Antara Dua Endeavour dan Era Baru Penerbangan Antariksa Berawak

Kompas.com - 17/06/2020, 19:23 WIB
Peluncuran wantariksa Crew Dragon di kompleks antariksa Kennedy pada 30 Mei 2020. NASA/Joel KowskyPeluncuran wantariksa Crew Dragon di kompleks antariksa Kennedy pada 30 Mei 2020.

TAK banyak pemerhati aeronotika astronotika yang nir–antusias terhadap penerbangan wahana antariksa (wantariksa) Crew Dragon Demo–2 ke stasiun antarika internasional ISS pada akhir bulan Mei lalu. Saya adalah salah satu di antaranya.

Bukan pada kinerja roket Falcon 9 yang tetap mengesankan. Falcon 9 masih tetap menjadi satu–satunya roket ulang–alik operasional pada saat ini, teknologi inovatif terbaru yang demikian mereduksi ongkos terbang ke langit.

Bukan juga karena penerbangan bersejarah tersebut terjadi pada waktu yang salah. Di kala segenap penjuru Amerika Serikat diguncang demonstrasi antirasialisme besar–besaran seiring kematian tragis George Floyd.

Lalu, bukan juga karena penerbangan ini terjadi di tengah pandemi Covid–19 yang tak berkeruncingan dengan negeri Paman Sam itu menjadi salah satu negara yang belum berhasil mengontrolnya.

Demikian pula bukan akibat pengaruh ketidakrelaan emosional domestik atas keputusan pemerintahan Presiden Jokowi menghapus pengembangan pesawat N–245 dan R–80 dari Proyek Strategis Nasional. Meski pertimbangan teknis dan ekonomisnya masih bisa dipahami.

Rasa itu berpangkal pada pertanyaan lebih substansial, mengapa Amerika Serikat butuh waktu hingga sembilan tahun lamanya sebelum kembali ke kancah penerbangan antariksa mandiri?

Sebagai adidaya, Paman Sam nyaris punya semua sumberdaya yang diimpikan guna menempatkan manusia ke langit. Mulai dari institusi pendidikan kelas wahid, industri antariksa papan atas, infrastruktur penunjang yang nyaris komplit dan memadai hingga pendanaan federal yang mencukupi.

Namun apa boleh buat, hampir sedasawarsa harus berlalu sebelum wantariksa berawak yang aman dan layak terbang berhasil dirakit. Butuh sembilan tahun usai misi Endeavour (STS–134) untuk menghadirkan kembali misi Endeavour (Crew Dragon Demo–2) ke orbit Bumi.

Inilah hiatus terpanjang dalam sejarah penerbangan antariksa berawak, lebih lama dari hiatus 6 tahun antara Program Apollo dan Sistem Transportasi Antariksa Ulang–Alik.

Misi Endeavour (STS–134) adalah bagian dari penerbangan akhir sistem transportasi antariksa ulang–alik untuk menyelesaikan pembangunan ISS. Mengangkut enam astronot, misi ini berjalan dengan sukses. Setelah mendarat, Endeavour dipermak lalu dipajang permanen di California Science Center (Los Angeles).

Tepat sembilan tahun kemudian, misi Endeavour (Crew Dragon Demo–2) mengangkasa mengangkut dua astronot, yakni Douglas Hurley dan Robert Behnken. Sesaat setelah mengangkasa, keduanya menyematkan nama Endeavour pada kapsul yang ditumpanginya mengikuti tradisi panjang penerbangan antariksa berawak Amerika Serikat hingga Program Apollo.

Ulang Alik

SpaceX, 2020 Wantariksa Crew Dragon bertengger anggun di hidung roket ulang–alik Falcon 9 di landasan peluncuran 39A, kompleks antariksa Kennedy pada empat hari sebelum peluncuran. Peluncurannya menandai kembaliny
Peluncuran Crew Dragon adalah realisasi Commercial Crew Program badan antariksa Amerika Serikat (NASA) guna mengirim astronot–astronotnya ke ISS melalui wantariksa komersial yang difabrikasi perusahaan–perusahaan dirgantara swasta.

Jadi berbeda dengan bab–bab penerbangan antariksa berawak sebelumnya yang sepenuhnya berada di bawah payung operasi pemerintah, dengan aneka perusahaan dirgantara yang dilibatkan hanya berperan sebagai kontraktor.

