Belajar dari India, Kenali 6 Indikasi Cuaca Ekstrem di Indonesia

Kompas.com - 08/07/2020, 11:03 WIB
Awan cumulonimbus menggelayut di langit Jakarta, Minggu (4/12). Dalam sepekan ini hingga pertengahan minggu ini, sebagian wilayah Indonesia, termasuk Jakarta dan sekitarnya, berpotensi diguyur hujan lebat disertai angin kencang dan petir. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika meminta semua masyarakat waspada. KOMPAS/HENDRA A SETYAWANAwan cumulonimbus menggelayut di langit Jakarta, Minggu (4/12). Dalam sepekan ini hingga pertengahan minggu ini, sebagian wilayah Indonesia, termasuk Jakarta dan sekitarnya, berpotensi diguyur hujan lebat disertai angin kencang dan petir. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika meminta semua masyarakat waspada.

KOMPAS.com - 147 orang di India tewas akibat disambar petir. Peristiwa ini bisa menjadi pembelajaran untuk kita agar lebih waspada terhadap cuaca ekstrem yang bisa terjadi di Indonesia dan menghindari dampak buruknya.

Kepala Bidang Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG, Miming Saepudin mengatakan, kejadian di India disebabkan oleh kondisi sistem awan Cumulonimbus (Cb).

Dia mengingatkan, dampak buruk dari sistem awan Cb ini juga dapat terjadi di Indonesia.

"Secara umum di wilayah Indonesia, hujan lebat yang disertai dengan angin kencang dan kilat atau petir dapat terjadi dari sistem awan Cb," kata Miming kepada Kompas.com, Selasa (7/7/2020).

Baca juga: Serangan Petir di India Tewaskan 147 Orang, Begini Analisa BMKG

Oleh sebab itu, Miming menyebutkan ada beberapa indikasi umum yang dapat Anda gunakan untuk mengenali terjadinya potensi cuaca ekstrem, seperti hujan lebat disertai angin kecang, kilat atau petir, puting beliung, hujan es, dan sebagainya.

Berikut 6 indikasi penting cuaca ekstrem yang harus diketahui:

1. Udara panas sejak pagi hari

Miming menuturkan, indikasi pertama yang biasanya terjadi adalah udara sejak pagi hari sudah terasa panas, cukup terik, dan gerah.

Kondisi udara panas cenderung terik ini sebenarnya diakibatkan oleh adanya radiasi Matahari yang cukup kuat, yang ditunjukkan oleh nilai perbedaan suhu udara antara pukul 10.00 dan 07.00 LT (lebih dari 4.0 derajat celcius).

Bahkan, seringkali disertai dengan kelembapan yang cukup tinggi dan ditunjukkan oleh nilai kelembapan udara di lapisan 700 mb atau lebih dari 60 persen.

Halaman Selanjutnya
Halaman:

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

WHO Ingatkan Hindari Perawatan Rutin Gigi untuk Cegah Virus Corona

WHO Ingatkan Hindari Perawatan Rutin Gigi untuk Cegah Virus Corona

Oh Begitu
Sumber Utama Polusi Udara Jakarta Ternyata Bukan Transportasi, Kok Bisa?

Sumber Utama Polusi Udara Jakarta Ternyata Bukan Transportasi, Kok Bisa?

Oh Begitu
Mulai Malam Ini, Puncak Hujan Meteor Perseids di Langit Indonesia

Mulai Malam Ini, Puncak Hujan Meteor Perseids di Langit Indonesia

Fenomena
Dataran Es Terakhir Berusia 4.000 Tahun di Arktik Terbelah

Dataran Es Terakhir Berusia 4.000 Tahun di Arktik Terbelah

Fenomena
Terkenal Buruk, Begini Kualitas Udara Jakarta Selama Pandemi Covid-19

Terkenal Buruk, Begini Kualitas Udara Jakarta Selama Pandemi Covid-19

Oh Begitu
Bencana Lingkungan, Ribuan Ton Minyak Tumpah di Mauritius Terlihat dari Luar Angkasa

Bencana Lingkungan, Ribuan Ton Minyak Tumpah di Mauritius Terlihat dari Luar Angkasa

Fenomena
Kematian Ratusan Gajah di Botswana Masih Misteri, Hasil Tes Tidak Meyakinkan

Kematian Ratusan Gajah di Botswana Masih Misteri, Hasil Tes Tidak Meyakinkan

Oh Begitu
Lindungi Ternak dari Predator, Ahli Bikin Gambar Mata di Pantat Sapi

Lindungi Ternak dari Predator, Ahli Bikin Gambar Mata di Pantat Sapi

Oh Begitu
Kualitas Laut Parah, Ada Polutan Beracun di Tubuh Paus dan Lumba-Lumba

Kualitas Laut Parah, Ada Polutan Beracun di Tubuh Paus dan Lumba-Lumba

Fenomena
WHO: Dunia Catat Hampir 750 Ribu Kematian Akibat Covid-19

WHO: Dunia Catat Hampir 750 Ribu Kematian Akibat Covid-19

Oh Begitu
Penemuan yang Mengubah Dunia: Sebelum Inhaler Ditemukan, Ribuan Tahun Orang Hirup Zat Obati Asma

Penemuan yang Mengubah Dunia: Sebelum Inhaler Ditemukan, Ribuan Tahun Orang Hirup Zat Obati Asma

Oh Begitu
Kafein Bisa Membantu Meredakan Sakit Kepala Migrain, Asal ...

Kafein Bisa Membantu Meredakan Sakit Kepala Migrain, Asal ...

Kita
K-Talk: Arab Sudah ke Mars, Kita Kapan?

K-Talk: Arab Sudah ke Mars, Kita Kapan?

Fenomena
Badai Petir Bisa Memicu Serangan Asma yang Parah, Ini Penjelasannya

Badai Petir Bisa Memicu Serangan Asma yang Parah, Ini Penjelasannya

Fenomena
Lama Jadi Misteri, Cara Bergerak Reptil Purba Si Leher Jerapah Terungkap

Lama Jadi Misteri, Cara Bergerak Reptil Purba Si Leher Jerapah Terungkap

Oh Begitu
komentar
Close Ads X