Kompas.com - 26/06/2020, 10:02 WIB
Ilustrasi cemas. SHUTTERSTOCKIlustrasi cemas.

KOMPAS.com - Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Namun, sebagian besar orang Indonesia masih saja mengabaikannya dan memandang buruk penderitanya.

Salah satu gangguan mental yang sering dialami orang adalah kecemasan.

Terlebih pada saat pandemi seperti ini, ketika aktivitas kembali dilakukan di era kenormalan baru (new normal), rasa cemas dapat meningkat.

Praktisi Mindfulness dan Emotional Healing Adjie Santosoputro mengatakan, umumnya orang akan menganggap kecemasan bisa sembuh seiring dengan berjalannya waktu. Sehingga tak perlu penanganan khusus untuk menyembuhkannya.

Baca juga: Psikolog Sebut Cemas Hadapi Corona itu Normal, Ini Cara Mengatasinya

Menghilangkan rasa cemas mungkin saja terjadi, tapi jika masih di tahap ringan.

Jika rasa cemas sudah pada tingkat yang lebih berat, mengabaikannya malah bisa menjadi berbahaya bagi diri sendiri.

"Ada ungkapan-ungkapan bahwa andalkan waktu untuk sembuhkan kecemasan atau luka batin, padahal ini tidak sepenuhnya bisa diandalkan," ujarnya dalam webinar Danone-Aqua tentang mindfulness untuk kurangi kecemasan, Kamis (25/6/2020).

Adjie menjelaskan, ketika kecemasan tidak disembuhkan maka seiring berjalannya waktu akan masuk ke alam bawah sadar. Rasa cemas seolah-olah tidak ada, tapi sebenarnya sudah menjadi bom waktu yang bisa meledak suatu saat.

Sebenarnya saat kecemasan sudah masuk ke alam bawah sadar, tubuh memberikan kode-kode untuk kita menyadarinya. Menurutnya, kode itu berupa hal-hal yang terjadi di kehidupan sehari-hari.

"Contohnya, relasi dengan orang sekitar jadi tidak baik, sedikit-dikit marah, menjadi runyam, kondisi jadi tidak nyaman. Itu bisa jadi tanda kecemasan masuk ke dalam alam bawah sadar dan belum disembuhkan," jelasnya.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.