Bukan Oranye, Seperti Apa Warna Matahari Terbenam di Planet Lain?

Kompas.com - 05/07/2020, 18:02 WIB
Matahari terbenam di Planet Mars, diambil oleh rover Spirit pada 2005. NASA/JPL/Texas A&M/CornellMatahari terbenam di Planet Mars, diambil oleh rover Spirit pada 2005.

KOMPAS.com – Anda pasti suka melihat panorama Matahari terbenam, dengan warna oranye kemerahan yang perlahan tenggelam di balik horizon. Namun apakah Anda tahu, warna Matahari terbenam di planet lain tidak seperti itu.

Warna yang dihasilkan Matahari saat tenggelam bergantung pada atmosfer planet masing-masing. Di Mars misalnya, Matahari terbit dan tenggelam dengan pancaran warna biru.

Di Uranus, Matahari terbenam dengan gradasi warna biru menuju biru kehijauan. Kemudian dari Titan, salah satu satelit milik Saturnus, langit berubah dari kuning menjadi oranye dan akhirnya cokelat saat Matahari terbenam.

Warna Matahari terbenam tidaklah beragam karena bergantung pada atmosfer tiap planet. Serta, bagaimana partikel-partikel atmosfer tersebut memecah cahaya Matahari.

Baca juga: Rahasia Alam Semesta: Warna Matahari Bukan Kuning tapi Putih, Kok Bisa?

Hal itu diungkapkan oleh Kurt Ehler, seorang profesor matematika di Truckee Community College di Nevada, AS. Ia adalah penulis jurnal Applied Optics yang membahas mengapa Matahari terbenam di Mars berwarna biru.

“Hampir semua orang pasti mengira warna Matahari terbenam di planet lain sama dengan yang mereka lihat di Bumi. Tapi tidak begitu kenyataannya,” tutur Ehler seperti dikutip dari Live Science, Minggu (5/7/2020).

Ilustrasi matahariNASA/SDO (AIA) Ilustrasi matahari

Atmosfer pada Bumi misalnya, terbuat dari molekul-molekul gas dengan mayoritas nitrogen dan oksigen. Hal ini membuat partikel sinar Matahari lebih mudah dipecahkan, serta dipantulkan ke berbagai arah.

Warna biru dan ungu dihasilkan apabila panjang gelombang tersebut pendek. Sementara, warna merah dihasilkan apabila gelombang cahayanya panjang.

Baca juga: Seperti Apa Matahari Terbenam di Planet Lain? Ini Simulasi NASA

Tipe-tipe penyebaran ini disebut dengan Rayleigh Scattering. Hasilnya adalah kita melihat langit yang berwarna biru pada saat siang hari. Namun ketika beranjak malam dan jarak Matahari semakin menjauh, gelombang cahaya menjadi lebih panjang sehingga warna kemerahan pun tercipta.

Ehler mengatakan semua planet dengan atmosfer dari gas memiliki kecenderungan yang sama. Uranus misalnya, memiliki atmosfer gas gabungan dari hidrogen, helium, dan metana. Pada siang hari, cahaya Matahari terlihat kebiruan sementara pada malam hari berubah menjadi kemerahan.

Halaman:

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X