Tiga Masalah dalam Larangan Kantong Plastik di Ibu Kota

Kompas.com - 20/07/2020, 19:03 WIB
Warga berbelanja menggunakan kantong plastik di Pasar Bendungan Hilir (Benhil) di Jakarta Pusat, Kamis (9/7/2020). Larangan penggunaan kantong plastik sekali pakai di Jakarta mulai berlaku sejak Rabu (1/7/2020), pelarangan ini diberlakukan di pusat-pusat perbelanjaan, mulai dari toko swalayan hingga pasar rakyat. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGWarga berbelanja menggunakan kantong plastik di Pasar Bendungan Hilir (Benhil) di Jakarta Pusat, Kamis (9/7/2020). Larangan penggunaan kantong plastik sekali pakai di Jakarta mulai berlaku sejak Rabu (1/7/2020), pelarangan ini diberlakukan di pusat-pusat perbelanjaan, mulai dari toko swalayan hingga pasar rakyat.

Pada pertengahan 2018, lebih dari 127 negara menetapkan regulasi tentang pembatasan penggunaan kantong plastik.

Angka tersebut meningkat lebih dari 3 kali lipat selama dekade terakhir.

Jakarta adalah salah satu yang mengadopsi larangan tersebut.

Jakarta, ibu kota Indonesia, merupakan pencemar sampah plastik terbesar kedua di lautan. Kemudian Jepang, yang menempati urutan kedua untuk volume kemasan plastik sekali pakai per orang.

Pada 1 Juli, kedua negara melarang penggunaan kantong plastik gratis di toko-toko.

Kebijakan terbaru di Jakarta, yang berupa larangan langsung, dan Jepang, yang berupa biaya tambahan, merupakan kebijakan penting yang berusaha meninggalkan logika ekonomi penggunaan barang sekali pakai.

Kebijakan ini memang seharusnya mengurangi jumlah angka kantong plastik yang, “menyumbat sistem saluran pembuangan, merusak lingkungan, terdegradasi menjadi polusi mikroplastik sekunder, dan membunuh satwa”.

Selain itu, dapat meningkatkan kesadaran lingkungan di kalangan konsumen.
Terlepas dari niatan baik dari kebijakan tersebut, ada tiga masalah dalam larangan penggunaan kantong plastik:

1. Plastik bukan sumber pencemaran plastik yang terbesar

Sampah plastik memang masalah yang serius. Manusia menggunakan sebanyak 1 triliun “kantong pembawa” sekali pakai, sekitar 128 per orang per tahun.

Jumlah penggunaan plastik sekali pakai jauh lebih besar, yakni 150 juta ton per tahun.
Sama saja dengan 19,32 kg botol sekali pakai, alat makan, sedotan, kemasan, dan lainnya dari setiap orang di planet ini.

Namun, riset terbaru menunjukkan kantong plastik hanya merupakan sebagian kecil dari sampah laut di perairan sekitar Jakarta. Kemasan dan kantong plastik, baik yang tipis maupun tebal, hanya berjumlah lebih dari 13,5% dari sampah yang ditemukan dan 8,5% dari berat mereka.

Di Jepang, kantong belanja plastik hanya 2% dari keseluruhan sampah plastik di negara tersebut.

Selain itu, meski kantong plastik nampak bagi kita, kita perlu ingat bahwa apa yang ada di dalamnya seringkali lebih berbahaya bagi lingkungan daripada kantong itu sendiri.
Misalnya, produk dengan kemasan plastik berat dan wadah beratnya bisa berkali-kali lipat dari kantong plastik.

Halaman:

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X