Di bawah Commercial Crew Program, pada dasarnya perusahaan–perusahaan dirgantara tersebut membuat wantariksanya sendiri–sendiri di bawah iming–iming kontrak dan ditunjang stimulus keuangan federal melalui NASA. Setiap upaya fabrikasi, pengetesan dan peluncuran sepenuhnya menjadi tanggung jawab mereka sementara NASA tinggal menerima hasilnya.

Sekilas hal ini mirip dengan upaya NASA mengontrak kursi wantariksa Soyuz dari badan antariksa Rusia (Roscosmos) sejak 2011. Bedanya, kerjasama NASA dan Roscomos merupakan kerjasama antarnegara, bukan komersial.

Halaman:

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

BMKG: Sejumlah Wilayah Masih Harus Waspada Cuaca Ekstrem Hingga Besok

BMKG: Sejumlah Wilayah Masih Harus Waspada Cuaca Ekstrem Hingga Besok

Kita
Benarkah WHO Tak Sarankan Masker Universal Cegah Covid-19? Ini Penjelasannya

Benarkah WHO Tak Sarankan Masker Universal Cegah Covid-19? Ini Penjelasannya

Oh Begitu
Ledakan di Lebanon, Seberapa Besar Energinya Dibandingkan Bom Nuklir?

Ledakan di Lebanon, Seberapa Besar Energinya Dibandingkan Bom Nuklir?

Oh Begitu
Apa Itu Gonore, Infeksi Menular Seksual Pilek pada Alat Kelamin?

Apa Itu Gonore, Infeksi Menular Seksual Pilek pada Alat Kelamin?

Kita
Kekurangan Vitamin D, Anak Berisiko Asma hingga Dermatitis Atopik, Kok Bisa?

Kekurangan Vitamin D, Anak Berisiko Asma hingga Dermatitis Atopik, Kok Bisa?

Oh Begitu
Ledakan Lebanon, Apa Itu Amonium Nitrat dan Kenapa Sangat Berbahaya?

Ledakan Lebanon, Apa Itu Amonium Nitrat dan Kenapa Sangat Berbahaya?

Oh Begitu
Hoaks Covid-19 dan Infodemik, Tantangan Ilmuwan Indonesia Sikapi Konstruksi Anti-Sains

Hoaks Covid-19 dan Infodemik, Tantangan Ilmuwan Indonesia Sikapi Konstruksi Anti-Sains

Fenomena
Astronot NASA Ungkap Pengalamannya Tunggangi Crew Dragon SpaceX

Astronot NASA Ungkap Pengalamannya Tunggangi Crew Dragon SpaceX

Oh Begitu
Mammoth Berbulu Berusia 10.000 Tahun Ditemukan, Masih Dilapisi Kulit dan Kotoran

Mammoth Berbulu Berusia 10.000 Tahun Ditemukan, Masih Dilapisi Kulit dan Kotoran

Fenomena
Teknologi AI Semakin Canggih, Ghost Work Bisa Ancam Pekerja Manusia

Teknologi AI Semakin Canggih, Ghost Work Bisa Ancam Pekerja Manusia

Fenomena
Studi Ungkap Risiko Tertular Virus Corona Covid-19 di Kereta

Studi Ungkap Risiko Tertular Virus Corona Covid-19 di Kereta

Oh Begitu
Binatang Peliharaan Bisa Terinfeksi Corona dan Berpotensi Menularkan

Binatang Peliharaan Bisa Terinfeksi Corona dan Berpotensi Menularkan

Kita
Covid-19 Belum Bisa Disebut sebagai Virus Musiman seperti Flu, Ini Penjelasan Ahli

Covid-19 Belum Bisa Disebut sebagai Virus Musiman seperti Flu, Ini Penjelasan Ahli

Fenomena
Antisipasi Dampak Perubahan Iklim, BMKG Ajak Petani Rakayasa Komoditas

Antisipasi Dampak Perubahan Iklim, BMKG Ajak Petani Rakayasa Komoditas

Fenomena
Studi: Anak Balita Berpeluang Tinggi Menularkan Covid-19

Studi: Anak Balita Berpeluang Tinggi Menularkan Covid-19

Kita
komentar
Close Ads X