang terinfeksi tanpa gejala itulah yang diprediksikan paling banyak di antara kehidupan masyarakat saat ini.

Namun ironisnya, orang yang tanpa gejala tetapi terinfeksi Covid-19 ini seringkali tidak sadar kalau dalam tubuhnya terdapat virus, dan bisa menjadi sumber penularan ke orang lain di sekitarnya tanpa disadari.

Ruangan bioskop berpotensi jadi sumber Covid-19

Berdasarkan berbagai pertimbangan di atas, ruangan bioskop memiliki potensi besar untuk menjadi sumber penularan kepada pengunjung yang datang dan nonton walaupun hanya satu film saja.

Hal itu dikarenakan, ruangan bioskop umumnya adalah ruangan tertutup tanpa ventilasi dengan pendinginan udara yang bersikulasi di dalam ruangan.

Baca juga: Virus Corona Menyebar di Udara, Kenali Rute Lain Penularan Covid-19

Lalu, apabila ada satu orang pengunjung saja yang tanpa gejala tapi memiliki virus SARS-CoV-2 di tubuhnya, maka akan berpotensi menjadi penyebaran virus kepada pengunjung lainnya.

Terlebih lagi, durasi satu film minimal 1,5 jam akan meningkatkan waktu paparan dan meningkatkan jumlah partikel aerosol yang terhirup.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.