Kompas.com - 16/06/2020, 12:34 WIB
Ilustrasi polusi kendaraan, asap mobil SHUTTERSTOCK/ssuaphotosIlustrasi polusi kendaraan, asap mobil


KOMPAS.com - Polusi udara kembali menyelimuti langit Jakarta, sejak masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) memasuki masa transisi.

Pembatasan sosial tersebut selama ini menjadi upaya pemerintah untuk mengurangi potensi penyebaran virus corona baru yang menyebabkan Covid-19.

Namun, sejak pelonggaran dilakukan dan warga kembali beraktivitas, otomatis operasional kendaraan bermotor mulai meningkat.

Seperti dikutip dari pemberitaan Kompas.com, Senin (15/6/2020), kemacetan lalu linta tampak mewarnai sejumlah ruas jalan di ibukota.

Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya mencatat ada 410 titik rawan kemacetan di wilayah Jabodetabek. Guna mengurai kemacetan tersebut, sebanyak 1.728 personel dikerahkan.

Baca juga: Benarkah New Normal Tingkatkan Polusi Udara Jakarta? Ini Kata BMKG

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Jakarta penyumbang polusi kedua di dunia

Akibat kemacetan di sejumlah titik tersebut, kualitas udara di DKI Jakarta mulai berdampak.

Berdasarkan data AirVisual IQAir.com, kualitas udara Jakarta pada pukul 18.39 WIB, mencapai angka 131 US AQI.

Dengan angka tersebut, Jakarta menjadi kota kedua di dunia sebagai penyumbang polusi udara terbesar, di bawah Kota New Delhi di India yang mencapai angka 142 US AQI.

Akun tiktok @ianhugen mengunggah video yang membandingkan wajah Jakarta saat diterapkan PSBB dengan hari pertama new normal (15/6/2020).Tangkapan layar TikTok/Ianhugen Akun tiktok @ianhugen mengunggah video yang membandingkan wajah Jakarta saat diterapkan PSBB dengan hari pertama new normal (15/6/2020).

Baca juga: Hari Bumi di Tengah Pandemi Corona, Polusi Udara di Indonesia Menurun

Sementara itu, angka polusi yang terjadi di Jakarta saat ini, sangat berbeda jauh, dibandingkan saat ibukota menerapkan PSBB pada April lalu.

Kualitas udara di Jakarta sempat menempati peringkat 38 dunia pada 22 April 2020 lalu, sebagai kota penyumbang polusi udara terbesar di dunia.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memutuskan untuk kembali memperpanjang PSBB di Jakarta hingga akhir Juni mendatang.

Polusi nitrogen dioksida di atas China turun, hasil citra satelit Sentinel-5P milik ESA. Perbandingan polusi pada Januari 2020 dan Februari 2020.Joshua Stevens/Copernicus Sentinel 5P/ESA Polusi nitrogen dioksida di atas China turun, hasil citra satelit Sentinel-5P milik ESA. Perbandingan polusi pada Januari 2020 dan Februari 2020.

Lockdown turunkan polusi udara

Kualitas udara di Jakarta sempat membaik saat PSBB diberlakukan untuk menekan angka penyebaran virus corona yang menyebabkan Covid-19.

Bahkan, di China dan Italia, lockdown atau penguncian telah memberi dampak positif bagi lingkungan.

Seperti dilansir dari Science Alert, pada Maret lalu, instrumen Tropospheric Monitoring Instrument (TROPOMI) yang disematkan pada satelit Sentinel-5 menangkap gambar langit di atas China.

Citra satelit ini menunjukkan adanya penurunan nitrogen dioksida yang signifikan, dari Januari hingga Februari 2020.

Baca juga: Polusi Nitrogen Dioksida di China Turun, Benarkah Akibat Virus Corona?

Nitrogen dioksida sendiri merupakan polutan yang dihasilkan dari emisi kendaraan bermotor.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) juga mencatatkan kualitas udara pada di Indonesia pada Maret lalu, lebih bersih dibandingkan Maret 2019.

Berjalannya new normal atau fase kenormalan baru saat ini, disebut kembali meningkatkan polusi udara di Jakarta.

Citra satelit Copernicus Sentinel-5P milik ESA dari langit di Italia Utara, menunjukkan penurunan polusi udara secara drastis setelah Italia menyatakan lockdown karena wabah pandemi virus corona, Covid-19. Citra satelit Copernicus Sentinel-5P milik ESA dari langit di Italia Utara, menunjukkan penurunan polusi udara secara drastis setelah Italia menyatakan lockdown karena wabah pandemi virus corona, Covid-19.

Baca juga: Dampak Pandemi Virus Corona pada Lingkungan, Polusi Udara Global Turun

Penyebab memburuknya kualitas udara

Kepala Bidang Analisis Variabilitas Iklim BMKG Indra Gustari menjelaskan membaik atau memburuknya kualitas udara suatu wilayah dilihat dari dua faktor.

"Pertama, perubahan di sumber polutannya dan kedua proses pengurangan polutan di udara," kata dia seperti dikutip dari pemberitaan Kompas.com, Senin (15/6/2020).

Untuk mengetahui dampak pasti dari faktor perubahan sumber polutannya, perlu dilakukan pengecekan jumlah peningkatan lalu lintas kendaraan di wilayah Jabodetabek dalam beberapa hari terakhir.

Langit biru terlihat dari kawasan Kota Tua Jakarta, Rabu (8/4/2020). Sepinya aktivitas warga Ibu Kota karena pembatasan sosial membuat langit Jakarta  cerah dengan tingkat polusi yang rendah.KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMO Langit biru terlihat dari kawasan Kota Tua Jakarta, Rabu (8/4/2020). Sepinya aktivitas warga Ibu Kota karena pembatasan sosial membuat langit Jakarta cerah dengan tingkat polusi yang rendah.

Kendati demikian, kata Indra, melihat peningkatan kemacetan di jalanan Jabodetabek dalam beberapa hari terakhir sejak diberlakukan new normal dalam masa transisi, jelas menunjukkan adanya penambahan jumlah kendaraan.

"Selanjutnya itu akan meningkatkan konsentrasi polutan di udara atau menurunkan kualitas udara di Jakarta dan sekitarnya," jelasnya.

Curah hujan yang masih tinggi di wilayah Jakarta dan sekitarnya pada awal tahun 2020, jelas Indra, memberi dampak pada penurunan konsentrasi polutan di udara.

Baca juga: Polusi Udara Lebih Mengancam Dunia Dibanding Corona, Ini Alasannya

"Sehingga kualitas udara pada periode tersebut relatif baik," kata dia.

Sebaliknya, sejak akhir Mei 2020 hingga saat ini, sebagian wilayah Jakarta sudah memasuki musim kemarau.

Kondisi ini, kata Indra, berimplikasi pada terakumulasinya polutan di udara pada Jakarta.

"Kondisi tersebut memperlihatkan kualitas udara di Jabodetabek menurun pada awal Juni dibandingkan beberapa beberapa minggu yang lalu adalah akibat dari faktor diatas," ungkapnya.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.