Virus Corona Disebut Airborne, Ini Rekomendasi Perhimpunan Dokter Paru

Kompas.com - 12/07/2020, 19:02 WIB
Ilustrasi virus corona dan gejala terinfeksi virus corona ShutterstockIlustrasi virus corona dan gejala terinfeksi virus corona

KOMPAS.com – Beberapa waktu lalu, para ilmuwan dunia mendesak World Health Organization (WHO) untuk menginformasikan pada publik bahwa terdapat kemungkinan transmisi virus SARS-CoV-2 lewat udara ( airborne).

Mengutip keterangan tertulis Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), beberapa penelitian menunjukkan penularan airborne terjadi ketika dilakukan tindakan yang menghasilkan aerosol. Setelah tindakan nebulizer dengan tenaga tinggi jet, satu penelitian eksperimen menunjukkan RNA virus SARS-CoV-2 berada pada sampel udara selama tiga jam.

Penelitian lain menyebutkan bahwa sampel virus berada di udara selama 16 jam, dan masih ditemukan virus yang bisa bereplikasi ketika masuk ke dalam sel.

Baca juga: Serba-serbi Penyakit Airborne, dari Jenis hingga Pencegahannya

Hal tersebut dilakukan secara eksperimen yang menginduksi aerosol yang tidak terjadi pada kondisi batuk pada manusia secara normal.

Pada 9 Juli 2020, WHO mengeluarkan panduan terbaru terkait cara transmisi SARS-CoV-2. Perbedaan signifikan penularan airborne dan droplet adalah airborne dapat menular pada jarak >1 meter sementara droplet <1 meter. Airborne disebutkan bertahan lama, sementara droplet tidak.

Pada kondisi di luar lingkungan fasilitas medis, beberapa kejadian luar biasa berkaitan dengan ruangan tertutup/ indoor yang padat. Ada kemungkinan terdapatnya transmisi secara aerosol atau airborne kombinasi dengan transmisi droplet, contohnya pada acara paduan suara, restoran, atau kelas fitness.

Baca juga: WHO Akui Covid-19 Mungkin Menyebar di Udara, Apa yang Nanti Berubah?

Hal tersebut didasari penelitian Miller (2020) yang dilakukan pada anggota paduan suara. Sebanyak 53 dari 61 orang paduan suara tertular Covid-19 di ruangan tertutup, padahal kondisi cuci tangan dilakukan dan jarak fisik diberlakukan.

Selain itu, penelitian Li (2020) di sebuah restoran dilaporkan 10 orang dari tiga keluarga yang berbeda tertular Covid-19, tidak ada kontak erat antara tiga keluarga tersebut.

Pada acara tersebut, transmisi aerosol dalam jarak pendek, pada lokasi indoor spesifik seperti kondisi yang rami dan ruangan ventilasi yang kurang adekuat dalam waktu yang lama dengan seseorang yang terinfeksi dapat terjadi.

Namun, investigasi detail terhadap klaster ini juga dapat disebabkan oleh transmisi droplet dan benda sekitar, serta kontak erat dari sebagian kecil kasus ke banyak orang (kondisi superspreading). Terutama, jika kebersihan tangan tidak dilakukan dan masker tidak digunakan serta jarak fisik tidak diberlakukan.

Baca juga: Virus Corona Menyebar di Udara, Begini Rekomendasi WHO

Oleh karena itu, WHO menyatakan kemungkinan terdapatnya penularan secara airborne pada kondisi ruang tertutup (indoor), ramai, dengan ventilasi yang kurang baik. Namun, WHO belum menyatakan secara pasti bahwa Covid-19 menular secara airborne.

Dengan terdapatnya risiko tersebut terutama pada ruangan tertutup, PDPI memberikan beberapa himbauan:

1. Masyarakat tetap waspada dan tidak panik
2. Menghindari keramaian baik di tempat tertutup maupun terbuka
3. Menggunakan masker di mana saja, dan kapan saja bahkan dalam ruangan
4. Menciptakan ruangan dengan ventilasi yang baik (jendela dibuka sesering mungkin)
5. Tetap menjaga kebersihan tangan serta hindari menyentuh wajah sebelum cuci tangan
6. Tetap menjaga jarak pada aktivitas sehari-hari.


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X