Ilmuwan Temukan Amfibi Pertama yang Memiliki Bisa seperti Ular

Kompas.com - 08/07/2020, 18:02 WIB
Caecilian bercincin memiliki racun yang berbahaya bagi hewan lain. sciencealertCaecilian bercincin memiliki racun yang berbahaya bagi hewan lain.

KOMPAS.com - Jika ini kali pertama Anda melihat caecilian, mungkin Anda akan mengiranya sebagai ular. Meski termasuk hewan amfibi, caecilian memang tampak seperti persilangan antara ular dan cacing.

Namun keunikan caecilian tak hanya terletak pada fisiknya. Mahluk yang telah eksis selama ratusan juta tahun di Bumi ini ternyata punya rahasia tersembunyi lain dalam tubuhnya.

Dikutip dari Science Alert, Selasa (7/7/2020), kini peneliti berhasil mengungkapkannya. Penelitian baru menunjukkan mereka tampaknya memiliki kelenjar racun yang bahkan bisa memberikan efek berbahaya pada hewan lain.

Baca juga: Amfibi Terbesar di Dunia Ditemukan, Salamander Raksasa Hampir 2 Meter

Temuan ini merupakan yang pertama kali terlihat pada amfibi. Sehingga, caecilian pun menjadi hewan vertebrata darat tertua yang memiliki gigitan berbisa.

Ahli biologi Pedro Luiz Mailho-Fontana dari Butantan Institute, penulis pertama studi ini, menemukan bukti tersebut setelah melakukan pemeriksaan pada caecilian cincin yang telah mati (Siphonops annulatus).

Analisis mikroskopis menunjukkan kalau racun berasal dari jaringan gigi. Ini hampir mirip dengan yang ditemukan pada ular, namun memang belum ditemukan sebelumnya pada amfibi.

Peneliti masih menunggu hasil studi mereka untuk mengetahui apa yang terkandung dalam cairan itu dan berapa banyak spesies caecilian yang memiliki karakteristik beracun ini.

Sementara itu, peneliti juga masih menduga bagaimana caecilian dapat menggunakan racun tersebut. Hal ini lantaran caecilian tidak memiliki lengan atau kaki. Mulut adalah satu-satunya alat yang bisa mereka gunakan.

"Kami percaya caecilian mengaktifkan kelenjar mulut saat menggigit dan biomolekul khusus dimasukkan ke dalam sekresi mereka," ujar ahli biologi evolusi Marta Maria Antoniazzi, dari Butantan Institute Brasil.

Baca juga: Bisa 5 Abad, Inilah Vertebrata dengan Usia Terpanjang di Dunia

Temuan ini tak hanya penting untuk studi mengenai caecilian tetapi juga merupakan gambaran evolusi yang lebih luas. Sebab, amfibi yang hidup di bawah tanah ini telah ada jauh lebih lama daripada ular.

Hal itu berarti mereka bisa menjadi hewan tertua yang memiliki gigitan berbisa.

"Mungkin caecilian mewakili bentuk evolusi kelenjar racun yang lebih primitif. Ular muncul di era Cretaceous mungkin 100 juta tahun yang lalu, tetapi caecilian jauh lebih tua, sekitar 250 juta tahun lalu," kata ahli biologi Carlos Jared dari Butantan Institute Brasil.

Sekarang tim peneliti tengah berencana untuk menangkap dan memeriksa lebih banyak lagi caecilian. Tapi sepertinya peneliti harus bersabar, mengingat kecenderungan hidup mereka yang sebagian besar besembunyi di bawah tanah tentu tak akan mudah untuk segera menemukan hewan ini.

Penelitian ini telah dipublikasikan di iScience.


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Mampu Serang Dinosaurus, Nenek Moyang Buaya Punya Gigi Sebesar Pisang

Mampu Serang Dinosaurus, Nenek Moyang Buaya Punya Gigi Sebesar Pisang

Fenomena
Bukan Hewan Soliter, Hiu Terbukti Membentuk Komunitas

Bukan Hewan Soliter, Hiu Terbukti Membentuk Komunitas

Oh Begitu
Menengok Pendekatan Kultural dalam Pencegahan Pandemi Tahun 1920

Menengok Pendekatan Kultural dalam Pencegahan Pandemi Tahun 1920

Fenomena
Demi Udara Sehat Jakarta Jangan Izinkan Pembangunan Pembangkit Listrik, Kenapa?

Demi Udara Sehat Jakarta Jangan Izinkan Pembangunan Pembangkit Listrik, Kenapa?

Oh Begitu
Vaksin Corona Rusia Siap Diimunisasikan, Ilmuwan Ragukan Keamanannya

Vaksin Corona Rusia Siap Diimunisasikan, Ilmuwan Ragukan Keamanannya

Fenomena
Serba-serbi Hewan: Sering Curi Cermin, Benarkah Monyet Suka Becermin?

Serba-serbi Hewan: Sering Curi Cermin, Benarkah Monyet Suka Becermin?

Oh Begitu
WHO Ingatkan Hindari Perawatan Rutin Gigi untuk Cegah Virus Corona

WHO Ingatkan Hindari Perawatan Rutin Gigi untuk Cegah Virus Corona

Oh Begitu
Sumber Utama Polusi Udara Jakarta Ternyata Bukan Transportasi, Kok Bisa?

Sumber Utama Polusi Udara Jakarta Ternyata Bukan Transportasi, Kok Bisa?

Oh Begitu
Mulai Malam Ini, Puncak Hujan Meteor Perseids di Langit Indonesia

Mulai Malam Ini, Puncak Hujan Meteor Perseids di Langit Indonesia

Fenomena
Dataran Es Terakhir Berusia 4.000 Tahun di Arktik Terbelah

Dataran Es Terakhir Berusia 4.000 Tahun di Arktik Terbelah

Fenomena
Terkenal Buruk, Begini Kualitas Udara Jakarta Selama Pandemi Covid-19

Terkenal Buruk, Begini Kualitas Udara Jakarta Selama Pandemi Covid-19

Oh Begitu
Bencana Lingkungan, Ribuan Ton Minyak Tumpah di Mauritius Terlihat dari Luar Angkasa

Bencana Lingkungan, Ribuan Ton Minyak Tumpah di Mauritius Terlihat dari Luar Angkasa

Fenomena
Kematian Ratusan Gajah di Botswana Masih Misteri, Hasil Tes Tidak Meyakinkan

Kematian Ratusan Gajah di Botswana Masih Misteri, Hasil Tes Tidak Meyakinkan

Oh Begitu
Lindungi Ternak dari Predator, Ahli Bikin Gambar Mata di Pantat Sapi

Lindungi Ternak dari Predator, Ahli Bikin Gambar Mata di Pantat Sapi

Oh Begitu
Kualitas Laut Parah, Ada Polutan Beracun di Tubuh Paus dan Lumba-Lumba

Kualitas Laut Parah, Ada Polutan Beracun di Tubuh Paus dan Lumba-Lumba

Fenomena
komentar
Close Ads X