Intip Dapur BMKG, Begini Cara Membuat Prakiraan Cuaca Wilayah Anda

Kompas.com - 01/07/2020, 08:03 WIB
Seorang perempuan menggunakan tangannya untuk menahan sinar matahari agar tidak kepanasan di siang hari yang terik SHUTTERSTOCKSeorang perempuan menggunakan tangannya untuk menahan sinar matahari agar tidak kepanasan di siang hari yang terik

KOMPAS.com - Mendapatkan informasi prakiraan cuaca menjadi salah satu hal yang dibutuhkan sebelum menjalani aktivitas sehari-hari. Setidaknya, ini menolong kita untuk tahu potensi cuaca akan cerah atau hujan dan mempersiapkan diri.

Di Indonesia, informasi prakiraan cuaca setiap daerah dikeluarkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika ( BMKG). Setiap pagi, kita bisa melihat informasi perkiraan cuaca yang dikeluarkan BMKG.

Namun, sebenarnya bagaimana proses BMKG hingga bisa mengeluarkan prakiraan cuaca setiap hari?

Kepala Bidang Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG, Miming Saepudin, menjelaskan, prakiraan cuaca dilakukan oleh seorang forecaster (prakirawan cuaca) yang dalam prosesnya didukung dengan alat-alat canggih.

Baca juga: BMKG: Musim Kemarau 2020 di Indonesia Cenderung Basah, Ini Faktor Pemicunya

Tentunya prakirawan cuaca perlu memiliki pengetahuan yang memadai tentang atmosfer. Tidak hanya itu, diperlukan juga pengalaman serta keberanian dalam membuat keputusan.

"Setiap daerah dan negara memiliki ciri kondisi cuaca yang khas, sehingga setiap prakirawan cuaca harus memahami karakteristik cuaca di tempat ia bertugas," ujar Miming saat dihubungi Kompas.com beberapa waktu lalu.

Ia menjelaskan, pada dasarnya membuat prakiraan cuaca tak lepas dari kaidah ilmu fisika, ilmu matematika dan filosofi dinamika atmosfer. Sebelum membuat prakiraan cuaca, seorang prakirawan harus menganalisis kondisi cuaca.

Analisis dapat dilakukan terhadap fenomena yang sudah terjadi, mencakup penyebabnya dan peluang untuk fenomena kembali terjadi. Dalam hal ini, diperlukan keahlian menginterpretasikan atau memfilosofikan dinamika atmosfer.

Ini dimulai dari memahami jenis-jenis peta analisis permukaan hingga analisis peta udara atas, serta memahami fenomena dan sirkulasi udara baik yang sudah, sedang, maupun akan terjadi, serta faktor dominan apa yang sedang terjadi.

Baca juga: Benarkah New Normal Tingkatkan Polusi Udara Jakarta? Ini Kata BMKG

"Sehingga akan diketahui keadaan atmosfer yang sedang terjadi, dan selanjutnya dapat dijadikan referensi untuk memprediksi cuaca ke depan," katanya.

Halaman:

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X