Uji Klinis Vaksin Corona dari Jerman dan AS Tunjukkan Hasil Positif

Kompas.com - 02/07/2020, 12:00 WIB
Ilustrasi vaksin corona ShutterstockIlustrasi vaksin corona

KOMPAS.com - Proyek gabungan dari perusahaan farmasi BioNTech-Jerman dan Pfizer-AS melaporkan hasil awal yang positif dalam pengembangan vaksin Covid-19.

Kandidat vaksin yang dinamai BNT162b1 itu memberikan respons antibodi pada atau di atas tingkat yang terlihat dalam serum pemulihan - darah dari pasien Covid-19 yang sudah sembuh - pada dosis yang relatif rendah.

"Data awal dari uji coba fase 1/2 bertujuan untuk menunjukkan bahwa vaksin BNT162b1 tidak beracun dan memicu respons sistem kekebalan tubuh yang dapat mempersiapkan tubuh melawan virus," kata CEO BioNTech, Ugur Sahin, Rabu (1/7/2020).

Dari 45 orang berusia 18 hingga 55 tahun yang ikut uji coba, sebagian besar menerima dua dosis, 21 hari terpisah, baik vaksin atau plasebo (obat yang tidak memberi dampak).

Baca juga: Rencana Ambisius WHO Beli 2 Miliar Dosis Vaksin Corona, Apa Tujuannya?

Dilansir Science Alert, Kamis (2/7/2020), sebagian besar peserta mengalami demam setelah mendapat dosis kedua.

Dalam laporan yang diunggah di situs pra-publikasi medrxiv.org, hal itu tidak dianggap sebagai masalah.

Vaksin ini mengandalkan RNA, kode genetik yang masuk ke dalam sel manusia untuk membuatnya menghasilkan antibodi yang secara khusus disesuaikan dengan Covid-19.

Beberapa perusahaan telah melaporkan hasil awal dari fase uji klinis dan menyatakan bahwa vaksin eksperimental mereka memicu respons sistem kekebalan.

Baca juga: Bingung Vaksinasi Anak Selama Pandemi Covid-19? Ini 5 Anjuran IDAI

Menurut London School of Hygiene & Tropical Medicine, ada 23 proyek vaksin Covid-19 sedang dalam tahap uji klinis pada manusia.

Beberapa telah melanjutkan ke fase 2 dan fase 3. Vaksin disuntikkan ke ribuan sukarelawan untuk mengevaluasi efektivitasnya, memantau efek samping, dan mengumpulkan informasi lain untuk mengetahui keamanannya.

Kandidat vaksin yang dibuat oleh perusahaan bioteknologi Moderna AS dan satu vaksin dari Universitas Oxford bekerja sama dengan perusahaan Inggris-Swedia AstraZeneca, dan beberapa proyek dari China merupakan kandidat yang ada di tahap perkembangan paling maju.

Ini termasuk satu dari perusahaan CanSinoBIO, yang telah menerima izin untuk memberikan vaksin kepada tentara China.

Baca tentang

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X