Spartan Inovasi Baru Antisipasi Karhutla Indonesia dari BMKG, Apa Kelebihannya?

Kompas.com - 14/07/2020, 12:00 WIB
Petugas gabungan memadamkan titik api karhutla yang terjadi di perbatasan Desa Merbau, Kecamatan Bunut dengan Desa Pangkalan Terap, Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan, Riau, Minggu (28/6/2020). Dok. BPBD Pelalawan.Petugas gabungan memadamkan titik api karhutla yang terjadi di perbatasan Desa Merbau, Kecamatan Bunut dengan Desa Pangkalan Terap, Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan, Riau, Minggu (28/6/2020).


KOMPAS.com- Dalam upaya mendukung pelaksanaan pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan ( karhutla), Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika ( BMKG) mengeluarkan inovasi terbaru bernama Sistem Peringatan Kebakaran Hutan (Spartan).

"Itu inovasi terbaru dari kami (BMKG), semoga bisa bermanfaat buat masyarakat," kata Agie Wandala Putra selaku Kepala Subbid Peringatan Dini Cuaca BMKG.

Agie mengatakan bahwa dalam pelaksanaan pencegahan karhutla, BMKG memang memiliki tugas untuk memberikan segala bentuk informasi yang berhubungan dengan kemungkinan wilayah Indonesia yang berpotensi terjadi karhutla.

Di antaranya adalah informasi berupa peta sebaran dan trayektori asap kebakaran hutan, informasi titik api (geohotspot), informasi hari tanpa hujan, informasi potensi pertumbuhan awan hujan, dan informasi sistem peringatan kebakaran hutan atau Fire Danger Rating Sistem (FDRS).

Baca juga: Karhutla Ancam Flora Endemik di Sumatera dan Kalimantan

Sistem FDRS Spartan

Agie menjelaskan, salah satu informasi BMKG yang selama ini digunakan sebagai indikator daerah dengan potensi kemudahan terjadi kebakaran hutan adalah informasi dari sistem FDRS.

Untuk diketahui, FDRS Indonesia ini didasarkan pada sistem Fire Weather Index (FWI) dari Kanada, dengan hanya dua indeks saja di dalamnya.

Dalam penggunaannya di Indonesia, kata Agie, telah dilakukan kalibrasi indeks menggunakan catatan historis kondisi kebakaran hutan di Indonesia.

Tim Manggala Agni Daops Siak memadamkan titik api karhutla di Kampung Bunsur, Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak, Riau, Selasa (11/2/2020).KOMPAS.COM/IDON Tim Manggala Agni Daops Siak memadamkan titik api karhutla di Kampung Bunsur, Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak, Riau, Selasa (11/2/2020).

Baca juga: BMKG: Waspada Potensi Kebakaran Hutan dan Lahan di Wilayah Berikut

FDRS terdiri dari 6 indeks kerentanan, yang terdiri dari 3 indeks kekeringan lapisan tanah dan 3 indeks perilaku api (fire behaviour).

"Masing-masing indeks memiliki kontribusi dalam menggambarkan tiap aspek penting dalam peningkatan potensi terjadinya kebakaran hutan," kata Agie kepada Kompas.com, Senin (13/7/2020).

3 Indeks kekeringan lapisan tanah

Agie menjelaskan, 3 indeks lapisan kekeringan tanah dalam sistem FWI ini terdiri dari indeks Fine Fuel Moisture Code (FFMC), Duff Moisture Code (DMC) dan Drought Code (DC).

FFMC merupakan indeks yang menggambarkan tingkat kekeringan dan kemudahan terbakar, seperti dedaunan kering dan alang-alang yang biasanya menutupi lantai hutan.

Halaman:

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X