Bangsa Arab Mencoba Menggapai Mars

Kompas.com - 16/07/2020, 13:06 WIB
Ilustrasi Hope Dubai Media OfficeIlustrasi Hope

Pencapaian demi pencapaian tersebut cukup mencengangkan, terutama jika kita bandingkan dengan Indonesia. Tanpa mengurangi rasa hormat saya atas kerja keras para pejuang antariksa di LAPAN dan institusi–institusi terkait, kemajuan eksplorasi antariksa Indonesia, suka atau tidak, masih selambat siput dengan tujuan yang berkabut.

Indonesia sempat mencatat tonggak sejarah baru sebagai negara keempat di Asia yang terjun dalam kancah eksplorasi antariksa lewat peluncuran satelit Palapa–A1 pada Juli 1976. Namun begitu, hingga saat ini satelit–satelit produksi dalam negeri masih berkutat di orbit Bumi khususnya orbit rendah.

Apakah kita berencana mengeksplorasi lebih jauh, termasuk pergi ke Bulan atau bahkan eksplorasi antarplanet (secara tak–berawak), belum pernah terdengar secara resmi.

Ambisi Uni Emirat Arab dalam eksplorasi antariksa tampaknya berpangkal pada pandangan visioner para pendirinya. Di hari–hari awal Uni Emirat Arab, presiden Sheikh Zayid bin Sultan al–Nahyan mengundang astronot–astronot Program Apollo untuk berbagi pengalaman seru mereka dalam pendaratan manusia di Bulan.

Sepotong batu Bulan yang dibawa pulang Apollo 17 dari lembah Taurus–Littrow di Bulan pun dihadiahkan ke Uni Emirat Arab dan kini dipajang di Museum al–Ain. Persentuhan langsung dengan para astronot ini cukup menginspirasi ayunan langkah Uni Emirat Arab pada waktu berikutnya.

Sebagai negara mungil yang menjadi bagian Bangsa Arab, Uni Emirat Arab tak ragu berpijak pada sejarah kebesarannya di masa silam.

Masa keemasan imperium Bangsa Arab di abad pertengahan turut berkontribusi dalam membentuk wajah astronomi yang kita lihat pada hari ini. Misalnya saja pada nama–nama bintang, tercatat 165 bintang menyandang nama yang berakar dari Bahasa Arab. Juga 24 kawah di Bulan yang mengabadikan nama–nama ilmuwan Muslim klasik.

Kini negeri itu kaya raya berkat eksploitasi minyak dan gas bumi. Namun mereka sadar sumberdaya alam yang tak dapat diperbaharui ini tak bisa terus menjadi tumpuan.

Maka model pertumbuhan ekonomi baru yang berbasis ilmu pengetahuan pun digulirkan. Di dalamnya mencakup pendidikan tinggi ilmu murni bagi generasi muda dan riset–riset terkait dengannya.

Eksplorasi antariksa adalah turunan narasi besar tersebut. Uni Emirat Arab memandang program antariksanya laksana pembangunan pelabuhan–pelabuhan besar dan jaringan jalan raya di masa lalu yang menjadi pendorong ekonomi saat ini.

Mereka juga ingin menunjukkan bahwa Bangsa Arab kontemporer pun bisa berinovasi, menginspirasi dan membawa kabar baik. Bukan melulu meninggalkan kisah penuh duka, bara dan angkara sebagaimana sedang dilakoni negara–negara tetangganya dalam kawasan.

Riset Atmosfer

Mitsubishi Heavy Industries Ltd, 2020. Satelit al–Amal atau Hope saat sedang diintegrasikan dengan roket H–IIA di stasiun peluncuran Tanegashima, Jepang. Al–Amal akan menjadi tulang punggung eksplorasi antariksa ke Mars dari negara partisi

Dalam mengemban semangat pembawa inspirasi inilah, Emirates Mars Mission digawangi para ilmuwan dan teknokrat milenial.

Usia rata–ratanya baru 27 tahun. Sarah al–Amiri (32 tahun) yang memimpin mereka juga merupakan menteri negara urusan riset dan teknologi, menteri termuda dalam jajaran kabinet Uni Emirat Arab.

Selain harapan–harapan tersebut, Emirates Mars Mission juga mengemban asa romantik patriotik, sebagai hadiah untuk setengah abad kemerdekaan Uni Emirat Arab. Hadiah itu menelan biaya 200 juta dollar AS (sekitar Rp 2,9 triliun), sepertiga lebih murah dibanding satelit serupa yang dibangun Amerika Serikat dan juga ditujukan ke Mars.

Emirates Mars Mission dibangun guna memetakan dinamika atmosfer Mars dan hubungannya dengan geografi kawasan. Lebih detilnya adalah untuk menyelidiki siklus musim dan iklim harian Mars, di samping mendeteksi peristiwa–peristiwa atmosferik pada lapisan terbawah seperti kejadian badai pasir.

Tujuan–tujuan tersebut pada dasarnya serupa dengan yang diemban satelit cuaca. Sehingga Emirates Mars Mission pada dasarnya adalah satelit cuaca Mars.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X