The Conversation
Wartawan dan akademisi

Platform kolaborasi antara wartawan dan akademisi dalam menyebarluaskan analisis dan riset kepada khalayak luas.

Ini Penyebab Pasien Covid-19 Kehilangan Kemampuan Mencium Bau

Kompas.com - 26/06/2020, 09:03 WIB
Ilustrasi hidung shutterstockIlustrasi hidung

Oleh: Simon Gane & Jane Parker

SEJAK laporan awal dari China, Iran dan kemudian Italia, kita tahu bahwa kehilangan indra penciuman (anosmia) adalah gejala yang signifikan dari COVID-19.

Sekarang, setelah lebih banyak laporan selama berbulan-bulan, baik anekdotal maupun temuan klinis, kami merasa sudah memiliki model tentang bagaimana virus ini dapat menyebabkan anosmia.

Salah satu penyebab hilangnya kemampuan mencium yang paling umum adalah infeksi virus, seperti pilek, sinus atau infeksi saluran pernapasan bagian atas lainnya.

Coronavirus yang tidak menyebabkan penyakit mematikan - seperti COVID-19, SARS dan MERS - adalah salah satu penyebab flu biasa dan telah diketahui menyebabkan hilangnya kemampuan mencium.

Dalam sebagian besar kasus ini, kemampuan penciuman pulih ketika gejala penyakit hilang. Ini karena hilangnya kemampuan itu hanyalah akibat dari hidung tersumbat, yang mencegah molekul aroma mencapai reseptor penciuman di hidung.

Namun, dalam beberapa kasus, anosmia dapat bertahan selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Anosmia dalam COVID-19

Untuk SARS-CoV-2, pola kehilangan ini berbeda. Banyak orang yang terinfeksi COVID-19 melaporkan anosmia tiba-tiba dan kemudian secara tiba-tiba pula kemampuan penciuman kembali normal dalam seminggu atau dua minggu.

Menariknya, banyak dari orang-orang ini mengatakan hidung mereka bersih, sehingga hilangnya kemampuan mencium tidak dapat dikaitkan dengan hidung yang tersumbat.

Dalam kasus lain, anosmia terjadi lebih lama hingga beberapa minggu kemudian. Setiap penjelasan terkait anosmia dalam COVID-19 harus mampu mencakup kedua pola ini.

Pulihnya indra penciuman secara tiba-tiba menandakan anosmia yang terjadi karena faktor obstruktif, yaitu molekul aroma tidak dapat mencapai reseptor di hidung (mirip ketika kita menjepit hidung untuk menghindari bau tak sedap).

Sekarang kita sudah memiliki CT scan hidung dan sinus orang-orang terinfeksi COVID-19 yang kehilangan bau.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.