Studi Terbaru, Kerusakan Otak Disebut Berkaitan dengan Covid-19

Kompas.com - 09/07/2020, 10:02 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi

KOMPAS.com – Virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan penyakit Covid-19 tidak hanya menyerang paru. Penelitian terbaru menyebutkan bahwa Covid-19 juga berpotensi menimbulkan kerusakan fatal pada otak dan saraf.

Studi tersebut dipublikasikan dalam jurnal Brain. Penelitian dilakukan kepada pasien Covid-19 yang mengalami pembengkakan pada otak disebabkan oleh delirium.

Beberapa pasien lainnya mengalami kelainan sistem saraf seperti Guillain-Barre yang bisa menyebabkan paralisis. Sementara itu, beberapa pasien lain mengalami stroke.

Baca juga: Virus Corona, Apa Dampak Covid-19 bagi Otak Manusia?

“Kami melihat bagaimana Covid-19 berefek pada otak, sesuatu yang belum pernah kami saksikan dari penyakit-penyakit sebelumnya,: tutur Michael Zandi, salah satu penulis studi, kepada The Guardian.

Para peneliti menemukan bahwa gejala kerusakan saraf ini tak hanya terjadi pada pasien dalam kondisi kritis (mereka yang membutuhkan ventilator atau alat bantu pernapasan).

“Anda bisa saja hanya merasa sakit saat mengalami kelainan saraf,” tambah ia.

Studi terhadap 43 pasien

Mengutip Science Alert, Kamis (9/7/2020), para peneliti memeriksa 43 pasien Covid-19 dengan rentang usia antara 16-85 thun. Semuanya dirawat di National Hospital of Neurology and Neosurgery di London antara 9 April – 15 Mei 2020.

Sebanyak 10 pasien mengalami pembengkakan parah pada otak mereka, diikuti oleh delirium. Seorang pasien yang berusia 55 tahun mulai melakukan hal-hal tidak biasa tiga hari setelah keluar dari rumah sakit.

Disebutkan bahwa ia memakai dan melepas jaketnya terus menerus. Kemudian, mulai mengalami halusinasi visual dengan mengatakan bahwa ia melihat singa dan monyet di dalam rumah.

Baca juga: Alami Penyakit Otak, Pria ini Tak Bisa Kenali Angka 2 Sampai 9, Kok Bisa?

Setelah itu, pasien tersebut mengalami delusi Capgras, sebuah kondisi psikiatri di mana seorang anggota keluarga digantikan oleh sosok hewan tersebut.

Sebanyak 12 pasien lainnya mengalami pembengkakan pada sistem saraf sentral, satu di antaranya meninggal. Sembilan dari 12 orang tersebut didiagnosa Acute Disseminated Encephalomyelitis (ADEM), sebuah inflamasi langka yang biasanya menyerang bagian otak anak-anak dan spinal cords setelah infeksi campak atau cacar.

Baca juga: Ahli Temukan Peradangan di Otak Pasien Corona Covid-19, Kok Bisa?

Para peneliti mencatat kasus ADEM dari rumah sakit tersebut meningkat dari satu kasus per bulan, menjadi dua sampai tiga kasus yang mengiringi pasien Covid-19.

Sebanyak delapan pasien, termasuk wanita berusia 27 tahun dengan gejala ringan Covid-19, mengalami stroke karena penggumpalan darah pada otak.

Secara keseluruhan, para peneliti menemukan bahwa Covid-19 tidak hanya berkaitan dengan paru pasien. Bisa saja, paru berada dalam kondisi baik namun otak mereka tidak.


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X