Kompas.com - 15/07/2020, 19:03 WIB
Ilustrasi sistem Tata Surya dengan sembilan planet. Planet 9 atau Planet X ditemukan astronom berdasarkan hipotesis matematika. SHUTTERSTOCK/Vadim SadovskiIlustrasi sistem Tata Surya dengan sembilan planet. Planet 9 atau Planet X ditemukan astronom berdasarkan hipotesis matematika.


KOMPAS.com - Planet 9 kali pertama terkuak dari penemuan para astronom pada Januari 2015 silam, yang mengubah pandangan kita tentang Tata Surya.

Planet raksasa ini kemungkinan telah mengorbit Matahari, jauh di pinggiran Tata Surya.

Dijuluki juga sebagai Planet X, penemuan ini berdasarkan perhitungan matematis dan hipotesis planet belum teramati.

Namun, seperti dilansir dari Inverse, Rabu (15/6/2020), sekelompok peneliti dari Harvard University segera menentukan objek misterius ini.

Baca juga: Misteri Planet 9, Ini Rencana Pencarian Lubang Hitam di Pinggir Tata Surya

Para ilmuwan dari Black Hole Initiative, di perguruan tinggi tersebut telah menemukan metode baru untuk mendeteksi lubang hitam di bagian terluar Tata Surya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dengan metode baru ini, mereka berharap akan dapat memastikan apakah Planet 9 sebenarnya adalah sebuah planet atau lubang hitam.

Studi ini telah diterima untuk dipublikasikan dalam The Astrophysical Journal Letters.

Ilustrasi lubang hitam di suatu galaksi. Ilustrasi lubang hitam di suatu galaksi.

Baca juga: Lubang Hitam Terbesar ini Bisa Melahap Objek Sebesar Matahari, Kok Bisa?

Lubang hitam cenderung nyaris tidak terdeteksi. Mahluk kosmik besar ini diselimuti kegelapan karena cahaya itu sendiri tidak dapat lepas dari tarikan gravitasi yang sangat kuat.

Kendati demikian, metode baru rencananya akan menemukan lubang hitam berdasarkan suar yang dipancarkan, jika komet menghadang jalan mereka.

"Karena lubang hitam secara intrinsik gelap, radiasi yang memancar pada jalan menuju mulut lubang hitam adalah satu-satunya cara untuk menerangi ruang gelap ini," kata Avi Loeb, profesor sains di Harvard University, anggota dari penelitian ini.

Para ilmuwan rencananya akan menggunakan Rubin Observatory's Legacy Survey of Space and Time. Survei langit ini akan dimulai pada 2022 dan akan dilakukan selama 10 tahun ke depan.

Halaman:


Sumber Inverse
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X